A. Sinopsis Film
Freedom Writers merupakan film yang diangkat dari kisah nyata perjuangan seorang guru di wilayah New Port Beach, Long Beach, California, Amerika Serikat dalam membangkitkan kembali semangat anak-anak didiknya untuk belajar. Dikisahkan, Erin Gruwel (diperankan oleh Hillary Swank), seorang wanita yang berpendidikan tinggi, datang ke Woodrow Wilson High School sebagai guru Bahasa Inggris di kelas 203, di mana terdapat beragam gank ras yang selalu mengelompok, seperti ras kamboja, kulit hitam, latin, dan kulit putih, dan pada saat itu sedang hangat diperbincangkan tentang isu rasisme.
Pada awal kedatangan Mrs.Gruwell, para murid sama sekali tidak tertarik dengan kehadirannya. Kabanyakan dari mereka tidak senang terhadap orang berkulit putih. Mereka menganggap bahwa Erin tidak mengerti apapun tentang kehidupan mereka yang keras, kehidupan yang selalu berada di bawah bayang-bayang perang dan kekerasan. Bagi mereka, kehidupan adalah bagaimana caranya mereka selamat dari kekerasan.
Banyak tantangan yang harus dihadapi oleh Mrs.Gruwell, baik dari pihak sekolah yang rasis, hingga pihak suami dan ayahnya. Diskriminasi yang dilakukan oleh pihak sekolah, seperti pemisahan kelas, serta perbedaan fasilitas yang terlihat antara ras kulit putih dan ras di luar itu membuat Gruwell miris. Agar diterima oleh anak-anak didiknya, Mrs.Gruwell mencari cara untuk melakukan pendekatan dan metode pengajaran yang tepat.
Singkat cerita, akhirnya, keteguhan Mrs.Gruwell dalam mendidik murid-muridnya berbuah hasil. Anak-anak tersebut, yang semula benci satu sama lain karena perbedaan ras, akhirnya menjadi berteman dan menghapus sekat-sekat ras di antara mereka. Jurnal harian yang telah mereka tulis, diketik dan dikumpulkan menjadi satu buku. Mrs.Gruwell menamai kumpulan buku harian murid-muridnya dengan nama The Freedom Writers Diary.
B. Analisis Film Berdasarkan Pendekatan Konstruktivis Sosial
Pendekatan konstruktivis sosial adalah mendekatan yang menekankan pada konteks sosial dari pembelajaran, dan bahwa pengetahuan itu dibangun dan dikonstruksikan secara bersama (mutual). Menurut penjelasan yang dikutip dari buku Psikologi Pendidikan oleh Santrock, karakteristik dari kelas konstruktivis sosial antara lain :
a. Orientasi tujuan penting dari kelas adalah konstruksi bermakna kolaboratif
b. Guru memantau perspektif, pemikiran, dan perasaan murid
c. Guru dan murid saling belajar dan mengajar
d. Interaksi sosial mendominasi kelas
e. Kurikulum dan isi fisik kelas mencerminkan minat dan dipengaruhi oleh kultur mereka.
Berdasarkan karakteristik tersebut, beberapa kondisi yag dapat dianalisis dalam film Freedom Writers antara lain :
a. Orientasi tujuan penting dari kelas adalah konstruksi bermakna kolaboratif.
Di dalam film, dapat dilihat bahwa kondisi kelas 203, dimana muridnya terdiri dari beragam gank ras yang selalu mengelompok, seperti ras kamboja, kulit hitam, latin, dan kulit putih. Mrs. Gruwell kemudian membuat sebuah game terkait dengan hobi dan minat yang disukai dan diketahui dalam keseharian murid dengan membuat garis dan membagi sejumlah muridnya menjadi dua kelompok, yang masing-masing kelompok menghasilkan anggota yang telah terdiri dari percampuran ras, tidak seperti sebelumnya dimana mereka hanya bergaul dan berkumpul dengan sesamanya. Disini, Mrs. Gruwell memiliki tujuan untuk mencoba menggabungkan dan mendekatkan mereka satu sama lain agar dapat terbentuk kolaborasi dan suasana kelas dan suasana belajar yang menyenangkan dan kondusif, dan akhirnya strateginya itupun akhirnya berhasil.
b. Guru memantau perspektif, pemikiran, dan perasaan murid
Setelah hari pertama masuk kelas, Mrs.Gruwell dengan cepat belajar bahwa murid-muridnya memiliki konflik dari berbagai sisi kehidupan yang beragam. Iapun kemudian mencoba untuk mengganti sistem pembelajaran di kelasnya dan memberikan tugas menulis jurnal harian, terkait apapun yang dialami, dan dirasakan oleh muridnya setiap hari. Disinilah kemudian ia mulai memahami kondisi dan masalah yang dialami oleh muridnya. Selain itu, ketika salah satu muridnya terlihat jarang masuk kelas dan mendapat nilai yang jelek, Mrs. Gruwell mencoba mendekati muridnya dan mengajaknya brbicara empat mata menanyakan apa masalah yang melatarbelakangi perubahan muridnya. Ia menasehati sekaligus memotivasi muridnya agar lebih optimis menjalani hidupnya. Potongan cerita lain, ketika Eva merasa frustasi memikirkan perdebatan batinnya tentang apa tindakan terbaik yang harus dilakukannya dalam sidang teman satu rasnya dalam kasus penembakan di sebuah minimarket, Mrs. Gruwell terlihat memberikan nasehat dan mendengarkan keluhan Eva dengan senang hati, bahwa ia harus dapat berlaku jujur.
c. Guru dan murid saling belajar dan mengajar
Untuk menambah motivasi belajar dan wawasan muridnya, Mrs.Gruwell mendatangkan Mrs. Miep Gies, seorang wanita penolong Anne Frank, anak Yahudi yang hidup pada zaman Hitler dan holocaust-nya. Ia mendatangkan Mrs. Miep Gies untuk berbagi cerita kepada anak-anak didiknya tentang sebuah bencana yang terjadi karena rasisme, serta usaha-usaha Gruwell lainnya yang mendapat tantangan dari pihak-pihak sekolah.
d. Interaksi sosial mendominasi kelas.
Hal ini dapat terlihat dari perpaduan susunan duduk murid yang membuat mereka akhirnya dapat saling berbaur, bergaul, dan berbicara satu sama lain dengan teman di luar ras mereka sendiri. Selain itu, cara mengajar Mrs. Gruwell yang tidak satu arah saja dengan murid-muridnya, mengajak muridnya juga untuk berbicara dan berpendapat di depan kelas.
e. Kurikulum dan isi fisik kelas mencerminkan minat dan dipengaruhi oleh kultur mereka.
Metode konstruktivis yang digunakan oleh Mrs. Gruwell dalam pembelajaran di kelasnya yaitu metode pelatihan kognitif, dimana ia memperluas danmendukung pemahaman muridnya dengan menggunakan keahlian kultur.
Mrs.Gruwell paham dengan kondisi anak-anak didiknya yang selalu berkelompok dengan ras mereka masing-masing dan memiliki latar belakang yang berbeda. Akhirnya, ia menemukan cara untuk “menjangkau” kehidupan mereka dengan memberikan mereka buku, dan meminta mereka mengisinya dengan jurnal harian. Bahkan, ketika sekolah mendiskriminasikan fasilitas buku, Gruwell memberikan buku baru tentang kehidupan gank yang lekat dengan keseharian mereka. Sejak membaca jurnal harian yang bercerita tentang kehidupan mereka yang keras, Gruwell semakin bersemangat untuk mengubah kehidupan anak-anak didiknya, serta menghapus batas tak terlihat yang secara budaya memisahkan mereka dengan cara-cara yang mengagumkan. Selain itu, ketika Gruwell mendatangkan Mrs. Miep Gies, seorang wanita penolong Anne Frank, anak Yahudi yang hidup pada zaman Hitler dan holocaust-nya. Ia mendatangkan Mrs. Miep Gies untuk berbagi cerita kepada anak-anak didiknya tentang sebuah bencana yang terjadi karena rasisme.
0 Komentar