STUDI KASUS: Hubungan Keluarga dan Gangguan Kepribadian Narsistik



I. IDENTITAS
A.    Identitas Subjek
Nama               : S
Jenis Kelamin  : Perempuan
Umur               : 30 tahun
Agama             : Islam
Pendidikan      : S2 Akuntansi
Pekerjaan         : Mahasiswa master (S2)
Status              : Belum menikah
Anak Ke          : 1 dari 3 bersaudara
Alamat             : Gowok, Yogyakarta

B.     Identitas Orang Tua
Nama ayah      : SI
Usia                 : 58
Pendidikan      : SMP
Agama             : Islam
Pekerjaan         : Tidak bekerja
Keadaan          : Cerai dengan istri, tinggal di daerah yang berbeda
Alamat            : Jawa Timur

Nama Ibu        : RH
Usia                 : 58
Pendidikan      : D2
Agama             : Islam
Pekerjaan         : PNS guru
Keadaan          : Cerai dari suami, tinggal dengan anak-anak
Alamat            : Bangka Belitung


C.    Alloanamnesa didapat dari:
1.      Nama              : NK
Jenis Kelamin       : Perempuan
Status                    : Mahasiswa
Pekerjaan              : mahasiswa
Pendidikan            : S1
Usia                       : 24
Hub.dg.subjek       : Teman sekamar


II. PERMASALAHAN
Subjek (S) merupakan seorang perempuan berusia 30 tahun dengan status dirinya belum menikah, dan saat ini masih menjalani studi S2 nya di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Bentuk problem yang dialami subjek adalah berfokus pada adanya gejala kepribadian narsistik, yang mengarah pada permasalahan emosi berupa kurangnya rasa empati diri saat berbicara dengan orang lain, senang mendominasi, perasaan yang begitu terobsesi dan berambisi terhadap kesuksesan dan begitu ingin dikagumi, serta keterhubungan antara subjek dengan orang tua dan latar belakang keluarga yang menjadi salah satu yang mendasari penyebab dari problem yang dialami oleh subjek.


III. DASAR TEORI
A.    Devinisi narsistik
Narsistik dalam kamus lengkap Bahasa Inggris-Indonesia berasal dari kata narcissus yang berarti narsis (Poerwadarminto dan Wojowasito,1980). Individu dengan gangguan kepribadian narsistik mempunyai maksud kepentingan yang tidak realistis, berlebihan, dimana sifat ini dikenal dengan istilah grandiosity (kebesaran diri). Nama gangguan ini berasal dari legenda Yunani Nascissus, seorang anak muda yang merasa jatuh cinta dengan bayangan dirinya sendiri dari kolam.


Kepribadian narsistik adalah Sebuah gangguan kepribadian yang ditandai oleh selft-image yang begitu tinggi serta tuntutan akan perhatian dan pemujaan (Jeffrey dkk., 2007: 283). Individu dengan gangguan kepribadian narsistik memiliki perasaan yang kuat bahwa dirinya adalah orang yang penting serta merupakan individu yang unik, merasa spesial dan berharap mendapatkan perlakuan yang khusus (Fauziah dan Widuri, 2005 : 159).
Sadarjoen (2003) yang mengutip Mitchell dalam bukunya, The Natural Limitations of Youth, ada 5 penyebab kemunculan kepribadian narsis pada remaja, yaitu adanya kecenderungan mengharapkan perlakuan khusus, kurang bisa berempati dengan orang lain, sulit memberikan kasih sayang, belum punya control moral yang kuat, dan kurang rasional dalam berfikir (www.duniapsikologi.com9/3/2013).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku narsistik adalah perilaku yang ditandai dengan kecenderungan untuk memandang dirinya dengan cara yang berlebihan, senang sekali menyombongkan dirinya dan berharap orang lain memberikan pujian selain itu tertanam dalam dirinya perasaan paling mampu, paling unik dan merasa khusus dibandingkan orang lain.

B.     Karakteristik perilaku narsistik
Menurut Papu (2002) yang mengutip DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders – Fourth Edition) orang yang narsistik akan mengalami gangguan kepribadian, gangguan kepribadian yang dimaksud adalah gangguan kepribadian narsisistik atau narcissistic personality disorder. Gangguan kepribadian ini ditandai dengan ciri-ciri berupa perasaan superior bahwa dirinya adalah paling penting, paling mampu, paling unik, sangat eksesif untuk dikagumi dan disanjung, kurang memiliki empati, angkuh dan selalu merasa bahwa dirinya layak untuk diperlakukan berbeda dengan orang lain.
Menurut DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders – Fourth Edition) individu dapat dianggap mengalami gangguan kepribadian narsissistik jika ia sekurang-kurangnya memiliki 5 dari 9 ciri kepribadian sebagai berikut:
1.      Merasa diri paling hebat
Jika seseorang merasa dirinya paling hebat penting (bedakan dengan orang yang benar-benar hebat atau penting) maka ia tidak akan malu-malu untuk memamerkan apa saja yang bisa memperkuat citranya tersebut.
2.      Seringkali memiliki rasa iri pada orang lain atau menganggap bahwa orang lain iri kepadanya.
Apabila seseorang sering mempunyai sifat yang tidak senang akan rizki dan nikmat yang didapat oleh orang lain dan cenderung berusaha untuk menyainginya, tetapi sebaliknya menanggapi orang lain yang iri terhadapnya.
3.      Fantasi kesuksesan & kepintaran.
Orang yang narsis biasanya dipenuhi dengan fantasi tentang kesuksesan, kekuasaan, kepintaran, kecantikan atau cinta sejati.
4.      Sangat ingin dikagumi.
Pada umumnya seseorang yang mengambil jalan pintas untuk mendapatkan apa yang diingikan yang tujuannya adalah dia yang sangat terobsesi untuk dikagumi oleh orang lain. Oleh karena itu, mereka berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan “simbol-simbol” yang dianggap menjadi sumber kekaguman, termasuk gelar akademik.
5.      Kurang empati.
Seseorang yang mempunyai kepribadian narsis kurang memiliki empati dalam hal apapun, sebab dia hanya memikirkan perasaanya sendiri jika mereka memilikinya, maka mereka pasti tahu bagaimana perasaan seseorang yang dia sakiti perasaanya.
6.      Merasa layak memperoleh keistimewaan.
Setiap individu yang mengalami gangguan kepribadian narsisistik merasa bahwa dirinya berhak untuk mendapatkan keistimewaan.
7.      Angkuh dan sensitif terhadap kritik.
Pada umumnya, para penyandang gelar palsu sangat marah dan benci pada orang-orang yang mempertanyakan hal-hal yang menyangkut gelar mereka.
8.      Kepercayaan diri yang semu.
Jika dilihat lebih jauh, maka rata-rata individu yang mengambil jalan pintas dalam mendapatkan sesuatu yang diinginkan seringkali disebabkan karena rasa percaya dirinya yang semu.
9.      Yakin bahwa dirinya khusus, unik dan dapat dimengerti oleh orang-orang tertentu.
Orang yang narsis menganggap bahwa dirinya dilahirkan ditakdirkan menjadi orang yang khusus, unik dan dapat dimengerti oleh orang tertentu (nurawlia.wordpress.com19/3/2013).

C.    Faktor penyebab
Terbentuknya narsisme merupakan suatu hal yang menarik dan mendorong beberapa analisis teoritis yang penting dengan melihat asal mula dan perkembangannya. Pendekatan tradisional psikodinamika Freud melihat narsisme sebagai kegagalan untuk mengalami kemajuan melewati tingkat yang lebih rendah dalam perkembangan psikoseksualnya. Konseptualisasi terbaru lebih banyak terjadi pada relasi objek yang terfokus pada pengaruh gangguan dalam hubungan antara orang tua dan anak dalam mengembangkan jati diri anak. Setiap anak membutuhkan orang tua untuk memberikan ketenangan hati dan respon positif dalam menghargai. Tanpa hal tersebut, anak akan membentuk rasa tidak aman. Perasaan ketidaknyamanan ini diungkapkan, secara berlawanan, dalam arti yang luas tentang kepentingan diri sendiri yang dapat dimengerti sebagai usaha seseorang untuk mengembalikan apa saja yang hilang di masa awal kehidupannya (Kohut, 1966,1971).
Kurangnya fondasi yang kokoh dalam diri yang sehat, individu tersebut kemudian mengembangkan jati diri yang salah dengan sulit didasari pada omongan yang berlebihan dan pikiran yang tidak realistis mengenai kemampuan mereka dan sifat disenangi (Masterson & Klein, 1989). 

IV. TUJUAN
Studi kasus ini dilakukan bertujuan untuk mengungkapkan, mengkaji lebih mendalam permasalahan subjek terkait gejala narsistik yang dialami oleh subjek, mencoba menggali latar belakang apa saja yang mempengaruhi munculnya permasalahan tersebut serta gejala yang terlihat. Selanjutnya, tujuan dari penggalian data ini adalah untuk mengetahui bagaimana aspek kognitif, afeksi, sosial, dan lainnya yang ikut mempengaruhi dan dipengaruhi oleh problem narsistik yang dialami oleh subjek.


V. PROSES PENGUMPULAN DATA
A. Observasi
Observasi merupakan salah satu bentuk metode pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis dan sengaja melalui pengamatan dan pencatatan terhadap gejala objek yang diteliti. Secara sempit, observasi dapat diartikan sebagai pengamatan secara langsung terhadap gejala yang diselidiki, baik dalam situasi ilmiah maupun situasi buatan. Secara luas, observasi dapat diartikan sebagai pengamatan yang dilakukan secara tidak langsung dengan menggunakan alat-alat bantu yang sudah dipersiapkan sebelumnya maupun yang diadakan khusus untuk keperluan tersebut. Dengan demikian, secara umum observasi dapat didevinisikan sebagai kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam suatu fenomena (Fitria, 2014).
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan 2 jenis observasi, yaitu: observasi partisipan, yaitu salah satu jenis observasi yang dalam hal ini peneliti sebagai observer turut serta mengambil bagian dalam kehidupan subjek yang diobservasi. Tujuan menggunakan jenis observasi ini adalah untuk mengeksplorasi dan menyelidiki lebih mendalam perilaku subjek berkaitan dengan masalah narsistik dan latar belakang serta lingkungan subjek. Selain itu, digunakan jenis wawancara non-partisipan, yaitu observer hanya mengamati tanpa langsung turut mengambil bagian dalam kegiatan subjek yang diobservasi. Ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat perilaku natural subjek tanpa adanya perasaan diobservasi oleh observer.
Kemudian, strategi pencatatan data observasi yang digunakan adalah narrative types, dimana pengumpulan dan pencatatan data oleh observer dilakukan apa adanya terhadap S (subjek utama/autoanamnesa) maupun NK yang merupakan subjek yang terkait dengan subjek utama (alloanamnesa), sesuai dengan kejadian dan urutan kejadian sebagaimana yang terjadi pada situasi nyata. Metode pencatatan data dilakukan dengan strategi narrative types khususnya jenis metode pencatatan data anecdotal records, dimana peneliti melaporkan apapun yang terjadi dan penting bagi pengamat kapan saja perilaku terjadi, pada orang yang berbeda dan waktu yang berbeda. Metode ini tidak membutuhkan spesifikasi waktu tertentu tetapi dapat dilakukan kapanpun ketika perilaku yang penting/menarik muncul, tidak tergantung pada setting atau lingkungan tertentu dan dapat dilakukan dimanapun. (Fitria, 2014).

B. Wawancara
Wawancara adalah suatu proses yang melibatkan dua orang atau lebih dengan berhadap-hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka/wajah orang yang lain dan mendengarkan yang diterima dengan telinganya sendiri. Wawancara merupakan sebuah metode tanya jawab yang digunakan untuk menyelidiki pengalaman, perasaan, serta motif dari subjek yang diteliti. Wawancara juga dapat didefinisikan sebagai perbincangan yang menjadi sarana untuk mendapatkan informasi dan bertujuan untuk mendapatkan penjelasan atau pemahaman tertentu tentang seseorang dalam hal tertentu (Fitria, 2014).
Penelitian dalam studi kasus ini menggunakan metode penggalian data berupa wawancara dengan bentuk tatap muka secara langsung secara individual. Pelaksanaan wawancara pada studi kasus ini menggunakan jenis wawancara semi terstruktur, yaitu proses wawancara dengan percakapan yang diarahkan untuk menggali topik-topik yang telah ditetapkan sebelumnya oleh peneliti terhadap S (subjek utama/autoanamnesa) dan subjek NK (allonamnesa), dan pertanyaan baru yang menyertainya merupakan bentuk pendalaman dari topik yang diambil.

PANDUAN PENGUMPULAN DATA
No.
ASPEK & PERTANYAAN PENELITIAN
METODE PENGUMPULAN DATA DAN SUMBER DATA
LATAR BELAKANG RIWAYAT SUBJEK (Masa Lalu Subjek)
1.
Bisa anda ceritakan tentang kehidupan masa kecil anda? Bagian apa yang paling menyenangkan? Apakah ada yang tidak menyenangkan? Bisa anda ceritakan?
Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa) & subjek 2 (alloanamnesa)
2.
Bagaimana bentuk pola pengasuhan orang tua anda kepada anda?
Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
3.
Seberapa dekat hubungan anda dengan orangtua?
Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
4.
Ketika memiliki masalah, apakah anda sering curhat/mengutarakan/bercerita kepada orantua anda?
Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
5.
Bagaimana respon orangtua anda saat anda ingin didengarkan?
Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
6.
Apakah orangtua anda terlalu memanjakan anda?
Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
GEJALA
1.
Bagaimana perasaan anda ketika mendapat pujian dari oranglain? Apakah anda merasa sangat senang?

Observasi & Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
2.
Apakah anda begitu sangat ingin dikagumi oleh orang lain?
Observasi & Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
3.
Bagaimana anda menilai diri anda sendiri? Apakah anda menganggap diri anda begitu spesial/unik daripada orang lain?
Observasi & Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
4.
Saat orang lain memberi pendapat/menasehati/mengkritik anda, apakah anda bersedia mendengarkan dan mengikutinya?
Observasi & Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
5.
Apakah anda begitu ingin pendapat anda didengarkan oleh orang lain?
Observasi & Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)  & subjek 2
6.
Ketika berhadapan dengan sesuatu, apakah anda lebih cenderung ingin mengutamakan kepentingan orang lain terlebih dulu, ataukah diri anda sendiri dulu?
Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa) & subjek 2 (alloanamnesa)
7.
Apa bentuk orientasi anda dalam hidup? Apakah anda terobsesi terhadap sesuatu? Seperti apa?
Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
8.
Ketika melihat orang lain lebih baik/memiliki sesuatu yang lebih baik daripada anda, bagaimana perasaan anda? Apakah anda merasa begitu iri/cemburu?
Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)



PERLAKUAN LINGKUNGAN
1.
Apakah ketika waktu senggang, anda lebih senang berkumpul dengan teman, ataukah menyendiri?
Observasi & Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
2.
Menurut anda, apakah orang-orang di sekitar anda menyukai anda? Apakah anda merasa ada banyak orang yang tidak menyukai perilaku anda?
Observasi & Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa
3.
Bagaimana cara anda mengatasi ketika ada orang yang tidak senang dengan perilaku anda?
Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
4.
Apakah anda punya teman dekat? Seberapa banyak?
Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
5.
Seperti apa biasanya tanggapan orang lain tehadap sikap nasris dan suka mendominasi yang anda punya? Apa mereka merasa nyaman saja dengan sikap anda?
Observasi & Wawancara dengan subjek 2 (alloanamnesa)


PROSES PENGUMPULAN DATA
No.
Tanggal/Jam
Kegiatan Pengumpulan Data
Strategi
1.
10 Desember 2014/20.20 – 21.15 WIB
Observasi subjek 1 (autoanamnesa)
Observasi non-partisipan
2.
11Desember 2014/19.20 – 22.05 WIB
Observasi subjek 1 (autoanamnesa)
Observasi partisipan
3.
16  Desember 2014/19.00- 20.15 WIB
Wawancara subjek 1 (autoanamnesa)
Wawancara semi terstruktur
4.
18 Desember 2014/19.00-20.15 WIB
Wawancara Subjek 2 (alloanamnesa)
Wawancara semi terstruktur
      5. 
19 Desember 2014/21.00-21.30 WIB
Wawancara subjek 1 (autoanamnesa)
Wawancara semi terstruktur
     6.
24 Desember 2014/  09.00-10.00 WIB
Tes Grafis (BAUM, DAP, HTP)
Pemberian tes dan observasi


C. Tes Grafis (BAUM, DAP, dan HTP)
Selain melakukan observasi dan wawancara, pada studi kasus ini digunakan pula Tes Grafis untuk menggali dan mengumpulkan data serta membuktikan hal yang terkait mengenai kecenderungan perilaku narsistik pada subjek. Dalam penelitian ini, terdapat 3 macam tes grafis yang digunakan, antara lain: tes BAUM, tes DAP, dan tes HTP:

1. Tes BAUM
Penerapan dan penggunaan tes pohon (Tes Baum) pada awalnya digunakan  untuk membantu dalam diagnosis oleh seorang konsultan pemilihan jurusan, Emil Jucher. Tes ini kemudian dikembangkan oleh Charles Koch, yang sekarang dikenal sebagai tes pohon (Baum Test).
Semula instruksinya sederhana, yaitu: “gambarlah, sebagai contoh gambarlah pohon” Dengan instruksi ini, orang bebas untuk menyatakan dirinya dalam berbagai bentuk pohon, apakah dalam bentuk semak belukar, pohon pinus atau pohon-pohon buah-buahan yang rindang maupun bentuk pohon-pohon yang lainnya. Dengan instruksi ini didapatkan gambar pohon yang secara psikologis sangat menarik, tetapi menimbulkan kesukaran untuk menentukan bentuk pernyataan ini secara sistematis. Karena itu dipilih satu tema saja yang berhubungan dengan struktur gaya menulis yang normal dalam grafologi

   2. Tes gambar manusia (DAP)
Tes DAP ini dilakukan setelah subjek selesai mengerjakan tes BAUM. Dengan menggunakan tes DAP ini, hal-hal yang dapat digali dari subjek seperti menurut Levy, dimungkinkan beberapa hal antara lain:
a)    Gambar yang tersebut merupakan proyeksi dari  self concept
b)   Proyeksi dari sikap individu terhadap lingkungan
c)    Proyeksi dari ideal self imagenya
d)   DAP sebagai suatu hasil pengamatan individu terhadap lingkungan.
e)    Sebagai ekspresi pada kebiasaan dalam hidupnya
f)    Ekspresi keadaan emosinya (emotional tone)
g)   Sebagai proyeksi sikap subyek terhadap tester dan situasi tes tersebut
h)   Sebagai ekspresi sikap subyek terhadap kehidupan/ masyarakat pada umumnya
i)     Ekspresi sadar dan ketidak-sadarannya

3. Tes Gambar Rumah (HTP)
Rumah, pohon dan manusia (HTP: house, tree and person) merupakan salah satu tes grafis yang berguna untuk melengkapi tes grafis yang lain, yaitu untuk mengetahui hubungan keluarga. Waktu normal menggambar adalah 10 menit tetapi sebenarnya juga tidak terbatas. Tujuan tes HTP ini adalah untuk mengukur keseluruhan pribadi individu.



VI. HASIL PENGUMPULAN DATA DAN PEMBAHASAN
Pada hasil pengumpulan data yang dilakukannya sebelumnya melalui observasi, wawancara, serta tes grafis secara garis besar akan dibahas sebagai berikut:

A. Sebab
1.  Masa lalu subjek
Berdasarkan hasil wawancara awal, subjek menceritakan sedikit banyak tentang masa lalu dan latar belakang serta problem keluarga yang dialami subjek. Diceritakan, bahwa subjek memiliki keluarga broken home, yaitu dari perceraian orang tua yang terjadi saat subjek masih kecil, ketika kelas 1 SD. Perceraian orang tua subjek terjadi karena masalah dalam rumah tangga, karena ayah subjek yang tidak bekerja dan menjadi pengangguran, sedangkan ibu subjek yang lebih banyak mencari nafkah, dengan profesi sebagai guru PNS untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selain itu,  perbuatan kasar dengan memukul yang seringkali dilakukan oleh ayah subjek terhadap ibu subjek menjadi penyebab selanjutnya dari perceraian yang terjadi. Sampai sekarang, subjek tidak pernah lagi bertemu dengan ayahnya dan mereka sudah berpisah jauh. Ayahnya telah kembali ke daerah asalnya di Jawa Timur, sedangkan subjek dengan ibu serta adiknya tinggal di daerah Sumatera, tepatnya di Pangkalpinang, Bangka Belitung. Pernyataan subjek pada (S1:W1.L19-37) mendasari asumsi tersebut. Selain itu, hubungan terkait kedekatan subjek dengan orang tua subjek juga dapat terlihat dari hasil analisis tes Grafis (tes HTP) yang menyatakan bahwa adanya kecenderungan perasaan broken home keluarga dengan hilangnya sosok dan peran ayah dalam keluarga subjek.

2. Pola asuh
Dari uraian pada (S1:W1.L38-63 dan S1:W2.L82-87), dijelaskan bahwa dari kondisi keluarga yang broken home, subjek kemudian secara langsung tinggal bersama ibunya serta adiknya. Selama masa hidup, subjek hanya dididik dan diasuh oleh ibunya, sehingga menjadikannya begitu dekat dengan sosok ibu. Selama mendidik anaknya, ibu subjek cenderung mendidik dengan cara permisif, membiarkan dan tidak memaksa dan lebih cenderung mengikuti saja perkembangan anaknya, tidak memanjakan, namun masih dengan kontrol dan sikap yang tegas. Dan jika subjek melakukan kesalahan dan bersikap nakal, ibu subjek akan menghukum dalam batas yang sewajarnya, tidak memukul tapi hanya dengan cubitan saja.
Dari kedekatan subjek dengan ibunya, membuat subjek lebih cenderung menjadikan ibunya sebagai sahabat terdekatnya. Ketika sedang ingin curhat, subjek seringkali menceritakan tentang masalahnya kepada ibunya. Ibu subjek dapat mendengar cerita anaknya dengan baik. Ketika subjek membutuhkan saran, ibu subjek cenderung tidak memberikan saran utama, tapi hanya memberikan alternatif terkait dengan solusi yang akan diambil subjek. Dimana subjek lebih disediakan untuk mengambil keputusan berdasarkan dirinya sendiri secara pribadi dan mandiri. Pernyataan ini dapat dilihat dari penjelasan pada (S1:W2. L100-117 dan S1:W2.L34-37).

  B. Gejala
1.      Aspek kognitif
Dalam hal aspek kognisi, individu dengan kecenderungan narsistik biasanya memiliki obsesi serta fantasi tentang kesuksesan, kepintaran, kekuasaan, dan hal lainnya yang begitu ingin dimiliki subjek. Dalam hal ini, subjek dapat dikatakan memiliki obsesi terhadap sesuatu, yaitu keinginan dan mimpi yang besar untuk mengejar sisi akademisi dan prestasi (S1:W1.L76-79, S1:W1.87-92, S2:W1.L47-58 dan S1:W2.L124-129). Obsesi yang sangat besar ini dapat terlihat dari keputusan subjek saat dirinya dengan usia menginjak 30 tahun, lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan kuliah S2 nya dan menolak lamaran dari orang yang ingin menikahinya (S2:W1.L89-92).
Selain itu, dari hasil analisis tes grafis mengungkapkan bahwa subjek S merupakan pribadi yang memiliki ide yang luas, imajinatif, pikiran yang membara, dan memiliki kesadaran yang over-individual. Ia memiliki arah pikiran yang berorientasi pada masa depan, tidak punya ketetapan diri dalam bekerja atau berpikir, serta mempunyai kemampuan dalam menghubungakan antara masa lalu dan masa yang akan datang. Ia juga memiliki pola pikir yang berpijak pada realita dan pada hal-hal yang konkrit, namun terkadang banyak juga dikendalikan oleh ketidaksadaran dan cenderung mudah paranoid atau curiga terhadap orang lain.

2.      Aspek afektif
Individu yang memiliki kecenderungan narsistik memiliki perasaan yang begitu besar terhadap dirinya, seperti merasa dirinya paling hebat, merasa orang lain iri terhadap dirinya, punya rasa yang besar untuk dikagumi, merasa yakin bahwa dirinya istimewa dan unik sehingga layak diperlakukan istimewa oleh orang lain.
Perilaku subjek yang berkenaan dengan hal tersebut dapat terlihat dari sikap senang mendominasi orang lain ketika subjek sedang mengobrol, bercerita dengan temannya. Subjek memiliki rasa ‘keakuan’ yang tinggi terhadap diri sendiri. Hal ini seperti yang tertuang dalam hasil wawancara pada (S2:W1.L15-24). Selain itu, sikap subjek dapat terlihat dari observasi pada (O2: L9-10) ketika subjek kelihatan mendominasi dan banyak berbicara saat sedang mengorol dengan temannya.
Selain itu, hasil tes grafis mengungkapkan sisi afeksi subjek yang Subjek memiliki perasaan dengan kepribadian yang mantap, punya semangat dan motivasi berprestasi yang tinggi, namun cenderung mengarah pada tendensi agresif dan ambisius terhadap usaha untuk mencapai kesuksesan. Selain itu, subjek cenderung begitu senang dan punya perhatian yang besar dengan dirinya sendiri (narsis), punya keinginan merasakan sensasi, berkuasa, menyombongkan diri, dan juga cenderung mengharapkan perhatian dan kasih sayang dari sekitarnya. Ia cenderung merasa tergesa-gesa, merasa dikejar waktu, namun tidak punya pegangan, memiliki konflik dalam usaha menemukan jati diri, serta pernah memiliki trauma di masa lalu. Selain itu, ia juga memiliki perasaan yang positif dengan merasa mampu diterima secara sosial, memiliki kehalusan budi pekerti serta sikap yang sopan, suka memelihara dan menjaga sesuatu. Ia juga cukup mampu menunjukkan keseimbangan, ketenangan, kestabilan serta kontrol diri yang baik.


3.      Aspek emosi
Melalui hasil tes grafis diungkapkan sisi emosi subjek yang memiliki kecenderungan mudah cemas, pemurung, punya tendensi agresif serta dorongan yang tidak konsisten, mudah dikuasai emosi dan emosi yang meledak-ledak, impulsif, mudah frustrasi, suka oposisi, emosi yang tidak stabil, histeris, berlagak, mudah bertindak kasar, menyukai hal yang mengenakkan, perasaan tegang dan rasa tidak aman. Namun ia berusaha menekan dan mengontrol diri serta menekan permusuhan. Ia cenderung individu yang berorientasi pada diri sendiri (self-oriented), sering mengalami keraguan dan sering terikat dengan masa lalu, compulsive, tergantung terhadap sesuatu, mudah depresif, dan memiliki konflik dalam menemukan jati diri.

4.      Aspek sosial
Secara sosial, subjek S kurang berempati terhadap orang lain, yang menjadi salah satu gejala dari narsistik. Subjek S terlihat kurang berempati dalam hal ketika sedang berbicara dan mengemukakan pendapatnya, ia cenderung seringkali mengukuhkan apa yang ia katakan merupakan hal yang paling benar, dan kurang memperhatikan pendapat orang lain. Hal ini sdidapat dari penuturan teman sekamar subjek pada wawancara (S2:W1.L15-24).
Meskipun demikian, subjek S juga memiliki kemampuan sosial yang cukup baik, hal ini terlihat dari kepribadian subjek yang ekstrovert dan cenderung merasa dirinya mampu diterima secara baik oleh orang-orang di sekitarnya, terbuka dengan orang lain, objektif, dan lebih mudah dipengaruhi oleh dunia luar dan suka mencari perhatian dari sekitarnya. Ia cenderung mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya, suggestible, dan suka menolong orang lain. Selain itu, ia juga cenderung merasa ingin diakui oleh orang-orang di dekatnya. Namun dalam berinteraksi, ia juga cenderung kurang mampu bersikap terbuka dengan pendapat orang lain serta menolak kritikan dari luar.

C. Dampak permasalahan pada perkembangan subjek
1.      Aspek kognitif
Dengan memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan begitu nyaman dengan dirinya sendiri terkait dengan gejala narsistik, subjek cenderung memiliki pola pikir yang berpijak pada realita dan pada hal-hal yang nyata saja, dan cenderung subjektif, lebih berorientasi pada dirinya sendiri. Dalam hasil wawancara hal ini dapat dilihat pada (S2:W1.L15-24).
Selain itu, pengaruh dari pola pengasuhan orang tua subjek yang cenderung premisif dan bebas dalam memutuskan sesuatu menjadikan subjek merasa lebih bebas dan mandiri dalam mengungkapkan apa yang ia pikirkan. Hal ini kemudian berpengaruh terhadap cara subjek dalam berpikir dan mengutarakan pendapatnya kepada orang lain yang cenderung subjektif dan ke’aku’an. Ini dapat dilihat pada (S1:W2. L100-117).

2.      Aspek afektif
Karena begitu percaya diri dan nyaman dengan dirinya sendiri, membuat subjek menjadi begitu ambisius terhadap perasaan berupa usaha yang begitu besar untuk mencapai kesuksesan, dan membuat dirinya juga punya keinginan merasakan sensasi, berkuasa, menyombongkan diri, yang merupakan penyebab dari  kecenderungan dirinya untuk mengharapkan perhatian dan kasih sayang dari sekitarnya.

3.      Aspek sosial
Subjek S yang memiliki kepribadian yang ekstrovert dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan menjadikannya begitu disenangi di lingkungan sekitarnya. Namun, dalam hal saat berinteraksi dalam hal berbicara dan mengungkapkan pemikiran dan perasaannya, subjek cenderung kurang berempati terhadap pemikiran orang lain dan senang membuktikan kemampuan diri karena dirinya yang memiliki self-oriented dan rasa ke’aku’an yang tinggi terhadap dirinya.


VII. DINAMIKA PSIKOLOGIS
            Subjek (S) merupakan seorang perempuan dewasa dengan status belum menikah pada usia yang sudah menginjak 30 tahun, dan masih menjalani pendidikan S2 di salah satu universitas negeri yang ada di Yogyakarta. Ketika kecil, ia memiliki masa lalu yang cukup kurang menyenangkan dengan latar belakang keluarga yang broken home, yaitu ibu dan ayah yang berpisah/ cerai akibat dari masalah internal keluarga saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) kelas 1. Perkelahian yang seringkali terjadi antara kedua orangtua di depan subjek, sosok ayah yang tidak menyenangkan karena perlakuan kasar yang seringkali dilihatnya terhadap ibunya, membuat subjek merasa tidak menyukai sosok ayahnya. Kemudian setelah perceraian, sejak kecil hingga dewasa subjek dididik dan dibesarkan oleh sosok ibu semata, dengan pola asuh yang diberikan orang tua yag cenderung permisif, tidak begitu mengontrol perkembangan anaknya.Terkait dengan gejala narsistik yang dialami subjek, terlihat kecenderugan subjek yang begitu terobsesi untuk mengejak akademisi dan kesuksesan, merasa begitu ingin dikagumi dan dianggap oleh orang di sekitarnya terhadap kemampuan yang dimiliki, emosi yang kurang stabil, serta kurangnya rasa empati terhadap orang lain, sehingga hal tersebut berdampak terhadap terbentuknya pola pikir yang cenderung subjektif yang ikut berpengaruh terhadap interaksi sosial antara subjek dengan orang-orang di sekitarnya.




VIII. ANALISIS KASUS

Berdasarkan devinisinya, gangguan narsistik merupakan sebuah bentuk gangguan kepribadian yang ditandai oleh selft-image yang begitu tinggi serta kecenderungan untuk memandang dirinya dengan cara yang berlebihan, senang sekali menyombongkan dirinya dan berharap orang lain memberikan pujian selain itu tertanam dalam dirinya perasaan paling mampu, paling unik dan merasa khusus dibandingkan orang lain.
Subjek yang memiliki kecenderungan narsistik pada penelitian ini merupakan seorang wanita dewasa berusia 30 tahun dengan masih memiliki latar pendidikan kuliah S2 dan belum menikah. Selain dikemukakan melalu hasil observasi dan wawancara, melalui hasil tes grafis baik itu BAUM, DAP, dan HTP juga dikemukakan hasil yang menjadikan subjek memiliki kecenderungan terhadap gejala kepribadian narsistik.
Terbentuknya gejala terkait dengan perilaku narsistik yang dialami subjek dipengaruhi oleh hal mendasar. Seperti dikemukakan oleh Freud dalam pendekatan tradisional psikodinamikanya, Freud melihat narsisme sebagai kegagalan untuk mengalami kemajuan melewati tingkat yang lebih rendah dalam perkembangan psikoseksualnya. Selain itu, adanya problem pada relasi antara orang tua dan anak yang kemudian sangat berperan dan berpengaruh terhadap pembentukan serta pengembangan jati diri anak. Pada dasaranya, setiap anak membutuhkan orang tua untuk memberikan ketenangan hati dan respon positif dalam memberikan penghargaan terhadap dirinya, dan ketika tidak terjadi maka anak anak membentuk perasaan tidak aman. Perasaan ketidaknyamanan ini kemudian diungkapkan terhadap adanya keinginan untuk mementingkan kepentingan diri sendiri yang kemudian dapat dimengerti sebagai usaha seseorang untuk mengembalikan apa saja yang hilang di masa awal kehidupannya (Kohut, 1966,1971). Kemudian, kurangnya fondasi yang kokoh dalam diri yang sehat, individu tersebut kemudian mengembangkan jati diri yang didasari pada omongan yang berlebihan dan pikiran yang tidak realistis mengenai kemampuan mereka dan sifat disenangi, yang kemudian hal ini diartikan sebagai perilaku narsistik.
Berkenaan dengan landasan teori tersebut, subjek dalam penelitian ini memiliki latar belakang keluarga yang kurang harmonis, yaitu keluarga broken home, dengan perceraian dan perpisahan antara orang tua perempuan (ibu) dan orang tua laki-laki (ayah subjek) lantaran masalah internal keluarga akibat ketidakmampuan suami dalam menafkahi keluarga, serta adanya perlakuan kasar dari suami terhadap istrinya. Pada akhirnya, pertengkaran yang seringkali terjadi antara orang tua subjek tersebut kemudian diakhiri oleh keputusan perceraian, yang dialami subjek ketika dirinya menginjak bangku sekolah dasar (SD). Berdasarkan hal tersebut, akibat dari rasa kehilangan empati dan perasaaan aman dari orang tuanya menyebabkan subjek pada akhirnya mengembangkan perilaku yang mengarah kepada kecenderungan narsistik. Kemudian, selama sebagian besar masa hidup subjek tinggal dan hidup bersama ibunya, dengan didikan dan bimbingan yang hanya didapatkan dari sosok ibu. Kecenderungan pola pengasuhan yang diberikan cenderung membiarkan dan membebaskan subjek, juga dapat dijadikan sebagai landasan yang mempengaruhi timbulnya kepribadian narsistik pada diri subjek.
Kemudian, berkenaan dengan gejala dari gangguan kepribadian narsisitik ini mengacu pada DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders – Fourth Edition), dimana  individu dapat dianggap mengalami gangguan kepribadian narsisistik ketika memiliki karakteristik seperti: merasa dirinya paling hebat, seringkali memiliki rasa iri pada orang lain atau menganggap bahwa orang lain iri kepadanya, memiliki fantasi kesuksesan dan kepintaran, dirinya sangat ingin dikagumi, dan munculnya perilaku kurang rasa empati, merasa dirinya layak memperoleh keistimewaan, angkuh dan sensitif terhadap kritik, memiliki kepercayaan diri yang semu, serta yakin bahwa dirinya khusus, unik dan dapat dimengerti oleh orang-orang tertentu.
Ditinjau dari sisi kognitifnya, individu dengan kecenderungan narsistik biasanya memiliki obsesi serta fantasi tentang kesuksesan, kepintaran, kekuasaan, dan hal lainnya yang begitu ingin dimiliki subjek. Dalam hal ini, subjek dapat dikatakan memiliki obsesi terhadap sesuatu, yaitu keinginan dan mimpi yang besar untuk mengejar sisi akademisi dan prestasi (S1:W1.L76-79, S1:W1.87-92, S2:W1.L47-58 dan S1:W2.L124-129). Obsesi yang sangat besar ini dapat terlihat dari keputusan subjek saat dirinya dengan usia menginjak 30 tahun, lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan kuliah S2 nya dan menolak lamaran dari orang yang ingin menikahinya (S2:W1.L89-92). Dengan memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan begitu nyaman dengan dirinya sendiri terkait dengan gejala narsistik, subjek cenderung memiliki pola pikir yang berpijak pada realita dan pada hal-hal yang nyata saja, dan cenderung subjektif, lebih berorientasi pada dirinya sendiri. Dalam hasil wawancara hal ini dapat dilihat pada (S2:W1.L15-24). Selain itu, pengaruh dari pola pengasuhan orang tua subjek yang cenderung permisif dan bebas dalam memutuskan sesuatu menjadikan subjek merasa lebih bebas dan mandiri dalam mengungkapkan apa yang ia pikirkan. Hal ini kemudian berpengaruh terhadap cara subjek dalam berpikir dan mengutarakan pendapatnya kepada orang lain yang cenderung subjektif dan ke’aku’an. Ini dapat dilihat pada (S1:W2. L100-117).
Kemudian, dari sisi afektifnya Individu yang memiliki kecenderungan narsistik memiliki perasaan yang begitu besar terhadap dirinya, seperti merasa dirinya paling hebat, merasa orang lain iri terhadap dirinya, punya rasa yang besar untuk dikagumi, merasa yakin bahwa dirinya istimewa dan unik sehingga layak diperlakukan istimewa oleh orang lain. Perilaku subjek yang berkenaan dengan hal tersebut dapat terlihat dari sikap senang mendominasi orang lain ketika subjek sedang mengobrol, bercerita dengan temannya. Subjek memiliki rasa ‘keakuan’ yang tinggi terhadap diri sendiri. Hal ini seperti yang tertuang dalam hasil wawancara pada (S2:W1.L15-24). Selain itu, sikap subjek dapat terlihat dari observasi pada (O2: L9-10) ketika subjek kelihatan mendominasi dan banyak berbicara saat sedang mengorol dengan temannya. Selain itu, hasil tes grafis mengungkapkan sisi afeksi subjek memiliki perasaan dengan kepribadian yang mantap, punya semangat dan motivasi berprestasi yang tinggi, namun cenderung mengarah pada tendensi agresif dan berdampak pada sikap ambisius terhadap usaha untuk mencapai kesuksesan. Selain itu, subjek cenderung begitu senang dan punya perhatian yang besar dengan dirinya sendiri (narsis), punya keinginan merasakan sensasi, berkuasa, menyombongkan diri, dan juga cenderung mengharapkan perhatian dan kasih sayang dari sekitarnya. Ia cenderung merasa tergesa-gesa, merasa dikejar waktu, namun tidak punya pegangan, memiliki konflik dalam usaha menemukan jati diri, serta pernah memiliki trauma di masa lalu. Namun demikian, ia juga memiliki perasaan yang positif dengan merasa mampu diterima secara sosial, memiliki kehalusan budi pekerti serta sikap yang sopan, suka memelihara dan menjaga sesuatu. Ia juga cukup mampu menunjukkan keseimbangan, ketenangan, kestabilan serta kontrol diri yang baik.
Kemudian, melalui hasil tes Grafis yaitu (BAUM, DAP, dan HTP), diungkapkan sisi emosi subjek yang memiliki kecenderungan mudah cemas, pemurung, punya tendensi agresif serta dorongan yang tidak konsisten, mudah dikuasai emosi dan emosi yang meledak-ledak, impulsif, mudah frustrasi, suka oposisi, emosi yang tidak stabil, histeris, berlagak, mudah bertindak kasar, menyukai hal yang mengenakkan, perasaan tegang dan rasa tidak aman. Namun ia berusaha menekan dan mengontrol diri serta menekan permusuhan. Ia cenderung individu yang berorientasi pada diri sendiri (self-oriented), sering mengalami keraguan dan sering terikat dengan masa lalu, compulsive, tergantung terhadap sesuatu, mudah depresif, dan memiliki konflik dalam menemukan jati diri.
Dan selain itu, terkait dengan gejala yang dialami subjek terkait dengan aspek sosialnya terlihat dari kurangnya rasa berempati terhadap orang lain, yang menjadi salah satu gejala dari narsistik. Subjek S terlihat kurang berempati dalam hal ketika sedang berbicara dan mengemukakan pendapatnya, ia cenderung seringkali mengukuhkan apa yang ia katakan merupakan hal yang paling benar, dan kurang memperhatikan pendapat orang lain, senang membuktikan kemampuan diri karena dirinya yang memiliki self-oriented dan rasa ke’aku’an yang tinggi terhadap dirinya.
Dan meskipun demikian, subjek S juga memiliki sisi kemampuan sosial yang baik. Kepribadian subjek yang ekstrovert dan cenderung merasa dirinya mampu diterima secara baik oleh orang-orang di sekitarnya, terbuka dengan orang lain, objektif, membuat dirinyapun cukup disenangi dan mudah bergaul dengan orang-orang baru karena dirinya memiliki kepercayaan diri dan nyaman terhadap dirinya sendiri, sehingga ia cukup pintar membawa dirinya dalam bergaul dalam orang di sekitarnya. Hal ini dapat dipengaruhi oleh pola pengasuhan yang diberikan orang tua subjek, dan perilaku empati yang didapat subjek melalui ibunya, dimana subjek memiliki keterikatan dan hubungan yang baik dengan ibunya. Ketika sedang ingin didengarkan, ibunya mampu mendengarkan subjek dengan baik, dan dirinya merasa nyaman untuk mengutarakan keinginan dan perasaannya.



IX. KESIMPULAN
Bersadarkan hasil analisis dari penelitian ini mengenai kecenderungan perilaku narsistik yang dialami oleh subjek S, beberapa gejala yang dialami oleh subjek dilatarbelakangi dan didasari oleh faktor kondisi keluarga dengan adanya masalah yang terjadi pada relasi antar orang tua subjek serta pola pengasuhan yang diterima subjek dari orang tuanya.  Terkait gejala atau karakteristik subjek terhadap kepribadian narsistik serta dampak pada diri subjek pada penelitian ini dikemukakan dan didasarkan pada aspek baik itu dari sisi kognitif, afektif, emosi, serta sosial subjek. Akibat yang dialami subjek juga didukung oleh teori dan hasil tes grafis yang dilakukan, sehingga hasil observasi dan wawancara sesuai dengan teori yang ada. Sehingga kesimpulan keseluruhan dari laporan studi kasus tentang gejala narsistik yang dialami subjek sesuai dengan teori yang ada, dan penguatan data yang diperoleh dari alloanamnesa juga menjadikan data penting dalam laporan ini.



DAFTAR PUSTAKA

Fauziah, F dan Widury. 2005. Psikologi Abnormal Klinis Dewasa, Jakarta: Universitas Indonesia.
Fitria, Maya. (2014). Modul Pembelajaran Dasar-Dasar Assessment Individu 5 Observasi dan Wawancara. Yogyakarta: Laboratorium Psikologi, FISHUM, UIN Sunan Kalijaga. 
Jeffrey, S.N dkk. 2003. Psikologi Abnormal, Jakarta: Erlangga.
Walgito, B. (2006). Teknik Observasi dan Wawancara. Jakarta: Pustaka Media


X. LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 1 : Pedoman Wawancara
1.1  Lampiran Pedoman Wawancara subjek (Autoanamnesa)
No.
ASPEK & PERTANYAAN PENELITIAN
METODE PENGUMPULAN DATA DAN SUMBER DATA
LATAR BELAKANG RIWAYAT SUBJEK (Masa Lalu Subjek)
1.
Bagaimana cerita tentang kehidupan masa kecil subjek. Bagian apa yang paling menyenangkan dan yang tidak menyenangkan?
Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa) & subjek 2 (alloanamnesa) & Tes grafis
2.
Bagaimana bentuk pola pengasuhan orang tua subjek
Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
3.
Seberapa dekat hubungan subjek dengan orangtua?
Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa) & tes grafis
4.
Ketika memiliki masalah, seberapa sering subjek curhat/mengutarakan/bercerita kepada orangtua
Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
5.
Bagaimana respon orangtua saat subjek ingin didengarkan?
Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
6.
Apakah orangtua subjek memanjakan subjek
Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
GEJALA
1.
Bagaimana perasaan subjek ketika mendapat pujian dari oranglain? Apakah subjek merasa sangat senang?

Observasi & Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
2.
Apakah subjek begitu sangat ingin dikagumi oleh orang lain?
Observasi & Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
3.
Bagaimana subjek menilai dirinya sendiri? Apakah menganggap dirinya begitu spesial/unik daripada orang lain?
Observasi & Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa) & tes grafis
4.
Saat orang lain memberi pendapat/menasehati/mengkritik, apakah subjek bersedia mendengarkan dan mengikutinya?
Observasi & Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa) & tes grafis
5.
Apakah subjek begitu ingin pendapatnya didengarkan oleh orang lain?
Observasi & Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)  & subjek 2  & tes grafis
6.
Ketika berhadapan dengan sesuatu, apakah subjek lebih cenderung ingin mengutamakan kepentingan orang lain terlebih dulu, ataukah dirinya sendiri dulu?
Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa) & subjek 2 (alloanamnesa) & tes grafis
7.
Apa bentuk orientasi subjek dalam hidupnya? Apakah terobsesi terhadap sesuatu? Seperti apa?
Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)  & tes grafis
8.
Ketika melihat orang lain lebih baik/memiliki sesuatu yang lebih baik daripadanya, bagaimana perasaan subjek? Apakah subjek merasa begitu iri/cemburu?
Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)  tes grafis



PERLAKUAN LINGKUNGAN
1.
Apakah ketika waktu senggang, subjek lebih senang berkumpul dengan teman, ataukah menyendiri?
Observasi & Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
2.
Spakah orang-orang di sekitarnya menyukai subjek? Apakah subjek merasa ada banyak orang yang tidak menyukai perilakunya?
Observasi & Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa
3.
Bagaimana cara subjek mengatasi ketika ada orang yang tidak senang dengan perilakunya?
Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
4.
Apakah subjek punya teman dekat? Seberapa banyak?
Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
5.
Seperti apa biasanya tanggapan orang lain tehadap sikap nasris dan suka mendominasi yang subjek punya? Apa mereka merasa nyaman saja dengan sikap  subjek?
Observasi & Wawancara dengan subjek 2 (alloanamnesa)

1.2  Lampiran Pedoman Wawancara Alloanamnesa
No.
PERTANYAAN PENELITIAN
METODE PENGUMPULAN DATA DAN SUMBER DATA
1
Sebagai teman sekamar, bagaimana anda menilai S?
Wawancara Subjek 2 (alloanamnesa)
2
Saat biasanya bercerita, tentang hal apa saja yang kalian/ banyak S ceritakan?
Wawancara Subjek 2 (alloanamnesa)
3
Apakah menurut anda S adalah orang yang narsis, dan sangat nyaman dengan dirinya sendiri? Seberapa sering S bercerita tentang dirinya sendiri?
Wawancara Subjek 2 (alloanamnesa)
4
Apakah ketika mengobrol, S lebih banyak bercerita/lebih mendominasi saat bicara?
Wawancara Subjek 2 (alloanamnesa)
5
Apakah S sering bercerita tentang keluarganya? Bagian apa/siapa yang paling sering diceritakan?
Wawancara Subjek 2 (alloanamnesa)
6
Apakah saat bercerita, obrolan S banyak tentang khayalan tentang keberhasilan, kekutan, kecemerlangan, atau kecantikan?
Wawancara Subjek 2 (alloanamnesa)


Lampiran 2 : Pedoman Observasi

Objek Observasi          :
Lokasi Observasi         :
Tujuan Observasi        :
Jenis Observasi            :
Tanggal                       :
Jam                              :
Observasi ke-              :
No.
Catatan observasi
Analisis gejala/koding
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12




Lampiran 3 : Verbatim Wawancara

VERBATIM WAWANCARA
Wawancara 1
Interviewee                 : S
Lokasi Wawancara      : Di Kamar Subjek
Tujuan Wawancara     : Menggali data awal
Jenis Wawancara         : Semi terstruktur
Tanggal Wawancara    : 16 Desember 2014
Jam                              : 19.00- 20.15 WIB
Wawancara ke-           : 1

KODE S1-W1 (subjek 1, wawancara ke-1)

No.
Catatan Wawancara
Impresi
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
Selamat malam mbak S, terima kasih sudah mau bersedia meluangkan waktunya untuk wawancara hari ini.
Iya, sama-sama juga mbak.
Sebelum memulai wawancaranya, bisa mbak isi dulu identitas di kertas ini? (sambil menunjukkan dan memberi kertas identitas diri)
Baiklah…
Oke, mungkin bisa kita mulai nih mbak. Pertama itu, pertanyaan saya, gimana sih kehidupan masa kecilnya mbak? Bagian apa yang paling menyenangkan?
Bagian yang menyenangkan itu waktu SD,SMP, SMA ya. Saya cenderung lebih menikmati tiap-tiap masa saya gitu. Dan yah, waktu SD mungkin ya, yang paling menyenangkan. Main kemana-mana sama teman, main apa aja.
Dan kalo hal yang nggak menyenangkan, itu ada nggak mbak? Bisa diceritain?
Hmm..Jadi, gini mbak. Kalo nggak menyenangkan ya ada la ya. sebagian besar orang pasti punya. Hmm.. saya itu kan orang tuanya saya cerai, itu waktu saya SD kelas 1. Ya, namanya anak kecil ya, pastinya dulu belum ngerti sama kehidupan orang dewasa, masalah cerai gitu. 
Kalo boleh tau nih, itu apa sebab cerainya mbak?
Yah, yang saya tau dari ceritanya itu saya sih, karena sering berantem gitu mbak. Ayah saya kan dulunya ngak kerja, nganggur, jadi yang kerja cuma ibu saya, jadi guru SD. Orang tua saya, ayah saya itu asalnya kan jauh bukan dari Sumatera. Dia di jawa timur sana..orang tua saya dulunya sering berantem, sering mukul ibu saya gitu. Saya sering lihat waktu kecil.
Owh.. gitu. Hmm..jadi mbak tau nggak gimana kabarnya ayah mbak sekarang? Apa dia tinggalnya sekarang masih dekat daerah rumahnya mbak?
Saya nggak begitu tau banyak sih, dan nggak mau tau juga. Ayah saya nggak disini, katanya uda balik ke jawa timur sana. Saya kurang tau sih ya gimana kabarnya.
Jadi, dari ceritanya mbak berarti mbak lebih dekat sama ibu ya dari ayah?
Iya, saya memang lebih dekat sama ibu saya.
Gimana bentuk pola asuhnya ibu mbak?
Hmm.. ibu saya itu sih, sebenarnya termasuk permisif ya, cenderung mengikuti kegiatan anaknya, nggak otoriter nggak maksa, tapi mungkin lebih ke tegas.
Kalo mbak nakal, pernah dipukul nggak?
Hmm kalo nakal biasanya cuma dimarahin, tapi dipukul pernah, tapi jarang ya. kalo emang bener-bener nakal, pernah. Namanya juga anak kecil dulunya kan.
Kalo ada masalah, mbak sering curhat sama orang tua nggak? Trus, gimana respon ortu mbak, apa didengar dengan baik?
 Iyah, saya sering ngobrol, curnah sama ibu saya. Ya, bisa dibilang ibu saya seperti teman paling dekat saya satu-satunya. Tapi, sebenarnya kalo curhat itu tentang masalah yang umum-umum aja. Kalo yang benar-benar khusus tidak diceritain. Karena ya, kalo ibu saya diceritain, paling dianya cuma bilang terserah saya nya aja, yang penting gimana baiknya aja, gitu. Tapi tetap mendengar baik kok.
Apa orang tua mbak memanjakan anaknya?
Wah, itu nggak sih ya. saya diajarin supaya harus mandiri, nggak bergantung sama orang lain. Ibu saya bisa dibilang tegas banget kalo mendidik anaknya.
Gimana perasaan mbak kalo dipuji orang lain? Senang banget nggak?
Hehe.. kalo dipuji semua orang pasti suka ya. siapa sih yang nggak suka? Ya, tapi kalo saya sendiri nggak sukanya kalo orang muji berlebihan..
Itu kayak gimana mbak?
Yah, misalnya kalo muji nggak sesuai sama kenyataannya. Yang berlebihan gitu..jadi, yah saya sering sih curigaan kalo ada yang kayak gitu, kayaknya pasti orangnya lagi ada maunya, hehe.
Apa mbak pernah kepikiran pengen banget dikagumi orang lain?
Hmm.. dikagumi seperti apa ya? ya, pernah sih. Tapi saya senang kalo bisa dikagumi orang karena kemampuan saya, dari sisi akademis seperti itu. Makanya saya sangat bersemagat menerusin sekolah S2 saya.
Owh gitu ya. Oya mbak, sebenarnya gimana mbak menilai diri mbak sendiri? Pernahkah mbak merasa diri sendiri spesial, unik dari orang lain?
Hm.. yah, saya merasa diri saya spesial yah.
Apa orientasi dan arah yang ingin mbak capai dalam hidup mbak? Apa terobsesi sama sesuatu? Itu seperti apa?
Hmm.. saya lebih terobsesi dengan diri saya ya. saya ingin mengidamkan masa depan yang cerah. Makanya saya sangat semangat untuk kuliah. Mungkin ke arah akademisnya yang ingin saya kejar. Karena bagi saya, kalo akademis sudah baik, yang lainnya akan mengikuti juga baiknya.









S1:W1.L19-37
(penjelasan subjek tentang latar belakang keluarga, kondisi orang tua, dan masa lalu subjek)







S1:W1.L38-63
(penjelasan tentang pola asuh orang tua subjek)



































S1:W1.L76-79















S1:W1.L76-79
(indikasi rasa ingin dikagumi secara akademisi)









S1:W1.87-92
(indikasi terhadap obsesi diri)




Wawancara 2
Interviewee                 : NK
Waktu Wawancara      : 19.00-20.15 WIB
Lokasi Wawancara      : Di Kamar Subjek
Tujuan Wawancara     : Menggali data awal
Jenis Wawancara         : Semi terstruktur
Tanggal Wawancara    : 18 Desember 2014
Jam                              : 20.20 – 21.15 WIB
Wawancara ke-           : 1

KODE S2-W1 (subjek ke-2 (alloanamnesa), wawancara 1)
No.
Catatan Wawancara
Impresi
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107

Baiklah, makasih mbak udah mau diwawancara. Mungkin biar nggak lama kita mulai aja ya. Pertanyaan pertamanya.. Kan mbak teman sekamarnya mbak S. Menurut mbak sendiri, seperti apa sifat dan karakter mbak S dari penilaian mbak?
Duh, saya sebenarnya paling berat kalo harus menilai orang lain. Hal yang positif apa negatifnya mbak?
Yah, bagusnya kalo bisa positif sama negatifnya juga.
Hmm.. menurut saya, mbak S itu orangnya sih welcome. Dengan siapapun mau bergabung. Orangnya ramah, nggak membeda-bedakan orang. Dan kalo sisi yang negatifnya itu….
Apa mbak S itu menurut mbak orangnya suka mendominasi, saat mengobrol?
Kalo itu, iya memang orangnya suka mendominasi, kalo sedang ngobrol dan kita minta pendapatnya dia, dia cenderung lebih subjektif, lebih ke arah dia, bukan ke objek arah pembicaraannya kita. Jadi semuanya itu hanya menurut sudut pandang dia, bukan dari sudut pandang orang lain.
Kalo orang ngasih pendapat, apa dia cenderung menerima atau seperti lebih mengukuhkan pendapat dia?
Dia lebih mengukuhkan pendapat dia..jadi, kalo kita mengoreksi apapun, dia punya alasan.
Owh gitu… Nah, kalian kan sering ngobrol nih mbak. Tema/ hal apa yang sering kalian obrolkan?
Kalo itu sih, kita sering ceritanya tentang sekolah..tentang mimpi-mimpi oengen sekolah kesini, lebih fokusnya ke masa depan. Pengennya anak ke depan iu seperti apa, keinginan ke depannya pengen sekolah dimana. Pokoknya ada banyak hal seperti itulah yang kita sering obrolkan. Lebih ke tentang pendidikan gitu sih.
Kalo hal-hal yang berhubungan dengan masa lalu, apakah pernah/sering diobrolkan?
Kalo tentang masa lalu, biasanya tentang masalah keluarga. Keluarganya misalnya pernah ada masalah begini..begini..
Dia apakah lebih sering bercerita tentang ibu, atau bapaknya?
Biasanya ibunya. Tapi, pernah sih, cerita tentang bapaknya. Mbak udah tau kan latar keluarganya mbak S?
Iya, pernah cerita.
Nah, mbak S kan ibunya single parent. Jadi, cerai hidup sama suaminya. Dan mungkin dia jarang cerita tentang bapaknya karena karena takut mengorek luka lama, mungkin bisa dibilang seperti itu ya. Jadi yang lebih banyak diceritakan itu otomatis lebih ke ibunya.
Owh.. Jadi, kalo ngobrol atau curhat itu memang kalian lebih ke arah masa depan ya bahasannya?
Iya, mbak, bisa dibilang seperti itu. Karena mbak tau lah, kami berdua mungkin bisa dibilang orangnya suka bermimpi gitu.
Ya, semua orang sepertinya juga suka bermimpi ya mbak, hehe.
Iya, semua orang pastinya. Tapi, kami berdua mungkin bisa dibilang cocok gitu. Karena Mbak S juga kalo pengen sekolah ke sini, harus nabung dulu. Dan saya sendiri juga gitu. Harus nunda 2 tahun dulu buat sampai kesini, ngumpulin duit dulu. Jadi, sama posisi kita gitu.
Owh, jadi orientasi kalian berdua itu sama, ya. uda mikirin masa depan. Jadi kayak udah senasib sepenn annggungan ya mbak? Hehe
Hehe.. iya, kira-kira seperti itulah…
Hm.. menurut mbak, mbak S itu orangnya narsis nggak sih. Kayak ngerasa nyaman banget sama dirinya?
Hmm.. maksud narsisnya seperti gimana mbak?
Ya, kan narsis itu ada tipenya. Kayak ada orang yang narsis foto, ada yang narsisnya kayak lebih senang dengan diri sendiri, gitu.
owh iya. Mungkin mbak S bisa dibilang lebih sedikit ke arah yang terakhir itu. Jadi, dia lebih ke arah ‘aku’. Mungkin, itu maksudnya mbak?
Iyah.. seperti itu ..
Jadi, kalo sedang ngobrol itu, mbak S sering bilang,”aku tuh begini..begini..jadi lebih ke ‘aku’an. Gitu.
Owh, ya ya. Pernah gak, mbak S cerita tentang masa kecilnya, kayak temannya banyak gitu? Cerita tentang orang yang paling dekat dengan dia?
Maksudnya orang yang paling dekat dalam artian apa?
Kayak teman gitu mbak.
Owh. Kalo orang paling dekat dia belum pernah cerita. Yah, paling teman-teman yang biasanya pernah ada bareng sama dianya. Tapi bukan dekat banget..
Kalo teman cowok pernah cerita mbak?
Kalo cowok, dia pernah cerita pernah suka sama orang. Tapi, nggak dikasih tau siapa orangnya, jadi cerita sekilas aja. Dia juga pernah cerita ada cowok yang ngajak nikah, tapi mbak S nya nggak mau, karena dia lebih milih kuliah.
Itu waktu kapan mbak?
Hmm.. kayaknya pas sebelum berangkat ke Jogja. Mungkin tahun 2013 lalu. Karena mungkin, omongan-omongan dia pengen kulaih lagi itu memang udah lama. Jadi, orientasinya mungkin lebih utama buat pendidikan.
Nah, kalo mbak cerita/curhat tentang cowok, mbak S pernah/sering ngasih saran nggak?
Hmm..kayaknya dia jarang sih ngasih saran ya. paling cuma mendengar aja. Kalo kita tanya pendapat dia, dianya paling cuma bilang,” entah ya, saya kurang tau. Nggak punya pengalaman sama hal kayak gitu,”. Kalo ngasih saran yang lain, dia sering keliatan ragu, mungkin takut ngasih saran yang salah.
Owh, gitu ya mbak. Hmm…
Ada lagi pertanyaannya mbak?
Hm.. sepertinya ini aja mbak. Sampai disini aja ya, dulu. Mungkin nanti kalo ada perlu data tambahan saya akan wawancara mbak lagi, ya. terima kasih atas waktunya mbak..
Iya mbak,sama-sama…









S2:W1.L15-24
(kecenderungan mendominasi dan subjektif saat mengobrol dengan orang lain)


S2:W1.L19-28
(subjektif)

























S2:W1.L47-58
(latar belakang kondisi keluarga)




































S2:W1.L89-92(latar belakang kondisi keluarga dan orang tua)




Wawancara 3
Interviewee                 : S
Lokasi Wawancara      : Di Kamar Subjek
Tujuan Wawancara     : Mendalami dan melanjutkan penggalian data tentang subjek
Jenis Wawancara         : Semi terstruktur
Tanggal Wawancara    : 19 Desember 2014
Jam                              :  21.00-21.30 WIB
Wawancara ke-           : 2

KODE S1-W2 (subjek 1, wawancara ke-2)
No.
Catatan Wawancara
Impresi
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132

Mungkin boleh kan mbak, kita melanjutkan wawancara yang kemaren?
Owh, iya silahkan mbak.
Oke, makasih mbak sebelumnya. Jadi, melanjutkan pertanyaan yang sebelumnya tentang mbak. Kalo biasanya mbak lagi sedang santai, sebenarnya mbak lebih suka ngobrol/kumpul dengan teman, atau lebih suka sendiri?
Sayan kadang pengen sendiri, kadang pengen ngumpul sama teman.
Kalo cenderung lebih sering/lebih senangnya mbak?
Kalo lebih senang, 50:50 sih. Seimbang sesuai keadaan mood juga kadang.
Owh gitu. Nah, kalo misalnya, pas biasanya mbak kenalan sama orang baru, mbak ngerasa orang itu senang kenalan/berteman sama mbak nggak? Gimana perasaan mbak? Mereka welcome nggak?
Hmm. Kalo welcome itu perkiraanya sekitar 80% lah yah.
Owh gitu. Jadi, mbak sendiri mungkin karena bisa membawa diri ya mbak?
Yap, begitulah terkadang.. hehe
Terus, kalo ada orang nggak senang sama mbak, gimana,seperti apa cara mbak mengatasinya?
Hm..kalo saya lebih dicuekin aja ya. Dia punya hak untuk nggak menyukai saya. Jadi, ya sudah, biarkan waktu berlalu, begitulah. Mungkin, suatu saat kalo ketemu, saya tetap menegur, nyapa. Dalam basa-basi yang normal lah ya. Tapi nggak dalam intensitas yang tinggi. Biasanya saya cuek aja kalo dia emang nggak suka sama saya gitu.
Mbak punya teman dekat nggak?
Kalo dekat, sih ada ya. tapi kalo dekat sering kemana-mana itu nggak ada. Dari SD sampe sekarang nggak ada sih.
Berarti orang yang paling dekat sama mbak itu ibu mbak ya?
Yah, bisa dibilang gitu.mungkin ibu saya yang paling dekat dengan saya seumur hidup ini hehe. Waktu SD, itu ada teman dekat, tapi nggak ada yang berlanjut dari SD, SMP, sampai SMA, gitu. Semuanya berbeda, beda masa sekolah, beda teman juga. Biasanya teman dekat saya yang sering main, cerita, itu cuma berdua sama teman saja.
Jadi nggak teman kelompokan gitu ya mbak?
iya, gitu. Jadi tiap beda masa sekolah, beda juga tingkatanya. Sampai sekarang juga ada yang dekat. Tapi,saya dekatnya nggak kayak bergantung sama teman gitu ya. jadi, kalo teman pengen berjalan cara dia silahkan, dan kalo nggak yan silahkan juga.
Owh, jadi sesuai kenyamanan masing-masing ya?
Ya, seperti itu. Dan kalo tentang masalah pribadi teman, saya nggak mau tersangkut paut ikut campur gitu. Apalagi misalnya hubungan dia dengan suaminya, dengan pacarnya, itu saya nggak pernah. Tapi kalo tentang keluarga, yan mungkin. Karena bagi saya juga, keluarga dia itu juga keluarga saya. Tapi kalo berhubungan dengan pacarnya, dan hal privasi itu saya nggak mau ikut campur, gitu.
Berarti mbak itu cuma pengen berurusannya sama hal-hal yang sifatnya umum aja ya?
Ya, kecuali kalo dianya curhat ya. tapi itu juga jarang sih. Tapi pernah teman saya yang curhat dalam rangka cari solusi aja.
Berarti banyak teman yang pernah curhat sama mbak?
 Yah, ada la ya kadang-kadang, hehe. Ada beberapa sih, yang curhatnya bagi saya itu terlalu pribadi.
Kira-kira berapa banyaknya teman yang pernah curhat sama mbak?
Yah.. kira-kira 60% gitu perkiraannya.
Waa.. itu lumayan ya mbak.
Ya, dan itu 60% itu memang curhatnya tentang hal pribadi, jadi bukan sekedar curhat ngobrol.
Owh gitu. Hmm.. ini saya nanya apa lagi ya mbak, jadi bingung
Yah, silahkan tanya apa aja mbak. Saya ini orangnya terbuka kok. Tapi ada juga yang bilang kalo saya itu orangnya tertutup juga. Yah, mungkin benar juga. Saya orangnya terbuka dalam area tertentu aja. Kalo untuk ilmu, saya akan sangat terbuka. Tapi kalo tentang hal pribadi, saya cenderung menjauh ya, tidak mau mengurusi gitu.
Oyah, cara didikannya orang tua mbak, ibu mbak dulu manjain mbak nggak dulunya?
Nggak sih ya. kalo disiplin juga iya sedikit. Ibu saya itu orangnya konsisten. Kalo nakal, ya paling dinasehatin. Tapi waktu kecil itu ya pernah la ya dicubit gitu. Biasa nakalnya anak kecil.
Kalo curhat, apa biasanya yang paling sering dicurhatin sama orangtua? Tentang apa?
Curhat.. masalah sehari-hari aja sih ya. yang buat saya ngerasa nggak nyaman gitu.
Hal yang dicurhatin itu, apa memang benar-benar diceritakan semua, hal umum, atau hal tertentu aja?
Hmm….nggak semua ya. paling hal tertentu aja yang dicurhatin, yang lainnya tetap saya simpan sendiri. Persentasenya kira-kira 40% lah ya. tetap ada hal-hal yang saya kira, tidak perlu orangtua tau juga.
Berarti untuk hal-hal yang mbak butuh saran aja ya?
Nggak juga sih. Saya kalo cerita ya cerita aja. Soalnya, seringnya saran ibu saya itu nggak bermutu gitu hehe. Soalnya, kalo saran ibu saya itu pasti pilihan terakhirnya ya terserah kamu aja gimana bagusnya menurut kamu. Jadi, menurut saya ya ibu saya ya permisif, jadi saya curhat cuma untuk melepaskan beban aja dengan bercerita.
Owh. Berarti ibu mbak nggak otoriter ya?
Nggak kok. Jadi, ya pada akhirnya saya sendirilah yang memilih.
Owh. Memang kayaknya lebih bagusnya gitu ya mbak. Jadi kita lebih mandiri buat ngbil keputusan?
Ya, dan ibu saya itu biasanya juga ngasih alternative kok. Jadi, ya mungkin makaya saya sendiri juga terpola dari pemikiran ibu saya gitu. Yang selalu misalnya,”kalo menurut kamu gimana?” ya saya jawab,”itu terserah. Kalo kamu bialng A bagus ya silahkan, kalo B bagusyan silahkan juga. Karena kamu sendiri undah dewasa, jadi bisa ambil keputusan sendiri”.
Berarti kalo ada yang minta saran mbak bisa kasih saran?
Ya, bisa. Saran dari saya yang subjektif…
Mbak pernah ngerasa iri nggak sama orang, kalo dia punya hal lebih yang mbak ngga punya?
Yah, pernah ya kadang. Tapi tergantung juga seperti apanya. Saya biasa iri sama orang yang lebih bisa memanfaatkan kecerdasannya gitu ya, hehe
Owh, berarti dari sisi akademiknya ya mbak?
Iya. Tapi kalo irinya karena tas bagus, mobil bagus, ya namanya manusia kayaknya wajar ya. Tapi kalo dianya punya prestasi bagus, yah rasanya lebih kerasa aja.
Owh begitu. Hmm.. kalo gitu mungkin sampe disini aja ya mbak buat waktu wawancaranya. Terima kasih karena udah mau diwawancara lagi.













S1:W2.L34-37
(mudah bergaul dengan sekitar)













S1:W2.L124-129
(terobsesi dan iri dalam sisi akademis)







Lampiran 4 : Catatan Observasi

Objek Observasi          : subjek S dan teman-teman di asrama
Lokasi Observasi         : asrama subjek S, dan dapur
Tujuan Observasi        : Untuk melihat perilaku subjek saat sedang mengobrol dengan teman-temanya.
Jenis Observasi            : Non-partisipant
Tanggal                       : 10  Desember 2014
Jam                              : 19.20 – 22.05 WIB
Observasi ke-              : 1
No.
Catatan observasi
Analisis gejala/koding
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Sebelumnya, saat sore di hari itu subjek terlihat sedang sibuk memasak di dapur dengan teman sekamar dan beberapa teman yang ada di asramanya (17.20 WIB). Saat memasak, seringkali subjek memasak sambil mengobrol dan bercengkrama dengan temannya, sampai mereka selesai memasak pada saat magrib sekitar pukul 18.05 WIB.
Setelah selesai magrib, subjek dan temannya makan bersama di tengah ruangan, sambil sesekali tertawa dan mengobrol.


Objek Observasi          : subjek S dan teman sekamar
Lokasi Observasi         : kamar subjek S
Tujuan Observasi        : Untuk melihat perilaku subjek saat sedang mengobrol dengan teman sekamar
Jenis Observasi            : Partisipan, tidak terstruktur
Tanggal                       : 11 Desember 2014
Jam                              : 20.15-21.00 WIB
Observasi ke-              : 2

No.
Catatan observasi
Analisis gejala/koding
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Ketika di kamar, subjek terlihat sedang makan malah bersama teman sekamarnya sambil sesekali bercerita. Tidak lama kemudian, sekitar pukul 20.30 WIB observer mencoba untuk ikut bergabung bercengkrama dengan subjek S dan teman sekamarnya. Subjek terlihat sedang asik mengobrolkan tentang banyak hal, seperti tentang curhatan teman sekamarnya, dan subjek S mendengarkan sesekali memberi saran dan berbicara banyak.




(O2: L9-10) subjek yang mulai terlihat mendominasi pembicaraan



Lampiran 5 : Koding

No.
Kategorisasi
Kode

1.
Penyebab (latar belakang keluarga)




·         Keluarga broken home

·         Pola asuh permisif
S1:W1.L19-37
S1:W1.L38-63
S2:W1.L47-58
S2:W1.L89-92


Gejala




·         Rasa ingin dikagumi

·         Terobsesi terhadap akademisi

·         Kurang empati
S1:W1.L76-79

S1:W1.87-92
S1:W2.L124-129
S2:W1.L15-24
3.
Dampak



·         Pola pikir subjektif

·         Ambisius
·         Interaksi sosial terganggu
S2:W1.L19-28

S1:W1.L87-92
S1:W2.L124-129

S2:W1.L63-69



Lampiran 6

TES GRAFIS

A.      Identitas Subjek
Nama               : S
Jenis Kelamin  : Perempuan
Umur               : 30 tahun
Pendidikan      : SMA
Tanggal tes      : 24 Desember 2014
Tester              : Amelia Prima

B.       Interpretasi Baum

KESAN/DETAIL
DESKRIPSI
INDIKASI
1.      Kesan Umum
Mantap
Kepribadian yang mantap, intelektual, perasaan dan aktualisasi motivasi yang jelas.
2.      Lokasi
Cenderung ke atas
Penuh dengan dunia ide, imajinatif, intelektual, kesadaran yang over indi-vidual.

Cenderung ke kanan
Ekstovert, Orientasi ke arah masa datang, Lebih terbuka, Lebih objektif, Lebih mudah dipengaruhi dunia luar.
3.      Kualitas garis
Tekanan kuat, berat
Dorongan kemauan vitalitas dan energi yang kuat tendensi agresif dan sadis. Sikap tegas.

Tekanan variatif
Sifat agresif, pribadi yang fleksibel, kemampuan adaptasi yang baik, dorongan tidak konsisiten, cemas, impulsif, mudah frustrasi, emisi tak stabil, histeris. Immature dalam emosi, juga tidak stabil, pemurung, perasaan tegang, rasa tidak aman.
Bagian : Mahkota
Mahkota seperti kipas
Regresi, mudah bertindak kasar (hantam kromo), Kurang pengalaman, suka kebutuhan yang mengenakkan, cenderung malas, konsentrasi kurang, kurang tenang, kurang pengalaman, kurang ajar.

Berat ke kanan
Keinginan untuk merasakan sensasi, berkuasa, menyombongkan diri, modis, trendi, ekstrovert
Streep seperti tertiup angin ke kanan
Merasa dikejar waktu, tak punya pegangan

Unter-unter menjadi kecil
Narsisme (perhatian terhadap dirinya sendiri besar), mudah bosan (mudah pindah-pindah) tapi aktivitas keluar tidak ada
Seperti asap dan ruwet dengan dahan berbelok
Suka menggertak, suka main sandiwara, berlagak, pikiran mengembara
Dahan
Dahan yang tersebar
Tidak mempunyai ketetapan diri dalam bekerja atau berpikir, mudah dipengaruhi, impulsive, oposisi, mudah konflik diri.

Dahan tersebar sekali dan tak teratur
 Suka oposisi, ekplosif, mudah terkena konflik
Dahan yang semakin mengecil
Mempunyai kemampuan mengsikroni-sasikan masa lalu dan masa yang akan datang, mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya
Susunan kacau dan kecil
Mudah lupa, tidak suka berpikir, sifat kekanak-kanakan, suka melamun, tidak dapat mengendalikan diri, sifat malu.
Arah ke atas
Rajin dan tak kenal batas, vital aktif
Ke kanan atas
Religius
Batang
Ada flek/nota tebal
Kecemasan

Batang terkelupas kulitnya
trauma
Condong ke kanan
Ekstrovet, penyesuaian baik, suggestible, mudah dipermainkan, suka menolong

Kesimpulan Baum
a. Kognitif
Subjek merupakan pribadi yang intelektual, penuh dengan dunia ide, imajinatif, pikiran yang membara, dan memiliki kesadaran yang over individual. Memiliki arah pikiran yang berorientasi pada masa depan, tidak punya ketetapan diri dalam bekerja atau berpikir, serta mempunyai kemampuan dalam mengsikroni-sasikan masa lalu dan masa yang akan datang.

b. Afektif
Subjek memiliki perasaan dengan kepribadian yang mantap, punya kemauan vitalitas dan energi yang kuat, namun cenderung mengarah pada tendensi agresif. Selain itu, subjek cenderung begitu senang dan punya perhatian yang besar dengan dirinya sendiri (narsis), punya keinginan merasakan sensasi, berkuasa, menyombongkan diri, modis, trendi. Ia cenderung merasa tergesa-gesa, merasa dikejar waktu, namun tidak punya pegangan, serta pernah memiliki trauma di masa lalu.

c. Emosi
Secara emosi, subjek memiliki kecenderungan mudah cemas, pemurung, punya tendensi agresif serta dorongan yang tidak konsisten, emosi yang meledak-ledak, impulsif, mudah frustrasi, suka oposisi, emosi yang tidak stabil, histeris, berlagak, mudah bertindak kasar, menyukai hal yang mengenakkan, perasaan tegang dan rasa tidak aman.

d.  Sosial
Subjek memiliki kemampuan sosial yang cukup baik, hal ini terlihat dari kepribadian subjek yang ekstrovert, terbuka dengan orang lain, lebih objekti dan lebih mudah dipengaruhi oleh dunia luar. Ia cenderung mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya, suggestible, dan suka menolong orang lain.

C.      Interpretasi DAP
KESAN/DETAIL
DESKRIPSI
INDIKASI
Kesan umum
Gambar orang muda
Penghayatan tepat sesuai dengan usianya

Lengkap semua bagian
Kecenderungan ekshibisionis, merasa mampu diterima secara sosial, ketergantungan sosial
Rupawan (cantik)
Tendensi narsistis
Gembira
Bersemangat dan motivasi berprestasi

Lokasi
Di dasar/bawah
Perasaan insecure dan tak pasti, berpikir pada hal-hal konkrit/ berpijak pada realita. Kebutuhan akan kepastian/depresif, kurang usaha, mudah menyerah, di dominasi oleh a sadar, kebutuhan keseimbangan, kontrol, menunjukkan keseimbangan, ketenangan, kestabilan (secara demonstratif).
Cenderung ke kiri
Dikuasai emosi, menekankan masa lalu, tendensi impulsif, self-oriented, introvert, banyak dikendalikan ketidaksadaran, depresif.
Kualitas garis
Gambar terdiri dari garis dasar
Perasaan tak aman, ingin diakui kelompoknya,
Rambut
Diulang-ulang
Suka menyerang
Alis
Teratur
Sebagai hiasan, refleksi sikap kritis namun tidak menentang, kecenderungan kehalusan budi pekerti, kesopanan, cenderung menjaga, memelihara
Mata 
Mata berbentuk bulatan dengan tekanan terkatup

Pertautan ide-ide, paranoid
Mulut
Bibir tebal dan melengkung pada gambar wanita

Sedikit feminin, narcistic (senang pada diri sendiri

Mulut bulat
Cenderung feminine
Mulut terkatup
Menutup diri tidak mau terbuka, menolak ketergantungan, menekan permusuhan.
Telinga
Telinga tidak jelas
Kesadaran pribadi goncang, keraguan

Kurang tekanan
Penolakan terhadap kritik, menolak pendapat orang lain, menghindari halusianasi pendengaran, lebih umum pada orang lanjut usia dari pada orang muda.
Bahu
Lebar dan besar
Dorongan kekuatan fisik, merasa mampu


Ambisius, usaha untuk sukses, mengharapkan perhatian dan kasih sayang
Tangan
Tangan disertai dengan jari-jari yang jelas

Cenderung ke arah paraniod
Paha
Dengan bayangan/arsiran tebal
Kadang-kadang memberi gambaran homoseksual, konflik dalam usaha menemukan jati diri, menenkankan pada dorongan seksuil (pada wanita).
Kaki
Kaki sangat penting di gambar
Permusuhan yang ditekan,atau di kontrol munculnya
Pakaian
Terlalu lengkap
Narsistis (pemujaan terhadap pakaian)
Ada tambahan ornamen
Compulsive.
Perhiasan
Perhiasan ada secara mencolok
Mencari perhatian, menunjukkan penyesuaian yang bersifat psikopatik (kurang wajar) (bila digambar wanita muda, lebih –lebih bila ditekankan bagian seksuilnya)

Ada ikat pinggang
Ketergantungan


Kesimpulan DAP
a.    Kognitif
Subjek S merupakan individu yang memiliki pola pikir yang berpijak pada realita dan pada hal-hal yang konkrit, memikiki pertautan ide-ide, namun terkadang banyak dikendalikan oleh ketidaksadaran dan cenderung mudah paranoid atau curiga terhadap orang lain.

b. Afektif
Subjek memiliki perasaan yang positif dengan merasa mampu diterima secara sosial, punya semangat dan motivasi berprestasi yang tinggi, memiliki kehaluasan budi pekerti serta sopan, suka memelihara dan menjaga sesuatu. Ia juga cenderung memiliki tendensi narsitik, cenderung ambisius terhadap usaha untuk mencapai kesuksesan, namun juga memiliki konflik dalam usaha menemukan jati diri. Namun demikian, ia cukup mampu menunjukkan keseimbangan, ketenangan, kestabilan serta kontrol diri yang baik dan juga cenderung mengharapkan perhatian dan kasih sayang dari sekitarnya.


c. Emosi
Secara emosi,subjek memiliki emosi yang meledak-ledak dan mudah dikuasai emosi, namun ia beruasaha menekan dan mengontrol diri serta menekan permusuhan. Ia cenderung individu yang berorientasi pada diri sendiri (self-oriented), sering mengalami keraguan dan sering terikat dengan masa lalu, compulsive, tergantung terhadap sesuatu, mudah depresif, dan memiliki konflik dalam menemukan jati diri.

d. Sosial
Dalam berhubungan sosial dengan orang lain, subjek cenderung merasa dirinya mampu diterima secara baik oleh orang-orang di sekitarnya, mudah menyesuaikan diri, dan suka mencari perhatian dari sekitarnya. Ia juga cenderung merasa ingin diakui oleh orang-orang di dekatnya. Namun dalam berinteraksi, ia cenderung kurang mampu bersikap terbuka dengan pendapat orang lain serta menolak kritikan dari luar.


D.      Interpretasi HTP
KESAN/DETAIL
DESKRIPSI
INDIKASI
Lokasi
Tengah, besar
Tendensi maniak, paranoid dengan waham kebesaran
Atas pojok kiri 
Tendensi agresif
Posisi
Jarak berdekatan
Perasaan dan hubungan interpersonal yg hangat dengan orang tua
Komposisi
Dominan rumah
Menghargai peran ibu, fungsi ayah otoritas kurang, peran ibu baik, presepsi baik
Rumah
Jendela tanpa kaca
Kecenderungan  bermusuhan dan oposisi. Kemungkinan oral/anak erotis
Pintu rumah
Tidak tampak
Tidak dapat didekati secara psikologis, renggang dlm keluarga
Aktivitas orang
Meninggalkan rumah
Keinginan untuk meninggalkan kegiatan keluarga
Lokasi orang
Di luar pagar
Perasaan dikucilkan keluarga
Disiplin ketat. Kurang bebas melakukan sesuatu


1.    Inquiry HTP
“Anak kecil sedang menangkap kupu-kupu di sekitar rumahnya yang ada pohon mangga di samping”
2.    Hasil Observasi
Selama pengerjaan, subjek terlihat mengerjakan dengan spontan, sedikit terburu-buru, yakin, dan tidak ragu-ragu saat menggambar. Waktu pengerjaanpun tidak lama, sekitar 15 menit.

3.    Kesimpulan HTP
Dalam hubungan dengan keluarganya, subjek cenderung memiliki perasaan seperti dikucilkan oleh keluarga. Hal ini terlihat dari keluarga yang tidak utuh dengan hilangnya peran dari orang tua yaitu ayah dalam keluarganya. Sosok ayah bagi subjek memiliki persepsi dan peran yang kurang baik, ayah  yang cenderung agresif, dan kurang disukai subjek. Subjek begitu dekat dengan sosok orang tua (ibu), dan ia memiliki persepsi yang baik terhadap peran ibunya. Namun, subjek juga merasa cenderung ingin meninggalkan kegiatan dan hal yang berhubungan dengan keluarga khususnya tentang sosok ayah, dan pernah merasakan disiplin yang ketat dari didikan orang tuanya.

E. Kesimpulan Tes BAUM, DAP, dan HTP
a. Aspek kognitif
Subjek S merupakan pribadi yang memiliki ide yang luas, imajinatif, pikiran yang membara, dan memiliki kesadaran yang over-individual. Memiliki arah pikiran yang berorientasi pada masa depan, tidak punya ketetapan diri dalam bekerja atau berpikir, serta mempunyai kemampuan dalam menghubungakan antara masa lalu dan masa yang akan datang. Ia juga memiliki pola pikir yang berpijak pada realita dan pada hal-hal yang konkrit, namun terkadang banyak juga dikendalikan oleh ketidaksadaran dan cenderung mudah paranoid atau curiga terhadap orang lain.



b. Aspek Afektif
Subjek memiliki perasaan dengan kepribadian yang mantap, punya semangat dan motivasi berprestasi yang tinggi, namun cenderung mengarah pada tendensi agresif dan ambisius terhadap usaha untuk mencapai kesuksesan. Selain itu, subjek cenderung begitu senang dan punya perhatian yang besar dengan dirinya sendiri (narsis), punya keinginan merasakan sensasi, berkuasa, menyombongkan diri, modis, trendi, dan juga cenderung mengharapkan perhatian dan kasih sayang dari sekitarnya. Ia cenderung merasa tergesa-gesa, merasa dikejar waktu, namun tidak punya pegangan, memiliki konflik dalam usaha menemukan jati diri, serta pernah memiliki trauma di masa lalu. Selain itu, ia juga memiliki perasaan yang positif dengan merasa mampu diterima secara sosial, memiliki kehalusan budi pekerti serta sikap yang sopan, suka memelihara dan menjaga sesuatu. Ia juga cukup mampu menunjukkan keseimbangan, ketenangan, kestabilan serta kontrol diri yang baik.

c. Aspek emosi
Secara emosi, subjek memiliki kecenderungan mudah cemas, pemurung, punya tendensi agresif serta dorongan yang tidak konsisten, mudah dikuasai emosi dan emosi yang meledak-ledak, impulsif, mudah frustrasi, suka oposisi, emosi yang tidak stabil, histeris, berlagak, mudah bertindak kasar, menyukai hal yang mengenakkan, perasaan tegang dan rasa tidak aman. Namun ia berusaha menekan dan mengontrol diri serta menekan permusuhan. Ia cenderung individu yang berorientasi pada diri sendiri (self-oriented), sering mengalami keraguan dan sering terikat dengan masa lalu, compulsive, tergantung terhadap sesuatu, mudah depresif, dan memiliki konflik dalam menemukan jati diri.

d. Aspek Sosial
Subjek memiliki kemampuan sosial yang cukup baik, hal ini terlihat dari kepribadian subjek yang ekstrovert dan cenderung merasa dirinya mampu diterima secara baik oleh orang-orang di sekitarnya, terbuka dengan orang lain, objektif, dan lebih mudah dipengaruhi oleh dunia luar dan suka mencari perhatian dari sekitarnya. Ia cenderung mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya, suggestible, dan suka menolong orang lain. Selain itu, ia juga cenderung merasa ingin diakui oleh orang-orang di dekatnya. Namun dalam berinteraksi, ia juga cenderung kurang mampu bersikap terbuka dengan pendapat orang lain serta menolak kritikan dari luar.
Berkenaan dengan hubungan dengan keluarganya, subjek cenderung memiliki perasaan seperti dikucilkan oleh keluarga. Hal ini terlihat dari keluarga yang tidak utuh dengan hilangnya peran dari orang tua, yaitu ayah dalam keluarganya. Sosok ayah bagi subjek memiliki persepsi dan peran yang kurang baik, ayah  yang cenderung agresif, dan kurang disukai subjek. Subjek begitu dekat dengan sosok orang tua (ibu), dan ia memiliki persepsi yang baik terhadap peran ibunya. Selain itu, subjek juga merasa cenderung ingin meninggalkan kegiatan dan hal yang berhubungan dengan keluarga khususnya tentang sosok ayah, dan pernah merasakan disiplin yang ketat dari didikan orang tuanya.

0 Komentar