Buku dengan judul “Psychology of Personality- Islamic Perspective” karya dari Amber Haque ini secara umum berisi tentang bagaimana pandangan islam terhadap kajian dalam psikologi kepribadian. Penulis berusaha untuk mengklarifikasi dan membandingkan konsep yang selama ini dirasa membingungkan dalam dunia psikologi kepribadian barat dalam memahami manusia, yang memisahkan antara kajian psikologi terhadap konsep agama dan jiwa. Padahal, jiwa sendiri merupakan objek pertama yang krusiald dan penting dalam studi psikologi. Dalam buku ini, pembahasan mengenai prespektif islam dijabarkan berdasarkan pemikiran penulis serta konsep-konsep yang telah dikaji oleh para ilmuan muslim sebelumnya.
PART 1
Pada bagian 1 berdasarkan kajian antropologi kosmik dan hakikat manusia, ditegaskan bahwa pemberian jiwa dari Tuhan kepada manusia telah membentuk kecenderungan bawaan tertentu dalam diri manusia, dan tingkah laku yang telihat merupakan hasil dari interaksi antara bawaan (fitrahnya) dan lingkungannya. Melalui tulisan mengenai “human natural disposition” atau watak alamiah manusia ini, Yasien Mohamed menjelaskan konsep mengenai fitrah berdasarkan pada dimensi bahasa, agama, dualistik, dan pre-eksistensial. Istilah tentang fitrah ini, telah ada dalam tradisi kenabian yang otentik dimana dinyatakan bahwa pada dasarnya setiap manusia lahir dalam keadaan yang fitrah, dalam keadaan beriman serta keyakinan yang suci, dan kebaikan, yang kemudian dari pengaruh lingkungan sosialnya, yaitu pertama kali oleh keluargalah yang menyebabkan dan bmerubah kemurniannya tersebut. Penulis mengacu pada ilmuan klasik seperi Ibn Taymiyyah dan Isfahani, maupun ilmuan modern, untuk mencukung pandangan bahwa fitrah merupakan suatu konsep yang positif, yang merupakan hakikat manusia untuk meyakini dan beribadah kepada Tuhan.
Kontribusi kedua (bab 2) oleh Mohamad Yasin, yaitu mengenai konsep klasik manusia dan hubungannya sebagai kesatuan didiskusikan berdasarkan pandangan dari Ikhwan al-Safa, Miskawayh, Isfahani, dan al-Gazali , bahwa manusia merupankan bagian kecil (mikro kosmos) dari alam semesta, dan sebagai dunia kecil dalam dirinya sendiri. Meskipun mereka memiliki pendekatan cara yang berbeda, namun mereka memiliki ketertarikan yang sama pada manusia dan alam, bahwa keduanya berasal dari unsur yang sama. Perkembangan manusia, status hubungannya dengan hewan dunia dan para malaikat, dan tujuan dalam penciptaannya juga dibahas. Makna implisit pada analogi manusia sebagai bagian dari dunia merupakan keyakinan bahwa secara implisit dalam analogi ini manusia sebagai mikrokosmos, yang percaya bahwa sejak perenungan realitas kosmik mengungkapkan beberapa refleksi pada ilahi, refleksi pada diri sebagai mikro kosmos (bagian dari dunia) juga akan mengarah pada pengetahuan yang komprehensif dan penghormatan tentang Tuhan.
Pada bab 3, Malik Badri menjelaskan mengenai kritikan islam terhadap penjelasan psikologi sekuler mengenai hakikat manusia. Penulis menjelaskan mengenai ketidakmampuan studi psikoanalisis, behavioral, dan neuropsikoatri, dalam menangani bagian berpikir kognitif (akal) dan perasaan. Yang terpenting, Badri beranggapan bahwa kegagalan ini merupakan hasil yang logis dari upaya keras para psikolog ketika mengklaim psikologi sebagai ilmiah, sehingga mengabaikan kesadaran manusia, proses mental, jiwa, dan esensi spiritual mereka. Dia menekankan bahwa memang telah terjadi pergeseran penelitian, sehingga proses dalam kognitif sekarang dipelajari dalam psikologi kognitif. Namun, psikologi kognitif modern terjatuh pada visi spiritual umat manusia karena masih terobsesi dengan model yang ilmiah ,yang kemudian membatasi dirinya pada ketika kajian yaitu psikologi, biologi, dan aspek sosial budaya, dan mengabaikan komponen spiritual meski meningkatnya bukti ilmiah yang bertentangan apabila perannya dalam kehidupan manusia. Dia berpendapat bahwa kemajuan nyata dalam psikologi akan berhasil hanya ketika konsep tentang jiwa dibawa kembali dalam lembaran psikologi, jika tidak maka psikologi akan menjadi tidak efisien dan membingungkan. Badri mengutip pekerjaan dari John Eccles, yang sebelumnya memenangkan Nobel untuk penelitiannya pada sistem saraf manusia, menegaskan bahwa sistem saraf hanya dapat dijelaskan secara utuh dengan mengadakan kesadaran jiwa atau dalam istilah Eccles “sebuah kesadaran pikiran”. Badri menyebutkan ilmuan lain, Joseph Pearce, yang menampilkan bahwa hati manusia berkembang dengan adanya tatanaan kekuatan yang lebih tinggi (jiwa): Penelitiannya mengindikasikan bahwa penerima donor organ menunjukkan perubahan dalam tingkah laku mereka seperti perilaku orang yang mendonorkan organ tersebut. Badri lebih lanjut menerangi tentang struktur dan aspek lain dari bahasa yanng menentukan cara manusia dalam menvisualisaskan dunia. Mendiskusikan hasil dalam psikologi kognitif, Badri menekankan bahwa jika faktor keyakinan spiritual ditambahi, disiplin ilmu akan memiliki perubahan besar dalam penyembuhan dan pemurnian jiwa manusia.
Pergeseran dari kritikan terhadap gagasan psikologi sekuler mengenai hakikat manusia, bagian bab dari Mustapha Achoui berusaha untuk mengembangkan pemahaman mengenai hakikat manusia berdasarkan perspektif islam, yang berkebalikan dari perspektif yang ditemukan dalam pendekatan non-agama dalam psikologi. Dia pertama menekankan kebutuhan pada disiplin psikologi untuk mengakui tiga dimensi manusia; spiritual, psikologis, dan tingkah laku. Lalu Achoui menjelaskan dalam bentuk pertanyaan mengenai perbedaan antara perspektif yang mendominasi pada paradigma psikologi terkini, dan keyakinan islam. Beberapa pertanyaan yag termuat dalam tulisannya yaitu: Apakah manusia itu bebas, ataukah keberadaannya ditentukan? Apakah manusia pada dasarnya baik ataukah buruk? Apakah individu memiliki perbedaan kepribadian, ataukah ada kesatuan dalam hakikat manusia (fitrah) dan kepribadiannya? Para pembaca dibiarkan dalam memamahi secara lebih baik dari kedua kesamaan dan perbedaan penting tersebut.
Bagian bab selanjutnya dari Mahmoud Dhaouadi menjelaskan kesadaran dari keterhubungan antara psikologi dan sosiologi pada diskusi dari tulisan Ibnu Khaldun pada fitrah manusia. Dhaouadi menjelaskan sebuah aspek dari pemikiran Ibnu Khaldun yang kerapkali diabaikan atau tidak diakui. Meskipun mendekatan positivistik Ibnu Khaldun dalam mempelajari manusia, masyarakat, dan budaya, Ibnu Khaldun telah berbicara banyak mengenai pentingnya pembentukan kepribadian masyarakat yang kemudian menghasilkan pekerjaan yang produktif. Dhaouadi mengidentifikasikan tiga tipe sifat alami manusia yang didiskusikan oleh Ibnu Khaldun, dan cacatan mengenai jenis kepribadian yang menyebabkan kebangkitan peradaban muslim Arab serta sebab kemunduran dan kehancurannya. Penekanan khusus yang diberikan pada ketertarikan Ibnu Khaldun pada sifat dasar dari muslim Bedouin dan hubungannya, yaitu mengenai fitrah. Pembahasan bab terakhir menurut pandangan penulis bahwa hakikat atau fitrah manusia pada dasarnya baik, dan kealamian itu tidaklah menetap, namun dapat berubah berdasarkan pengaruh dari lingkungan eksternal.
PART II
Bagian kedua bab pertama mendiskusikan mengenai konsep jiwa. Essai dari Fazlur Rahman mengenalkan devinisi dari jiwa, sebagaimana yang diberikan oleh Aristoteles dan kedua filosof muslim sebelumnya, yaitu Al-Farabi dan Ibnu Sina, yang kemudian mewarisi tradisi filosofis “Hellenism” kemudian. Filosof ini berpendapat terutama atas pertanyaan apakah jiwa merupakan sebuah”entelesi” dari tubuh manusia. Mulla Sadra, yang menerima pemikiran dari Aristoteles mengenai jiwa sebagian bagian entelesi dari tubuh, menolak pandangan Ibnu Sina dalam berbagai konten. Bagi Mulla Sadra, hubungan antara jiwa dan tubuh itu tidak seperti bentuk fisik biasanya, namun jiwa bekerja pada materi melalui perantaraan bentuk lain yang lebih rendah atau daya, seperti misalnya daya pada nafsu, selera makan, dan proses pencernaan, dan bukan organ fisik seperti tangan, hati, ataupun perut. Jiwa itu secara fisik pada dasarnya menyatu dengan tubuh, namun pada pertahanan jiwa, ia membutuhkan tubuh sebagai sarana atau media untuk mendapatkan eksistensi kesempurnaan. Sandra menolak ide perpindahan jiwa, seperti sudut pandang setelah kematian, jiwa seseorang meninggalkan tubuhnya dalam lautan keadaan kekal.
Dalam “Nature of Man And The Psychology of Human Soul” Naquib al-Attas memberikan sebuah perspektif klasik mengenai fitrah manusia berdasarkan dimensi dualistik antara tubuh dan jiwa. Esensi permanen terakhir dari manusia yaitu kewajiban untuk mengetahui dan dimana mereka menemukan dan memahami diri mereka sendiri dan mengetahui siapa Penciptanya. Penulis memberikan deskripsi yang cukup rinci mengenai pembelajaran psikologi, yang mencakup aspek internal dan eksternal, kemampuan dari jiwa, dan abstraksi yang masuk akal untuk dipahami, yang merupakan proses epistimologis atas penyelesaian terhadap kesempurnaan. Perhatian istimewa yang diberikan terhadap hakikat dan fungsi akal yaitu dapat tercapainya pengetahuan pada level yang lebih tinggi.
Berbalik dari analisis konseptual mengenai jiwa pada dua bab sebelumnya, sisa bab pada bagian dua berfokus mengenai pembahasan isu seputar kesadaran diri, bimbingan diri, serta peran dari hati manusia dalam perubahan manusia. Pada tradisi islam, konsep tentang hati (qalb) dikenal sebagai dimensi yang penting dalam psikologi manusia. Analisis terperinci pada kajian ini tercakup dalam bahasan bab 4 oleh Manzurul Huq. Dia menekanlan bahwa meskipun psikologi kehilangan pentingnya konsep mental dengan munculnya behaviorisme, pengaruh terkini dari psikologi kognitif membawa mereka kembali kepada lembaran pada psikologi barat. Penulis berpendapat bahwa meskipun metode ilmiah terkini pada psikologi dapat bertindak sebagai alat untuk mencari kepastian aspek dari kepribadian manusia, mereka tidak dapat mengungkap basis spiritual dari eksistensi manusia dan hal tersebut tidak akan dapat memberi pengetahuan dan arah sebagai petunjuk bagai diri manusia yang sebenarnya.
PART III
Pada bagian 3 menjabarkan tentang tipe kepribadian serta motivasi berdasarkan pada perspektif islam. Ketika teori Barat menekankan tentang naluri, sebagai penggerak dan menjadi alat pada motivasi manusia, Pemahaman islam mendasari teori motivasi tersebut atas keterhubungan antara manusia dengan Tuhan. Dengan kata lain, bagi para saintis islam bahwa motivasi terdiri atas dimensi psikologis dan spiritual. Pada bab 11, Shafiq Fallah Alawneh menulis tentang motivasi manusia berdasarkan pada perspektif islam. Penulis mendiskusiakan mengenai pentinganya memahami motivasi sebagai petunjuk dalam mmenjelaskan tingkah laku manusia. Menurutnya, motivasi dalam islam diperoleh dari pengetahuan terhadap asal dari manusia , dan hubungan antara Tuhan dengan manusia lainnya, serta lingkungan disekitar manusia.
Pada bab 12, Muhammad Uthman Najati menjelaskan mengenai pentinganya dorongan dalam memotivasi kepribadian manusia. Ketika psikologi modern mengambil pendekatan negatif dan mekanis sebagai pendorong, seperti yang dikemukakan oleh Freud, Najati justru lebih menekankan interpretasi positif yang dikemukakan oleh Maslow dan lainnya. Dalam tulisannya, Najati menawarkan keaslian interpretasi yang berdasarkan pada referensi dari al-qur’an yang menegaskan peran pendorong manusia dimana hatinya untuk mendekat kepada Tuhan.
Rashid Hamid dalam bab 13 menyajikan sesuatu yang disebutnya dengan “konsep fundamental dan esensial”, termasuk di dalamnya mengenai konsep kepribadian menurut islam. Dia menggambarkan karakteristik universal yang ditampilkan oleh manusia maupun kualitas keunikan yang spesifik pada diri individu. Islam mengajarkan manusia dengan adanya ketetapan ilahi sebagai pendorong untuk pengembangan diri. Dengan adanya berbagai macam kutipan surah dalam bab ini untuk menguraikan konsep kepribadian dalam islam. Dia menuliskan bahwa jika perkembangan rohani itu terjadi, perkataan Tuhan haruslah diperthatikan dan psikologi harus menjalani tajdid sendiri sampai menuju pada pemurniannya.

1 Komentar