I. IDENTITAS
A.
Identitas
Subjek
Nama : S
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 30 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : S2 Akuntansi
Pekerjaan : Mahasiswa master (S2)
Status : Belum menikah
Anak Ke : 1 dari 3 bersaudara
Alamat : Gowok, Yogyakarta
B.
Identitas
Orang Tua
Nama ayah : SI
Usia : 58
Pendidikan : SMP
Agama : Islam
Pekerjaan : Tidak bekerja
Keadaan : Cerai dengan istri, tinggal di daerah yang berbeda
Alamat : Jawa Timur
Nama Ibu : RH
Usia : 58
Pendidikan : D2
Agama : Islam
Pekerjaan : PNS guru
Keadaan : Cerai dari suami, tinggal dengan anak-anak
Alamat : Bangka Belitung
C.
Alloanamnesa
didapat dari:
1. Nama : NK
Jenis
Kelamin : Perempuan
Status : Mahasiswa
Pekerjaan : mahasiswa
Pendidikan : S1
Usia : 24
Hub.dg.subjek : Teman sekamar
II.
PERMASALAHAN
Subjek (S) merupakan seorang
perempuan berusia 30 tahun dengan status dirinya belum menikah, dan saat ini
masih menjalani studi S2 nya di salah satu perguruan tinggi negeri di
Yogyakarta. Bentuk problem yang dialami subjek adalah berfokus pada adanya
gejala kepribadian narsistik, yang mengarah pada permasalahan emosi berupa
kurangnya rasa empati diri saat berbicara dengan orang lain, senang mendominasi,
perasaan yang begitu terobsesi dan berambisi terhadap kesuksesan dan begitu ingin
dikagumi, serta keterhubungan antara subjek dengan orang tua dan latar belakang
keluarga yang menjadi salah satu yang mendasari penyebab dari problem yang
dialami oleh subjek.
III.
DASAR TEORI
A.
Devinisi
narsistik
Narsistik dalam kamus lengkap
Bahasa Inggris-Indonesia berasal dari kata narcissus
yang berarti narsis (Poerwadarminto dan Wojowasito,1980). Individu dengan
gangguan kepribadian narsistik mempunyai maksud kepentingan yang tidak
realistis, berlebihan, dimana sifat ini dikenal dengan istilah grandiosity (kebesaran diri). Nama
gangguan ini berasal dari legenda Yunani Nascissus,
seorang anak muda yang merasa jatuh cinta dengan bayangan dirinya sendiri dari
kolam.
Kepribadian narsistik adalah Sebuah
gangguan kepribadian yang ditandai oleh selft-image
yang begitu tinggi serta tuntutan akan perhatian dan pemujaan (Jeffrey dkk.,
2007: 283). Individu dengan gangguan kepribadian narsistik memiliki perasaan
yang kuat bahwa dirinya adalah orang yang penting serta merupakan individu yang
unik, merasa spesial dan berharap mendapatkan perlakuan yang khusus (Fauziah
dan Widuri, 2005 : 159).
Sadarjoen (2003) yang mengutip
Mitchell dalam bukunya, The Natural
Limitations of Youth, ada 5 penyebab kemunculan kepribadian narsis pada
remaja, yaitu adanya kecenderungan mengharapkan perlakuan khusus, kurang bisa
berempati dengan orang lain, sulit memberikan kasih sayang, belum punya control
moral yang kuat, dan kurang rasional dalam berfikir (www.duniapsikologi.com9/3/2013).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku
narsistik adalah perilaku yang ditandai dengan kecenderungan untuk memandang
dirinya dengan cara yang berlebihan, senang sekali menyombongkan dirinya dan
berharap orang lain memberikan pujian selain itu tertanam dalam dirinya
perasaan paling mampu, paling unik dan merasa khusus dibandingkan orang lain.
B.
Karakteristik
perilaku narsistik
Menurut Papu (2002) yang mengutip
DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual
of Mental Disorders – Fourth Edition) orang yang narsistik akan mengalami
gangguan kepribadian, gangguan kepribadian yang dimaksud adalah gangguan
kepribadian narsisistik atau narcissistic
personality disorder. Gangguan kepribadian ini ditandai dengan ciri-ciri
berupa perasaan superior bahwa dirinya adalah paling penting, paling mampu,
paling unik, sangat eksesif untuk dikagumi dan disanjung, kurang memiliki
empati, angkuh dan selalu merasa bahwa dirinya layak untuk diperlakukan berbeda
dengan orang lain.
Menurut DSM-IV (Diagnostic and
Statistical Manual of Mental Disorders – Fourth Edition) individu dapat
dianggap mengalami gangguan kepribadian narsissistik jika ia sekurang-kurangnya
memiliki 5 dari 9 ciri kepribadian sebagai berikut:
1. Merasa
diri paling hebat
Jika seseorang merasa dirinya paling hebat
penting (bedakan dengan orang yang benar-benar hebat atau penting) maka ia
tidak akan malu-malu untuk memamerkan apa saja yang bisa memperkuat citranya
tersebut.
2. Seringkali
memiliki rasa iri pada orang lain atau menganggap bahwa orang lain iri
kepadanya.
Apabila seseorang sering mempunyai sifat
yang tidak senang akan rizki dan nikmat yang didapat oleh orang lain dan
cenderung berusaha untuk menyainginya, tetapi sebaliknya menanggapi orang lain
yang iri terhadapnya.
3. Fantasi
kesuksesan & kepintaran.
Orang yang narsis biasanya dipenuhi
dengan fantasi tentang kesuksesan, kekuasaan, kepintaran, kecantikan atau cinta
sejati.
4. Sangat
ingin dikagumi.
Pada umumnya seseorang yang mengambil jalan
pintas untuk mendapatkan apa yang diingikan yang tujuannya adalah dia yang
sangat terobsesi untuk dikagumi oleh orang lain. Oleh karena itu, mereka
berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan “simbol-simbol” yang dianggap menjadi
sumber kekaguman, termasuk gelar akademik.
5. Kurang
empati.
Seseorang yang mempunyai kepribadian
narsis kurang memiliki empati dalam hal apapun, sebab dia hanya memikirkan
perasaanya sendiri jika mereka memilikinya, maka mereka pasti tahu bagaimana
perasaan seseorang yang dia sakiti perasaanya.
6. Merasa
layak memperoleh keistimewaan.
Setiap individu yang mengalami gangguan
kepribadian narsisistik merasa bahwa dirinya berhak untuk mendapatkan
keistimewaan.
7. Angkuh
dan sensitif terhadap kritik.
Pada umumnya, para penyandang gelar
palsu sangat marah dan benci pada orang-orang yang mempertanyakan hal-hal yang
menyangkut gelar mereka.
8. Kepercayaan
diri yang semu.
Jika dilihat lebih jauh, maka rata-rata individu
yang mengambil jalan pintas dalam mendapatkan sesuatu yang diinginkan
seringkali disebabkan karena rasa percaya dirinya yang semu.
9. Yakin
bahwa dirinya khusus, unik dan dapat dimengerti oleh orang-orang tertentu.
Orang yang narsis menganggap bahwa
dirinya dilahirkan ditakdirkan menjadi orang yang khusus, unik dan dapat
dimengerti oleh orang tertentu (nurawlia.wordpress.com19/3/2013).
C.
Faktor
penyebab
Terbentuknya narsisme merupakan
suatu hal yang menarik dan mendorong beberapa analisis teoritis yang penting
dengan melihat asal mula dan perkembangannya. Pendekatan tradisional
psikodinamika Freud melihat narsisme sebagai kegagalan untuk mengalami kemajuan
melewati tingkat yang lebih rendah dalam perkembangan psikoseksualnya.
Konseptualisasi terbaru lebih banyak terjadi pada relasi objek yang terfokus
pada pengaruh gangguan dalam hubungan antara orang tua dan anak dalam
mengembangkan jati diri anak. Setiap anak membutuhkan orang tua untuk
memberikan ketenangan hati dan respon positif dalam menghargai. Tanpa hal
tersebut, anak akan membentuk rasa tidak aman. Perasaan ketidaknyamanan ini
diungkapkan, secara berlawanan, dalam arti yang luas tentang kepentingan diri
sendiri yang dapat dimengerti sebagai usaha seseorang untuk mengembalikan apa
saja yang hilang di masa awal kehidupannya (Kohut, 1966,1971).
Kurangnya fondasi yang kokoh dalam
diri yang sehat, individu tersebut kemudian mengembangkan jati diri yang salah
dengan sulit didasari pada omongan yang berlebihan dan pikiran yang tidak
realistis mengenai kemampuan mereka dan sifat disenangi (Masterson & Klein,
1989).
IV.
TUJUAN
Studi kasus ini dilakukan bertujuan
untuk mengungkapkan, mengkaji lebih mendalam permasalahan subjek terkait gejala
narsistik yang dialami oleh subjek, mencoba menggali latar belakang apa saja
yang mempengaruhi munculnya permasalahan tersebut serta gejala yang terlihat.
Selanjutnya, tujuan dari penggalian data ini adalah untuk mengetahui bagaimana
aspek kognitif, afeksi, sosial, dan lainnya yang ikut mempengaruhi dan
dipengaruhi oleh problem narsistik yang dialami oleh subjek.
V.
PROSES PENGUMPULAN DATA
A.
Observasi
Observasi merupakan salah satu bentuk metode pengumpulan
data yang dilakukan secara sistematis dan sengaja melalui pengamatan dan
pencatatan terhadap gejala objek yang diteliti. Secara sempit, observasi dapat
diartikan sebagai pengamatan secara langsung terhadap gejala yang diselidiki, baik dalam situasi ilmiah maupun situasi buatan. Secara luas, observasi
dapat diartikan sebagai pengamatan yang dilakukan secara tidak langsung dengan
menggunakan alat-alat bantu yang sudah dipersiapkan sebelumnya maupun yang
diadakan khusus untuk keperluan tersebut. Dengan demikian, secara umum observasi
dapat didevinisikan
sebagai kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang
muncul, dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam suatu fenomena (Fitria,
2014).
Pada
penelitian ini, peneliti menggunakan 2 jenis observasi, yaitu: observasi
partisipan, yaitu salah satu jenis observasi yang dalam hal ini peneliti
sebagai observer turut serta mengambil bagian dalam kehidupan subjek yang
diobservasi. Tujuan menggunakan jenis observasi ini adalah untuk mengeksplorasi
dan menyelidiki lebih mendalam perilaku subjek berkaitan dengan masalah
narsistik dan latar belakang serta lingkungan subjek. Selain itu, digunakan
jenis wawancara non-partisipan, yaitu observer hanya mengamati tanpa langsung
turut mengambil bagian dalam kegiatan subjek yang diobservasi. Ini dilakukan
dengan tujuan untuk melihat perilaku natural subjek tanpa adanya perasaan
diobservasi oleh observer.
Kemudian, strategi pencatatan data observasi yang digunakan adalah narrative
types, dimana
pengumpulan dan pencatatan data oleh observer dilakukan apa adanya terhadap S
(subjek utama/autoanamnesa) maupun NK yang merupakan subjek yang terkait dengan
subjek utama (alloanamnesa), sesuai dengan kejadian dan urutan kejadian
sebagaimana yang terjadi pada situasi nyata. Metode pencatatan data dilakukan dengan strategi narrative types khususnya jenis metode pencatatan data anecdotal records, dimana peneliti
melaporkan apapun yang terjadi dan penting bagi pengamat kapan saja perilaku
terjadi, pada orang yang berbeda dan waktu yang berbeda. Metode ini tidak
membutuhkan spesifikasi waktu tertentu tetapi dapat dilakukan kapanpun ketika
perilaku yang penting/menarik muncul, tidak tergantung pada setting atau lingkungan tertentu dan
dapat dilakukan dimanapun. (Fitria, 2014).
B.
Wawancara
Wawancara adalah suatu proses yang melibatkan dua orang atau lebih dengan berhadap-hadapan
secara fisik, yang satu dapat melihat muka/wajah orang yang lain dan
mendengarkan yang diterima dengan telinganya sendiri. Wawancara merupakan sebuah
metode tanya jawab yang digunakan untuk menyelidiki pengalaman, perasaan, serta
motif dari subjek yang
diteliti. Wawancara juga dapat didefinisikan sebagai perbincangan yang menjadi sarana
untuk mendapatkan informasi dan bertujuan untuk mendapatkan penjelasan atau
pemahaman tertentu tentang seseorang dalam hal tertentu (Fitria, 2014).
Penelitian dalam studi
kasus ini menggunakan metode penggalian data berupa
wawancara dengan bentuk tatap muka secara langsung secara individual. Pelaksanaan wawancara pada studi kasus ini menggunakan jenis
wawancara semi terstruktur,
yaitu proses wawancara dengan percakapan yang diarahkan untuk menggali
topik-topik yang telah ditetapkan sebelumnya oleh peneliti terhadap S (subjek
utama/autoanamnesa) dan subjek NK (allonamnesa), dan pertanyaan baru yang
menyertainya merupakan bentuk pendalaman dari topik yang diambil.
PANDUAN
PENGUMPULAN DATA
No.
|
ASPEK
& PERTANYAAN PENELITIAN
|
METODE
PENGUMPULAN DATA DAN SUMBER DATA
|
LATAR
BELAKANG RIWAYAT SUBJEK (Masa Lalu Subjek)
|
||
1.
|
Bisa anda ceritakan tentang kehidupan
masa kecil anda? Bagian apa yang paling menyenangkan? Apakah ada yang tidak
menyenangkan? Bisa anda ceritakan?
|
Wawancara
dengan subjek 1 (autoanamnesa) & subjek 2 (alloanamnesa)
|
2.
|
Bagaimana bentuk pola pengasuhan orang
tua anda kepada anda?
|
Wawancara
dengan subjek 1 (autoanamnesa)
|
3.
|
Seberapa dekat hubungan anda dengan
orangtua?
|
Wawancara
dengan subjek 1 (autoanamnesa)
|
4.
|
Ketika memiliki masalah, apakah anda
sering curhat/mengutarakan/bercerita kepada orantua anda?
|
Wawancara
dengan subjek 1 (autoanamnesa)
|
5.
|
Bagaimana respon orangtua anda saat
anda ingin didengarkan?
|
Wawancara
dengan subjek 1 (autoanamnesa)
|
6.
|
Apakah orangtua anda terlalu
memanjakan anda?
|
Wawancara
dengan subjek 1 (autoanamnesa)
|
GEJALA
|
||
1.
|
Bagaimana perasaan anda ketika
mendapat pujian dari oranglain? Apakah anda merasa sangat senang?
|
Observasi
& Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
|
2.
|
Apakah anda begitu sangat ingin
dikagumi oleh orang lain?
|
Observasi
& Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
|
3.
|
Bagaimana anda menilai diri anda
sendiri? Apakah anda menganggap diri anda begitu spesial/unik daripada orang
lain?
|
Observasi
& Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
|
4.
|
Saat orang lain memberi
pendapat/menasehati/mengkritik anda, apakah anda bersedia mendengarkan dan
mengikutinya?
|
Observasi
& Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
|
5.
|
Apakah anda begitu ingin pendapat anda
didengarkan oleh orang lain?
|
Observasi
& Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa) & subjek 2
|
6.
|
Ketika berhadapan dengan sesuatu,
apakah anda lebih cenderung ingin mengutamakan kepentingan orang lain
terlebih dulu, ataukah diri anda sendiri dulu?
|
Wawancara
dengan subjek 1 (autoanamnesa) & subjek 2 (alloanamnesa)
|
7.
|
Apa bentuk orientasi anda dalam hidup?
Apakah anda terobsesi terhadap sesuatu? Seperti apa?
|
Wawancara
dengan subjek 1 (autoanamnesa)
|
8.
|
Ketika melihat orang lain lebih
baik/memiliki sesuatu yang lebih baik daripada anda, bagaimana perasaan anda?
Apakah anda merasa begitu iri/cemburu?
|
Wawancara
dengan subjek 1 (autoanamnesa)
|
PERLAKUAN
LINGKUNGAN
|
||
1.
|
Apakah ketika
waktu senggang, anda lebih senang berkumpul dengan teman, ataukah menyendiri?
|
Observasi
& Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
|
2.
|
Menurut anda,
apakah orang-orang di sekitar anda menyukai anda? Apakah anda merasa ada
banyak orang yang tidak menyukai perilaku anda?
|
Observasi
& Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa
|
3.
|
Bagaimana cara
anda mengatasi ketika ada orang yang tidak senang dengan perilaku anda?
|
Wawancara dengan
subjek 1 (autoanamnesa)
|
4.
|
Apakah anda
punya teman dekat? Seberapa banyak?
|
Wawancara
dengan subjek 1 (autoanamnesa)
|
5.
|
Seperti apa
biasanya tanggapan orang lain tehadap sikap nasris dan suka mendominasi yang
anda punya? Apa mereka merasa nyaman saja dengan sikap anda?
|
Observasi
& Wawancara dengan subjek 2 (alloanamnesa)
|
PROSES
PENGUMPULAN DATA
No.
|
Tanggal/Jam
|
Kegiatan Pengumpulan Data
|
Strategi
|
1.
|
10 Desember 2014/20.20 – 21.15 WIB
|
Observasi
subjek 1 (autoanamnesa)
|
Observasi
non-partisipan
|
2.
|
11Desember 2014/19.20 – 22.05 WIB
|
Observasi
subjek 1 (autoanamnesa)
|
Observasi
partisipan
|
3.
|
16 Desember 2014/19.00- 20.15 WIB
|
Wawancara
subjek 1 (autoanamnesa)
|
Wawancara
semi terstruktur
|
4.
|
18 Desember 2014/19.00-20.15 WIB
|
Wawancara
Subjek 2 (alloanamnesa)
|
Wawancara
semi terstruktur
|
5.
|
19
Desember 2014/21.00-21.30 WIB
|
Wawancara
subjek 1 (autoanamnesa)
|
Wawancara
semi terstruktur
|
6.
|
24
Desember 2014/ 09.00-10.00 WIB
|
Tes
Grafis (BAUM, DAP, HTP)
|
Pemberian
tes dan observasi
|
C.
Tes Grafis (BAUM, DAP, dan HTP)
Selain
melakukan observasi dan wawancara, pada studi kasus ini digunakan pula Tes
Grafis untuk menggali dan mengumpulkan data serta membuktikan hal yang terkait
mengenai kecenderungan perilaku narsistik pada subjek. Dalam penelitian ini,
terdapat 3 macam tes grafis yang digunakan, antara lain: tes BAUM, tes DAP, dan
tes HTP:
1. Tes BAUM
Penerapan
dan penggunaan tes pohon (Tes Baum) pada awalnya digunakan untuk membantu dalam diagnosis oleh seorang
konsultan pemilihan jurusan, Emil Jucher. Tes ini kemudian dikembangkan oleh
Charles Koch, yang sekarang dikenal sebagai tes pohon (Baum Test).
Semula
instruksinya sederhana, yaitu: “gambarlah, sebagai contoh gambarlah pohon”
Dengan instruksi ini, orang bebas untuk menyatakan dirinya dalam berbagai
bentuk pohon, apakah dalam bentuk semak belukar, pohon pinus atau pohon-pohon
buah-buahan yang rindang maupun bentuk pohon-pohon yang lainnya. Dengan
instruksi ini didapatkan gambar pohon yang secara psikologis sangat menarik,
tetapi menimbulkan kesukaran untuk menentukan bentuk pernyataan ini secara
sistematis. Karena itu dipilih satu tema saja yang berhubungan dengan struktur
gaya menulis yang normal dalam grafologi
2. Tes gambar manusia (DAP)
Tes
DAP ini dilakukan setelah subjek selesai mengerjakan tes BAUM. Dengan
menggunakan tes DAP ini, hal-hal yang dapat digali dari subjek seperti menurut Levy, dimungkinkan
beberapa hal antara lain:
a) Gambar yang tersebut merupakan proyeksi dari self
concept
b) Proyeksi dari sikap individu terhadap lingkungan
c) Proyeksi dari ideal self
imagenya
d) DAP sebagai suatu hasil pengamatan individu terhadap lingkungan.
e) Sebagai ekspresi pada kebiasaan dalam hidupnya
f) Ekspresi keadaan emosinya (emotional
tone)
g) Sebagai proyeksi sikap subyek terhadap tester dan situasi tes
tersebut
h) Sebagai ekspresi sikap subyek terhadap kehidupan/ masyarakat pada
umumnya
i) Ekspresi sadar dan ketidak-sadarannya
3. Tes Gambar Rumah (HTP)
Rumah, pohon dan manusia (HTP: house,
tree and person) merupakan salah satu tes grafis yang berguna untuk
melengkapi tes grafis yang lain, yaitu untuk mengetahui hubungan keluarga.
Waktu normal menggambar adalah 10 menit tetapi sebenarnya juga tidak terbatas.
Tujuan tes HTP ini adalah untuk mengukur keseluruhan pribadi individu.
VI.
HASIL PENGUMPULAN DATA DAN PEMBAHASAN
Pada hasil pengumpulan data yang dilakukannya
sebelumnya melalui observasi, wawancara, serta tes grafis secara garis besar
akan dibahas sebagai berikut:
A.
Sebab
1.
Masa lalu subjek
Berdasarkan
hasil wawancara awal, subjek menceritakan sedikit banyak tentang masa lalu dan
latar belakang serta problem keluarga yang dialami subjek. Diceritakan, bahwa
subjek memiliki keluarga broken home,
yaitu dari perceraian orang tua yang terjadi saat subjek masih kecil, ketika
kelas 1 SD. Perceraian orang tua subjek terjadi karena masalah dalam rumah
tangga, karena ayah subjek yang tidak bekerja dan menjadi pengangguran,
sedangkan ibu subjek yang lebih banyak mencari nafkah, dengan profesi sebagai
guru PNS untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selain itu, perbuatan kasar dengan memukul yang
seringkali dilakukan oleh ayah subjek terhadap ibu subjek menjadi penyebab
selanjutnya dari perceraian yang terjadi. Sampai sekarang, subjek tidak pernah
lagi bertemu dengan ayahnya dan mereka sudah berpisah jauh. Ayahnya telah
kembali ke daerah asalnya di Jawa Timur, sedangkan subjek dengan ibu serta
adiknya tinggal di daerah Sumatera, tepatnya di Pangkalpinang, Bangka Belitung.
Pernyataan subjek pada (S1:W1.L19-37) mendasari asumsi tersebut. Selain itu,
hubungan terkait kedekatan subjek dengan orang tua subjek juga dapat terlihat
dari hasil analisis tes Grafis (tes HTP) yang menyatakan bahwa adanya
kecenderungan perasaan broken home
keluarga dengan hilangnya sosok dan peran ayah dalam keluarga subjek.
2. Pola asuh
Dari uraian pada (S1:W1.L38-63 dan
S1:W2.L82-87), dijelaskan bahwa dari kondisi keluarga yang broken home, subjek kemudian secara langsung tinggal bersama ibunya
serta adiknya. Selama masa hidup, subjek hanya dididik dan diasuh oleh ibunya,
sehingga menjadikannya begitu dekat dengan sosok ibu. Selama mendidik anaknya,
ibu subjek cenderung mendidik dengan cara permisif, membiarkan dan tidak
memaksa dan lebih cenderung mengikuti saja perkembangan anaknya, tidak
memanjakan, namun masih dengan kontrol dan sikap yang tegas. Dan jika subjek
melakukan kesalahan dan bersikap nakal, ibu subjek akan menghukum dalam batas
yang sewajarnya, tidak memukul tapi hanya dengan cubitan saja.
Dari kedekatan subjek dengan
ibunya, membuat subjek lebih cenderung menjadikan ibunya sebagai sahabat
terdekatnya. Ketika sedang ingin curhat, subjek seringkali menceritakan tentang
masalahnya kepada ibunya. Ibu subjek dapat mendengar cerita anaknya dengan
baik. Ketika subjek membutuhkan saran, ibu subjek cenderung tidak memberikan
saran utama, tapi hanya memberikan alternatif terkait dengan solusi yang akan
diambil subjek. Dimana subjek lebih disediakan untuk mengambil keputusan
berdasarkan dirinya sendiri secara pribadi dan mandiri. Pernyataan ini dapat
dilihat dari penjelasan pada (S1:W2. L100-117 dan S1:W2.L34-37).
B. Gejala
1. Aspek
kognitif
Dalam
hal aspek kognisi, individu dengan kecenderungan narsistik biasanya memiliki
obsesi serta fantasi tentang kesuksesan, kepintaran, kekuasaan, dan hal lainnya
yang begitu ingin dimiliki subjek. Dalam hal ini, subjek dapat dikatakan
memiliki obsesi terhadap sesuatu, yaitu keinginan dan mimpi yang besar untuk
mengejar sisi akademisi dan prestasi (S1:W1.L76-79, S1:W1.87-92, S2:W1.L47-58
dan S1:W2.L124-129). Obsesi yang sangat besar ini dapat terlihat dari keputusan
subjek saat dirinya dengan usia menginjak 30 tahun, lebih memilih untuk
melanjutkan pendidikan kuliah S2 nya dan menolak lamaran dari orang yang ingin
menikahinya (S2:W1.L89-92).
Selain
itu, dari hasil analisis tes grafis mengungkapkan bahwa subjek S merupakan
pribadi yang memiliki ide yang luas, imajinatif, pikiran yang membara, dan
memiliki kesadaran yang over-individual. Ia memiliki arah pikiran yang
berorientasi pada masa depan, tidak punya ketetapan diri dalam bekerja atau
berpikir, serta mempunyai kemampuan dalam menghubungakan antara masa lalu dan
masa yang akan datang. Ia juga memiliki
pola pikir yang berpijak pada realita dan pada hal-hal yang konkrit, namun
terkadang banyak juga dikendalikan oleh ketidaksadaran dan cenderung mudah
paranoid atau curiga terhadap orang lain.
2. Aspek
afektif
Individu
yang memiliki kecenderungan narsistik memiliki perasaan yang begitu besar
terhadap dirinya, seperti merasa dirinya paling hebat, merasa orang lain iri
terhadap dirinya, punya rasa yang besar untuk dikagumi, merasa yakin bahwa
dirinya istimewa dan unik sehingga layak diperlakukan istimewa oleh orang lain.
Perilaku
subjek yang berkenaan dengan hal tersebut dapat terlihat dari sikap senang
mendominasi orang lain ketika subjek sedang mengobrol, bercerita dengan
temannya. Subjek memiliki rasa ‘keakuan’ yang tinggi terhadap diri sendiri. Hal
ini seperti yang tertuang dalam hasil wawancara pada (S2:W1.L15-24). Selain
itu, sikap subjek dapat terlihat dari observasi pada (O2: L9-10) ketika subjek
kelihatan mendominasi dan banyak berbicara saat sedang mengorol dengan
temannya.
Selain
itu, hasil tes grafis mengungkapkan sisi afeksi subjek yang Subjek
memiliki perasaan dengan kepribadian yang mantap, punya semangat
dan motivasi berprestasi yang tinggi, namun cenderung mengarah
pada tendensi agresif dan ambisius terhadap usaha untuk mencapai
kesuksesan. Selain itu, subjek cenderung begitu senang dan punya
perhatian yang besar dengan dirinya sendiri (narsis), punya keinginan merasakan
sensasi, berkuasa, menyombongkan diri, dan juga cenderung mengharapkan perhatian
dan kasih sayang dari sekitarnya. Ia cenderung merasa tergesa-gesa, merasa
dikejar waktu, namun tidak punya pegangan, memiliki konflik dalam usaha
menemukan jati diri, serta pernah memiliki trauma di masa lalu. Selain itu, ia
juga memiliki perasaan yang positif dengan merasa mampu diterima secara sosial,
memiliki kehalusan budi pekerti serta sikap yang sopan, suka memelihara dan
menjaga sesuatu. Ia juga cukup mampu menunjukkan keseimbangan, ketenangan,
kestabilan serta kontrol diri yang baik.
3. Aspek
emosi
Melalui
hasil tes grafis diungkapkan sisi emosi subjek yang memiliki kecenderungan
mudah cemas, pemurung, punya tendensi agresif serta dorongan yang tidak
konsisten, mudah dikuasai emosi dan emosi yang meledak-ledak, impulsif, mudah
frustrasi, suka oposisi, emosi yang tidak stabil, histeris, berlagak, mudah
bertindak kasar, menyukai hal yang mengenakkan, perasaan tegang dan rasa tidak
aman. Namun ia berusaha menekan dan mengontrol diri serta menekan permusuhan.
Ia cenderung individu yang berorientasi pada diri sendiri (self-oriented), sering mengalami keraguan dan sering terikat
dengan masa lalu, compulsive,
tergantung terhadap sesuatu, mudah depresif, dan memiliki konflik dalam
menemukan jati diri.
4. Aspek
sosial
Secara
sosial, subjek S kurang berempati terhadap orang lain, yang menjadi salah satu
gejala dari narsistik. Subjek S terlihat kurang berempati dalam hal ketika
sedang berbicara dan mengemukakan pendapatnya, ia cenderung seringkali
mengukuhkan apa yang ia katakan merupakan hal yang paling benar, dan kurang
memperhatikan pendapat orang lain. Hal ini sdidapat dari penuturan teman sekamar
subjek pada wawancara (S2:W1.L15-24).
Meskipun
demikian, subjek S juga memiliki kemampuan sosial yang cukup baik, hal ini
terlihat dari kepribadian subjek yang ekstrovert dan cenderung merasa dirinya
mampu diterima secara baik oleh orang-orang di sekitarnya, terbuka dengan orang
lain, objektif, dan lebih mudah dipengaruhi oleh dunia luar dan suka mencari
perhatian dari sekitarnya. Ia cenderung mudah menyesuaikan diri dengan
lingkungannya, suggestible, dan suka
menolong orang lain. Selain itu, ia juga cenderung merasa ingin diakui oleh
orang-orang di dekatnya. Namun dalam berinteraksi, ia juga cenderung kurang
mampu bersikap terbuka dengan pendapat orang lain serta menolak kritikan dari
luar.
C.
Dampak permasalahan pada perkembangan subjek
1. Aspek
kognitif
Dengan
memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan begitu nyaman dengan dirinya sendiri
terkait dengan gejala narsistik, subjek cenderung memiliki pola pikir yang berpijak pada realita dan
pada hal-hal yang nyata saja, dan cenderung subjektif, lebih berorientasi pada
dirinya sendiri. Dalam hasil wawancara hal ini dapat dilihat pada (S2:W1.L15-24).
Selain
itu, pengaruh dari pola pengasuhan orang tua subjek yang cenderung premisif dan
bebas dalam memutuskan sesuatu menjadikan subjek merasa lebih bebas dan mandiri
dalam mengungkapkan apa yang ia pikirkan. Hal ini kemudian berpengaruh terhadap
cara subjek dalam berpikir dan mengutarakan pendapatnya kepada orang lain yang
cenderung subjektif dan ke’aku’an. Ini dapat dilihat pada (S1:W2. L100-117).
2. Aspek
afektif
Karena
begitu percaya diri dan nyaman dengan dirinya sendiri, membuat subjek menjadi
begitu ambisius terhadap perasaan berupa usaha yang begitu besar untuk mencapai
kesuksesan, dan membuat dirinya juga punya keinginan merasakan
sensasi, berkuasa, menyombongkan diri, yang merupakan penyebab dari kecenderungan dirinya untuk mengharapkan
perhatian dan kasih sayang dari sekitarnya.
3. Aspek
sosial
Subjek
S yang memiliki kepribadian yang ekstrovert dan mudah menyesuaikan diri dengan
lingkungan menjadikannya begitu disenangi di lingkungan sekitarnya. Namun,
dalam hal saat berinteraksi dalam hal berbicara dan mengungkapkan pemikiran dan
perasaannya, subjek cenderung kurang berempati terhadap pemikiran orang lain dan
senang membuktikan kemampuan diri karena dirinya yang memiliki self-oriented dan rasa ke’aku’an yang
tinggi terhadap dirinya.
VII.
DINAMIKA PSIKOLOGIS
Subjek (S)
merupakan seorang perempuan dewasa dengan status belum menikah pada usia yang
sudah menginjak 30 tahun, dan masih menjalani pendidikan S2 di salah satu
universitas negeri yang ada di Yogyakarta. Ketika kecil, ia memiliki masa lalu
yang cukup kurang menyenangkan dengan latar belakang keluarga yang broken home, yaitu ibu dan ayah yang
berpisah/ cerai akibat dari masalah internal keluarga saat ia masih duduk di
bangku sekolah dasar (SD) kelas 1. Perkelahian yang seringkali terjadi antara
kedua orangtua di depan subjek, sosok ayah yang tidak menyenangkan karena
perlakuan kasar yang seringkali dilihatnya terhadap ibunya, membuat subjek
merasa tidak menyukai sosok ayahnya. Kemudian setelah perceraian, sejak kecil
hingga dewasa subjek dididik dan dibesarkan oleh sosok ibu semata, dengan pola
asuh yang diberikan orang tua yag cenderung permisif, tidak begitu mengontrol
perkembangan anaknya.Terkait dengan gejala narsistik yang dialami subjek,
terlihat kecenderugan subjek yang begitu terobsesi untuk mengejak akademisi dan
kesuksesan, merasa begitu ingin dikagumi dan dianggap oleh orang di sekitarnya
terhadap kemampuan yang dimiliki, emosi yang kurang stabil, serta kurangnya
rasa empati terhadap orang lain, sehingga hal tersebut berdampak terhadap terbentuknya
pola pikir yang cenderung subjektif yang ikut berpengaruh terhadap interaksi
sosial antara subjek dengan orang-orang di sekitarnya.
VIII.
ANALISIS KASUS
Berdasarkan devinisinya, gangguan
narsistik merupakan sebuah bentuk gangguan kepribadian yang ditandai oleh selft-image yang begitu tinggi serta
kecenderungan untuk memandang dirinya dengan cara yang berlebihan, senang
sekali menyombongkan dirinya dan berharap orang lain memberikan pujian selain
itu tertanam dalam dirinya perasaan paling mampu, paling unik dan merasa khusus
dibandingkan orang lain.
Subjek yang memiliki kecenderungan
narsistik pada penelitian ini merupakan seorang wanita dewasa berusia 30 tahun
dengan masih memiliki latar pendidikan kuliah S2 dan belum menikah. Selain
dikemukakan melalu hasil observasi dan wawancara, melalui hasil tes grafis baik
itu BAUM, DAP, dan HTP juga dikemukakan hasil yang menjadikan subjek memiliki
kecenderungan terhadap gejala kepribadian narsistik.
Terbentuknya gejala terkait dengan
perilaku narsistik yang dialami subjek dipengaruhi oleh hal mendasar. Seperti
dikemukakan oleh Freud dalam pendekatan tradisional psikodinamikanya, Freud melihat
narsisme sebagai kegagalan untuk mengalami kemajuan melewati tingkat yang lebih
rendah dalam perkembangan psikoseksualnya. Selain itu, adanya problem pada
relasi antara orang tua dan anak yang kemudian sangat berperan dan berpengaruh
terhadap pembentukan serta pengembangan jati diri anak. Pada dasaranya, setiap
anak membutuhkan orang tua untuk memberikan ketenangan hati dan respon positif
dalam memberikan penghargaan terhadap dirinya, dan ketika tidak terjadi maka
anak anak membentuk perasaan tidak aman. Perasaan ketidaknyamanan ini kemudian diungkapkan
terhadap adanya keinginan untuk mementingkan kepentingan diri sendiri yang kemudian
dapat dimengerti sebagai usaha seseorang untuk mengembalikan apa saja yang
hilang di masa awal kehidupannya (Kohut, 1966,1971). Kemudian, kurangnya
fondasi yang kokoh dalam diri yang sehat, individu tersebut kemudian
mengembangkan jati diri yang didasari pada omongan yang berlebihan dan pikiran
yang tidak realistis mengenai kemampuan mereka dan sifat disenangi, yang
kemudian hal ini diartikan sebagai perilaku narsistik.
Berkenaan dengan landasan teori
tersebut, subjek dalam penelitian ini memiliki latar belakang keluarga yang
kurang harmonis, yaitu keluarga broken
home, dengan perceraian dan perpisahan antara orang tua perempuan (ibu) dan
orang tua laki-laki (ayah subjek) lantaran masalah internal keluarga akibat
ketidakmampuan suami dalam menafkahi keluarga, serta adanya perlakuan kasar
dari suami terhadap istrinya. Pada akhirnya, pertengkaran yang seringkali
terjadi antara orang tua subjek tersebut kemudian diakhiri oleh keputusan
perceraian, yang dialami subjek ketika dirinya menginjak bangku sekolah dasar (SD).
Berdasarkan hal tersebut, akibat dari rasa kehilangan empati dan perasaaan aman
dari orang tuanya menyebabkan subjek pada akhirnya mengembangkan perilaku yang
mengarah kepada kecenderungan narsistik. Kemudian, selama sebagian besar masa
hidup subjek tinggal dan hidup bersama ibunya, dengan didikan dan bimbingan
yang hanya didapatkan dari sosok ibu. Kecenderungan pola pengasuhan yang
diberikan cenderung membiarkan dan membebaskan subjek, juga dapat dijadikan
sebagai landasan yang mempengaruhi timbulnya kepribadian narsistik pada diri
subjek.
Kemudian, berkenaan dengan gejala
dari gangguan kepribadian narsisitik ini mengacu pada DSM-IV (Diagnostic and
Statistical Manual of Mental Disorders – Fourth Edition), dimana individu dapat dianggap mengalami gangguan
kepribadian narsisistik ketika memiliki karakteristik seperti: merasa dirinya
paling hebat, seringkali memiliki rasa iri pada orang lain atau menganggap
bahwa orang lain iri kepadanya, memiliki fantasi kesuksesan dan kepintaran,
dirinya sangat ingin dikagumi, dan munculnya perilaku kurang rasa empati,
merasa dirinya layak memperoleh keistimewaan, angkuh dan sensitif terhadap
kritik, memiliki kepercayaan diri yang semu, serta yakin bahwa dirinya khusus, unik
dan dapat dimengerti oleh orang-orang tertentu.
Ditinjau dari sisi kognitifnya, individu
dengan kecenderungan narsistik biasanya memiliki obsesi serta fantasi tentang
kesuksesan, kepintaran, kekuasaan, dan hal lainnya yang begitu ingin dimiliki
subjek. Dalam hal ini, subjek dapat dikatakan memiliki obsesi terhadap sesuatu,
yaitu keinginan dan mimpi yang besar untuk mengejar sisi akademisi dan prestasi
(S1:W1.L76-79, S1:W1.87-92, S2:W1.L47-58 dan S1:W2.L124-129). Obsesi yang
sangat besar ini dapat terlihat dari keputusan subjek saat dirinya dengan usia
menginjak 30 tahun, lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan kuliah S2 nya
dan menolak lamaran dari orang yang ingin menikahinya (S2:W1.L89-92). Dengan
memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan begitu nyaman dengan dirinya sendiri
terkait dengan gejala narsistik, subjek cenderung memiliki pola pikir yang berpijak pada realita dan
pada hal-hal yang nyata saja, dan cenderung subjektif, lebih berorientasi pada
dirinya sendiri. Dalam hasil wawancara hal ini dapat dilihat pada (S2:W1.L15-24).
Selain itu, pengaruh dari pola pengasuhan orang tua subjek yang cenderung permisif
dan bebas dalam memutuskan sesuatu menjadikan subjek merasa lebih bebas dan
mandiri dalam mengungkapkan apa yang ia pikirkan. Hal ini kemudian berpengaruh
terhadap cara subjek dalam berpikir dan mengutarakan pendapatnya kepada orang
lain yang cenderung subjektif dan ke’aku’an. Ini dapat dilihat pada (S1:W2.
L100-117).
Kemudian, dari sisi afektifnya
Individu yang memiliki kecenderungan narsistik memiliki perasaan yang begitu
besar terhadap dirinya, seperti merasa dirinya paling hebat, merasa orang lain
iri terhadap dirinya, punya rasa yang besar untuk dikagumi, merasa yakin bahwa
dirinya istimewa dan unik sehingga layak diperlakukan istimewa oleh orang lain.
Perilaku subjek yang berkenaan dengan hal tersebut dapat terlihat dari sikap
senang mendominasi orang lain ketika subjek sedang mengobrol, bercerita dengan
temannya. Subjek memiliki rasa ‘keakuan’ yang tinggi terhadap diri sendiri. Hal
ini seperti yang tertuang dalam hasil wawancara pada (S2:W1.L15-24). Selain
itu, sikap subjek dapat terlihat dari observasi pada (O2: L9-10) ketika subjek
kelihatan mendominasi dan banyak berbicara saat sedang mengorol dengan
temannya. Selain itu, hasil tes grafis mengungkapkan sisi afeksi subjek memiliki perasaan dengan kepribadian yang mantap, punya
semangat dan motivasi berprestasi yang tinggi, namun
cenderung mengarah pada tendensi agresif dan berdampak pada sikap ambisius
terhadap usaha untuk mencapai kesuksesan. Selain
itu, subjek cenderung begitu senang dan punya perhatian yang besar dengan
dirinya sendiri (narsis), punya keinginan merasakan sensasi,
berkuasa, menyombongkan diri, dan juga cenderung mengharapkan perhatian dan
kasih sayang dari sekitarnya. Ia cenderung merasa tergesa-gesa, merasa dikejar
waktu, namun tidak punya pegangan, memiliki konflik dalam usaha menemukan jati
diri, serta pernah memiliki trauma di masa lalu. Namun demikian, ia juga
memiliki perasaan yang positif dengan merasa mampu diterima secara sosial,
memiliki kehalusan budi pekerti serta sikap yang sopan, suka memelihara dan
menjaga sesuatu. Ia juga cukup mampu menunjukkan keseimbangan, ketenangan,
kestabilan serta kontrol diri yang baik.
Kemudian, melalui hasil tes Grafis
yaitu (BAUM, DAP, dan HTP), diungkapkan sisi emosi subjek yang memiliki
kecenderungan mudah cemas, pemurung, punya tendensi agresif serta dorongan yang
tidak konsisten, mudah dikuasai emosi dan emosi yang meledak-ledak, impulsif,
mudah frustrasi, suka oposisi, emosi yang tidak stabil, histeris, berlagak,
mudah bertindak kasar, menyukai hal yang mengenakkan, perasaan tegang dan rasa
tidak aman. Namun ia berusaha menekan dan mengontrol diri serta menekan
permusuhan. Ia cenderung individu yang berorientasi pada diri sendiri (self-oriented), sering mengalami
keraguan dan sering terikat dengan masa lalu,
compulsive, tergantung terhadap sesuatu, mudah depresif, dan memiliki
konflik dalam menemukan jati diri.
Dan selain itu, terkait dengan
gejala yang dialami subjek terkait dengan aspek sosialnya terlihat dari
kurangnya rasa berempati terhadap orang lain, yang menjadi salah satu gejala
dari narsistik. Subjek S terlihat kurang berempati dalam hal ketika sedang
berbicara dan mengemukakan pendapatnya, ia cenderung seringkali mengukuhkan apa
yang ia katakan merupakan hal yang paling benar, dan kurang memperhatikan
pendapat orang lain, senang membuktikan kemampuan diri karena dirinya yang
memiliki self-oriented dan rasa
ke’aku’an yang tinggi terhadap dirinya.
Dan meskipun demikian, subjek S
juga memiliki sisi kemampuan sosial yang baik. Kepribadian subjek yang ekstrovert
dan cenderung merasa dirinya mampu diterima secara baik oleh orang-orang di
sekitarnya, terbuka dengan orang lain, objektif, membuat dirinyapun cukup
disenangi dan mudah bergaul dengan orang-orang baru karena dirinya memiliki
kepercayaan diri dan nyaman terhadap dirinya sendiri, sehingga ia cukup pintar
membawa dirinya dalam bergaul dalam orang di sekitarnya. Hal ini dapat
dipengaruhi oleh pola pengasuhan yang diberikan orang tua subjek, dan perilaku
empati yang didapat subjek melalui ibunya, dimana subjek memiliki keterikatan
dan hubungan yang baik dengan ibunya. Ketika sedang ingin didengarkan, ibunya
mampu mendengarkan subjek dengan baik, dan dirinya merasa nyaman untuk
mengutarakan keinginan dan perasaannya.
IX.
KESIMPULAN
Bersadarkan hasil analisis dari
penelitian ini mengenai kecenderungan perilaku narsistik yang dialami oleh
subjek S, beberapa gejala yang dialami oleh subjek dilatarbelakangi dan
didasari oleh faktor kondisi keluarga dengan adanya masalah yang terjadi pada
relasi antar orang tua subjek serta pola pengasuhan yang diterima subjek dari
orang tuanya. Terkait gejala atau
karakteristik subjek terhadap kepribadian narsistik serta dampak pada diri
subjek pada penelitian ini dikemukakan dan didasarkan pada aspek baik itu dari
sisi kognitif, afektif, emosi, serta sosial subjek. Akibat yang dialami subjek
juga didukung oleh teori dan hasil tes grafis yang dilakukan, sehingga hasil
observasi dan wawancara sesuai dengan teori yang ada. Sehingga kesimpulan
keseluruhan dari laporan studi kasus tentang gejala narsistik yang dialami
subjek sesuai dengan teori yang ada, dan penguatan data yang diperoleh dari
alloanamnesa juga menjadikan data penting dalam laporan ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Fauziah, F dan Widury. 2005.
Psikologi Abnormal Klinis Dewasa, Jakarta: Universitas Indonesia.
Fitria, Maya. (2014). Modul Pembelajaran Dasar-Dasar Assessment
Individu 5 Observasi dan Wawancara. Yogyakarta: Laboratorium Psikologi,
FISHUM, UIN Sunan Kalijaga.
Jeffrey, S.N dkk. 2003. Psikologi
Abnormal, Jakarta: Erlangga.
Walgito, B. (2006). Teknik Observasi dan Wawancara. Jakarta: Pustaka Media
X. LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran
1 : Pedoman Wawancara
1.1 Lampiran
Pedoman Wawancara subjek (Autoanamnesa)
No.
|
ASPEK
& PERTANYAAN PENELITIAN
|
METODE
PENGUMPULAN DATA DAN SUMBER DATA
|
LATAR
BELAKANG RIWAYAT SUBJEK (Masa Lalu Subjek)
|
||
1.
|
Bagaimana cerita tentang kehidupan
masa kecil subjek. Bagian apa yang paling menyenangkan dan yang tidak
menyenangkan?
|
Wawancara
dengan subjek 1 (autoanamnesa) & subjek 2 (alloanamnesa) & Tes grafis
|
2.
|
Bagaimana bentuk pola pengasuhan orang
tua subjek
|
Wawancara
dengan subjek 1 (autoanamnesa)
|
3.
|
Seberapa dekat hubungan subjek dengan
orangtua?
|
Wawancara
dengan subjek 1 (autoanamnesa) & tes grafis
|
4.
|
Ketika memiliki masalah, seberapa
sering subjek curhat/mengutarakan/bercerita kepada orangtua
|
Wawancara
dengan subjek 1 (autoanamnesa)
|
5.
|
Bagaimana respon orangtua saat subjek ingin
didengarkan?
|
Wawancara
dengan subjek 1 (autoanamnesa)
|
6.
|
Apakah orangtua subjek memanjakan
subjek
|
Wawancara
dengan subjek 1 (autoanamnesa)
|
GEJALA
|
||
1.
|
Bagaimana perasaan subjek ketika
mendapat pujian dari oranglain? Apakah subjek merasa sangat senang?
|
Observasi
& Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
|
2.
|
Apakah subjek begitu sangat ingin
dikagumi oleh orang lain?
|
Observasi
& Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
|
3.
|
Bagaimana subjek menilai dirinya sendiri?
Apakah menganggap dirinya begitu spesial/unik daripada orang lain?
|
Observasi
& Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa) & tes grafis
|
4.
|
Saat orang lain memberi pendapat/menasehati/mengkritik,
apakah subjek bersedia mendengarkan dan mengikutinya?
|
Observasi
& Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa) & tes grafis
|
5.
|
Apakah subjek begitu ingin pendapatnya
didengarkan oleh orang lain?
|
Observasi
& Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa) & subjek 2 & tes grafis
|
6.
|
Ketika berhadapan dengan sesuatu,
apakah subjek lebih cenderung ingin mengutamakan kepentingan orang lain terlebih
dulu, ataukah dirinya sendiri dulu?
|
Wawancara
dengan subjek 1 (autoanamnesa) & subjek 2 (alloanamnesa) & tes grafis
|
7.
|
Apa bentuk orientasi subjek dalam
hidupnya? Apakah terobsesi terhadap sesuatu? Seperti apa?
|
Wawancara
dengan subjek 1 (autoanamnesa) &
tes grafis
|
8.
|
Ketika melihat orang lain lebih
baik/memiliki sesuatu yang lebih baik daripadanya, bagaimana perasaan subjek?
Apakah subjek merasa begitu iri/cemburu?
|
Wawancara
dengan subjek 1 (autoanamnesa) tes
grafis
|
PERLAKUAN
LINGKUNGAN
|
||
1.
|
Apakah ketika
waktu senggang, subjek lebih senang berkumpul dengan teman, ataukah
menyendiri?
|
Observasi
& Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa)
|
2.
|
Spakah orang-orang
di sekitarnya menyukai subjek? Apakah subjek merasa ada banyak orang yang
tidak menyukai perilakunya?
|
Observasi
& Wawancara dengan subjek 1 (autoanamnesa
|
3.
|
Bagaimana cara
subjek mengatasi ketika ada orang yang tidak senang dengan perilakunya?
|
Wawancara
dengan subjek 1 (autoanamnesa)
|
4.
|
Apakah subjek punya
teman dekat? Seberapa banyak?
|
Wawancara
dengan subjek 1 (autoanamnesa)
|
5.
|
Seperti apa
biasanya tanggapan orang lain tehadap sikap nasris dan suka mendominasi yang
subjek punya? Apa mereka merasa nyaman saja dengan sikap subjek?
|
Observasi
& Wawancara dengan subjek 2 (alloanamnesa)
|
1.2 Lampiran
Pedoman Wawancara Alloanamnesa
No.
|
PERTANYAAN PENELITIAN
|
METODE PENGUMPULAN DATA DAN SUMBER DATA
|
1
|
Sebagai
teman sekamar, bagaimana anda menilai S?
|
Wawancara
Subjek 2 (alloanamnesa)
|
2
|
Saat
biasanya bercerita, tentang hal apa saja yang kalian/ banyak S ceritakan?
|
Wawancara
Subjek 2 (alloanamnesa)
|
3
|
Apakah
menurut anda S adalah orang yang narsis, dan sangat nyaman dengan dirinya
sendiri? Seberapa sering S bercerita tentang dirinya sendiri?
|
Wawancara
Subjek 2 (alloanamnesa)
|
4
|
Apakah
ketika mengobrol, S lebih banyak bercerita/lebih mendominasi saat bicara?
|
Wawancara
Subjek 2 (alloanamnesa)
|
5
|
Apakah
S sering bercerita tentang keluarganya? Bagian apa/siapa yang paling sering
diceritakan?
|
Wawancara
Subjek 2 (alloanamnesa)
|
6
|
Apakah
saat bercerita, obrolan S banyak tentang khayalan tentang keberhasilan,
kekutan, kecemerlangan, atau kecantikan?
|
Wawancara
Subjek 2 (alloanamnesa)
|
Lampiran 2 : Pedoman
Observasi
Objek Observasi :
Lokasi Observasi :
Tujuan Observasi :
Jenis Observasi
:
Tanggal :
Jam :
Observasi ke- :
No.
|
Catatan
observasi
|
Analisis
gejala/koding
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
|
Lampiran 3 : Verbatim
Wawancara
VERBATIM
WAWANCARA
Wawancara
1
Interviewee :
S
Lokasi Wawancara :
Di Kamar Subjek
Tujuan Wawancara :
Menggali data awal
Jenis Wawancara :
Semi terstruktur
Tanggal Wawancara :
16 Desember 2014
Jam :
19.00- 20.15 WIB
Wawancara ke- :
1
KODE
S1-W1 (subjek 1, wawancara ke-1)
No.
|
Catatan Wawancara
|
Impresi
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
|
Selamat
malam mbak S, terima kasih sudah mau bersedia meluangkan waktunya untuk
wawancara hari ini.
Iya, sama-sama juga mbak.
Sebelum
memulai wawancaranya, bisa mbak isi dulu identitas di kertas ini? (sambil
menunjukkan dan memberi kertas identitas diri)
Baiklah…
Oke,
mungkin bisa kita mulai nih mbak. Pertama itu, pertanyaan saya, gimana sih
kehidupan masa kecilnya mbak? Bagian apa yang paling menyenangkan?
Bagian yang menyenangkan itu waktu
SD,SMP, SMA ya. Saya cenderung lebih menikmati tiap-tiap masa saya gitu. Dan
yah, waktu SD mungkin ya, yang paling menyenangkan. Main kemana-mana sama
teman, main apa aja.
Dan
kalo hal yang nggak menyenangkan, itu ada nggak mbak? Bisa diceritain?
Hmm..Jadi, gini mbak. Kalo nggak
menyenangkan ya ada la ya. sebagian besar orang pasti punya. Hmm.. saya itu
kan orang tuanya saya cerai, itu waktu saya SD kelas 1. Ya, namanya anak
kecil ya, pastinya dulu belum ngerti sama kehidupan orang dewasa, masalah
cerai gitu.
Kalo
boleh tau nih, itu apa sebab cerainya mbak?
Yah, yang saya tau dari ceritanya itu
saya sih, karena sering berantem gitu mbak. Ayah saya kan dulunya ngak kerja,
nganggur, jadi yang kerja cuma ibu saya, jadi guru SD. Orang tua saya, ayah
saya itu asalnya kan jauh bukan dari Sumatera. Dia di jawa timur sana..orang
tua saya dulunya sering berantem, sering mukul ibu saya gitu. Saya sering
lihat waktu kecil.
Owh..
gitu. Hmm..jadi mbak tau nggak gimana kabarnya ayah mbak sekarang? Apa dia
tinggalnya sekarang masih dekat daerah rumahnya mbak?
Saya nggak begitu tau banyak sih, dan
nggak mau tau juga. Ayah saya nggak disini, katanya uda balik ke jawa timur
sana. Saya kurang tau sih ya gimana kabarnya.
Jadi,
dari ceritanya mbak berarti mbak lebih dekat sama ibu ya dari ayah?
Iya, saya memang lebih dekat sama ibu
saya.
Gimana
bentuk pola asuhnya ibu mbak?
Hmm.. ibu saya itu sih, sebenarnya
termasuk permisif ya, cenderung mengikuti kegiatan anaknya, nggak otoriter
nggak maksa, tapi mungkin lebih ke tegas.
Kalo
mbak nakal, pernah dipukul nggak?
Hmm kalo nakal biasanya cuma
dimarahin, tapi dipukul pernah, tapi jarang ya. kalo emang bener-bener nakal,
pernah. Namanya juga anak kecil dulunya kan.
Kalo
ada masalah, mbak sering curhat sama orang tua nggak? Trus, gimana respon
ortu mbak, apa didengar dengan baik?
Iyah, saya sering ngobrol, curnah sama
ibu saya. Ya, bisa dibilang ibu saya seperti teman paling dekat saya
satu-satunya. Tapi, sebenarnya kalo curhat itu tentang masalah yang umum-umum
aja. Kalo yang benar-benar khusus tidak diceritain. Karena ya, kalo ibu saya
diceritain, paling dianya cuma bilang terserah saya nya aja, yang penting
gimana baiknya aja, gitu. Tapi tetap mendengar baik kok.
Apa
orang tua mbak memanjakan anaknya?
Wah, itu nggak sih ya. saya diajarin
supaya harus mandiri, nggak bergantung sama orang lain. Ibu saya bisa
dibilang tegas banget kalo mendidik anaknya.
Gimana
perasaan mbak kalo dipuji orang lain? Senang banget nggak?
Hehe.. kalo dipuji semua orang pasti
suka ya. siapa sih yang nggak suka? Ya, tapi kalo saya sendiri nggak sukanya
kalo orang muji berlebihan..
Itu
kayak gimana mbak?
Yah, misalnya kalo muji nggak sesuai
sama kenyataannya. Yang berlebihan gitu..jadi, yah saya sering sih curigaan
kalo ada yang kayak gitu, kayaknya pasti orangnya lagi ada maunya, hehe.
Apa
mbak pernah kepikiran pengen banget dikagumi orang lain?
Hmm.. dikagumi seperti apa ya? ya,
pernah sih. Tapi saya senang kalo bisa dikagumi orang karena kemampuan saya, dari
sisi akademis seperti itu. Makanya saya sangat bersemagat menerusin sekolah
S2 saya.
Owh
gitu ya. Oya mbak, sebenarnya gimana mbak menilai diri mbak sendiri?
Pernahkah mbak merasa diri sendiri spesial, unik dari orang lain?
Hm.. yah, saya merasa diri saya
spesial yah.
Apa
orientasi dan arah yang ingin mbak capai dalam hidup mbak? Apa terobsesi sama
sesuatu? Itu seperti apa?
Hmm.. saya lebih terobsesi dengan diri
saya ya. saya ingin mengidamkan masa depan yang cerah. Makanya saya sangat
semangat untuk kuliah. Mungkin ke arah akademisnya yang ingin saya kejar.
Karena bagi saya, kalo akademis sudah baik, yang lainnya akan mengikuti juga
baiknya.
|
S1:W1.L19-37
(penjelasan subjek tentang latar
belakang keluarga, kondisi orang tua, dan masa lalu subjek)
S1:W1.L38-63
(penjelasan tentang pola asuh orang
tua subjek)
S1:W1.L76-79
S1:W1.L76-79
(indikasi rasa ingin dikagumi secara
akademisi)
S1:W1.87-92
(indikasi terhadap obsesi diri)
|
Wawancara
2
Interviewee :
NK
Waktu Wawancara :
19.00-20.15 WIB
Lokasi Wawancara :
Di Kamar Subjek
Tujuan Wawancara :
Menggali data awal
Jenis Wawancara :
Semi terstruktur
Tanggal Wawancara :
18 Desember 2014
Jam :
20.20 – 21.15 WIB
Wawancara ke- :
1
KODE
S2-W1 (subjek ke-2 (alloanamnesa), wawancara 1)
No.
|
Catatan
Wawancara
|
Impresi
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
|
Baiklah,
makasih mbak udah mau diwawancara. Mungkin biar nggak lama kita mulai aja ya.
Pertanyaan pertamanya.. Kan mbak teman sekamarnya mbak S. Menurut mbak
sendiri, seperti apa sifat dan karakter mbak S dari penilaian mbak?
Duh, saya sebenarnya paling berat kalo
harus menilai orang lain. Hal yang positif apa negatifnya mbak?
Yah,
bagusnya kalo bisa positif sama negatifnya juga.
Hmm.. menurut saya, mbak S itu
orangnya sih welcome. Dengan siapapun mau bergabung. Orangnya ramah, nggak
membeda-bedakan orang. Dan kalo sisi yang negatifnya itu….
Apa
mbak S itu menurut mbak orangnya suka mendominasi, saat mengobrol?
Kalo itu, iya memang orangnya suka
mendominasi, kalo sedang ngobrol dan kita minta pendapatnya dia, dia
cenderung lebih subjektif, lebih ke arah dia, bukan ke objek arah
pembicaraannya kita. Jadi semuanya itu hanya menurut sudut pandang dia, bukan
dari sudut pandang orang lain.
Kalo
orang ngasih pendapat, apa dia cenderung menerima atau seperti lebih mengukuhkan
pendapat dia?
Dia lebih mengukuhkan pendapat
dia..jadi, kalo kita mengoreksi apapun, dia punya alasan.
Owh
gitu… Nah, kalian kan sering ngobrol nih mbak. Tema/ hal apa yang sering
kalian obrolkan?
Kalo itu sih, kita sering ceritanya
tentang sekolah..tentang mimpi-mimpi oengen sekolah kesini, lebih fokusnya ke
masa depan. Pengennya anak ke depan iu seperti apa, keinginan ke depannya
pengen sekolah dimana. Pokoknya ada banyak hal seperti itulah yang kita
sering obrolkan. Lebih ke tentang pendidikan gitu sih.
Kalo
hal-hal yang berhubungan dengan masa lalu, apakah pernah/sering diobrolkan?
Kalo tentang masa lalu, biasanya
tentang masalah keluarga. Keluarganya misalnya pernah ada masalah
begini..begini..
Dia
apakah lebih sering bercerita tentang ibu, atau bapaknya?
Biasanya ibunya. Tapi, pernah sih,
cerita tentang bapaknya. Mbak udah tau kan latar keluarganya mbak S?
Iya,
pernah cerita.
Nah, mbak S kan ibunya single parent.
Jadi, cerai hidup sama suaminya. Dan mungkin dia jarang cerita tentang bapaknya
karena karena takut mengorek luka lama, mungkin bisa dibilang seperti itu ya.
Jadi yang lebih banyak diceritakan itu otomatis lebih ke ibunya.
Owh..
Jadi, kalo ngobrol atau curhat itu memang kalian lebih ke arah masa depan ya
bahasannya?
Iya, mbak, bisa dibilang seperti itu.
Karena mbak tau lah, kami berdua mungkin bisa dibilang orangnya suka bermimpi
gitu.
Ya,
semua orang sepertinya juga suka bermimpi ya mbak, hehe.
Iya, semua orang pastinya. Tapi, kami
berdua mungkin bisa dibilang cocok gitu. Karena Mbak S juga kalo pengen
sekolah ke sini, harus nabung dulu. Dan saya sendiri juga gitu. Harus nunda 2
tahun dulu buat sampai kesini, ngumpulin duit dulu. Jadi, sama posisi kita
gitu.
Owh,
jadi orientasi kalian berdua itu sama, ya. uda mikirin masa depan. Jadi kayak
udah senasib sepenn annggungan ya mbak? Hehe
Hehe.. iya, kira-kira seperti itulah…
Hm..
menurut mbak, mbak S itu orangnya narsis nggak sih. Kayak ngerasa nyaman
banget sama dirinya?
Hmm.. maksud narsisnya seperti gimana
mbak?
Ya,
kan narsis itu ada tipenya. Kayak ada orang yang narsis foto, ada yang
narsisnya kayak lebih senang dengan diri sendiri, gitu.
owh iya. Mungkin mbak S bisa dibilang
lebih sedikit ke arah yang terakhir itu. Jadi, dia lebih ke arah ‘aku’.
Mungkin, itu maksudnya mbak?
Iyah..
seperti itu ..
Jadi, kalo sedang ngobrol itu, mbak S
sering bilang,”aku tuh begini..begini..jadi lebih ke ‘aku’an. Gitu.
Owh,
ya ya. Pernah gak, mbak S cerita tentang masa kecilnya, kayak temannya banyak
gitu? Cerita tentang orang yang paling dekat dengan dia?
Maksudnya orang yang paling dekat
dalam artian apa?
Kayak
teman gitu mbak.
Owh. Kalo orang paling dekat dia belum
pernah cerita. Yah, paling teman-teman yang biasanya pernah ada bareng sama
dianya. Tapi bukan dekat banget..
Kalo
teman cowok pernah cerita mbak?
Kalo cowok, dia pernah cerita pernah
suka sama orang. Tapi, nggak dikasih tau siapa orangnya, jadi cerita sekilas
aja. Dia juga pernah cerita ada cowok yang ngajak nikah, tapi mbak S nya
nggak mau, karena dia lebih milih kuliah.
Itu
waktu kapan mbak?
Hmm.. kayaknya pas sebelum berangkat
ke Jogja. Mungkin tahun 2013 lalu. Karena mungkin, omongan-omongan dia pengen
kulaih lagi itu memang udah lama. Jadi, orientasinya mungkin lebih utama buat
pendidikan.
Nah,
kalo mbak cerita/curhat tentang cowok, mbak S pernah/sering ngasih saran
nggak?
Hmm..kayaknya dia jarang sih ngasih
saran ya. paling cuma mendengar aja. Kalo kita tanya pendapat dia, dianya
paling cuma bilang,” entah ya, saya kurang tau. Nggak punya pengalaman sama
hal kayak gitu,”. Kalo ngasih saran yang lain, dia sering keliatan ragu,
mungkin takut ngasih saran yang salah.
Owh,
gitu ya mbak. Hmm…
Ada lagi pertanyaannya mbak?
Hm..
sepertinya ini aja mbak. Sampai disini aja ya, dulu. Mungkin nanti kalo ada
perlu data tambahan saya akan wawancara mbak lagi, ya. terima kasih atas
waktunya mbak..
Iya mbak,sama-sama…
|
S2:W1.L15-24
(kecenderungan mendominasi dan
subjektif saat mengobrol dengan orang lain)
S2:W1.L19-28
(subjektif)
S2:W1.L47-58
(latar belakang kondisi keluarga)
S2:W1.L89-92(latar belakang kondisi
keluarga dan orang tua)
|
Wawancara
3
Interviewee :
S
Lokasi Wawancara :
Di Kamar Subjek
Tujuan Wawancara :
Mendalami dan melanjutkan penggalian data tentang subjek
Jenis Wawancara :
Semi terstruktur
Tanggal Wawancara :
19 Desember 2014
Jam : 21.00-21.30 WIB
Wawancara ke- :
2
KODE
S1-W2 (subjek 1, wawancara ke-2)
No.
|
Catatan Wawancara
|
Impresi
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
|
Mungkin
boleh kan mbak, kita melanjutkan wawancara yang kemaren?
Owh, iya silahkan mbak.
Oke,
makasih mbak sebelumnya. Jadi, melanjutkan pertanyaan yang sebelumnya tentang
mbak. Kalo biasanya mbak lagi sedang santai, sebenarnya mbak lebih suka
ngobrol/kumpul dengan teman, atau lebih suka sendiri?
Sayan kadang pengen sendiri, kadang
pengen ngumpul sama teman.
Kalo
cenderung lebih sering/lebih senangnya mbak?
Kalo lebih senang, 50:50 sih. Seimbang
sesuai keadaan mood juga kadang.
Owh
gitu. Nah, kalo misalnya, pas biasanya mbak kenalan sama orang baru, mbak
ngerasa orang itu senang kenalan/berteman sama mbak nggak? Gimana perasaan
mbak? Mereka welcome nggak?
Hmm. Kalo welcome itu perkiraanya
sekitar 80% lah yah.
Owh
gitu. Jadi, mbak sendiri mungkin karena bisa membawa diri ya mbak?
Yap, begitulah terkadang.. hehe
Terus,
kalo ada orang nggak senang sama mbak, gimana,seperti apa cara mbak
mengatasinya?
Hm..kalo saya lebih dicuekin aja ya.
Dia punya hak untuk nggak menyukai saya. Jadi, ya sudah, biarkan waktu
berlalu, begitulah. Mungkin, suatu saat kalo ketemu, saya tetap menegur,
nyapa. Dalam basa-basi yang normal lah ya. Tapi nggak dalam intensitas yang
tinggi. Biasanya saya cuek aja kalo dia emang nggak suka sama saya gitu.
Mbak
punya teman dekat nggak?
Kalo dekat, sih ada ya. tapi kalo
dekat sering kemana-mana itu nggak ada. Dari SD sampe sekarang nggak ada sih.
Berarti
orang yang paling dekat sama mbak itu ibu mbak ya?
Yah, bisa dibilang gitu.mungkin ibu
saya yang paling dekat dengan saya seumur hidup ini hehe. Waktu SD, itu ada
teman dekat, tapi nggak ada yang berlanjut dari SD, SMP, sampai SMA, gitu.
Semuanya berbeda, beda masa sekolah, beda teman juga. Biasanya teman dekat
saya yang sering main, cerita, itu cuma berdua sama teman saja.
Jadi
nggak teman kelompokan gitu ya mbak?
iya, gitu. Jadi tiap beda masa
sekolah, beda juga tingkatanya. Sampai sekarang juga ada yang dekat. Tapi,saya dekatnya nggak kayak
bergantung sama teman gitu ya. jadi, kalo teman pengen berjalan cara dia
silahkan, dan kalo nggak yan silahkan juga.
Owh,
jadi sesuai kenyamanan masing-masing ya?
Ya, seperti itu. Dan kalo tentang
masalah pribadi teman, saya nggak mau tersangkut paut ikut campur gitu.
Apalagi misalnya hubungan dia dengan suaminya, dengan pacarnya, itu saya
nggak pernah. Tapi kalo tentang keluarga, yan mungkin. Karena bagi saya juga,
keluarga dia itu juga keluarga saya. Tapi kalo berhubungan dengan pacarnya,
dan hal privasi itu saya nggak mau ikut campur, gitu.
Berarti
mbak itu cuma pengen berurusannya sama hal-hal yang sifatnya umum aja ya?
Ya, kecuali kalo dianya curhat ya.
tapi itu juga jarang sih. Tapi pernah teman saya yang curhat dalam rangka
cari solusi aja.
Berarti
banyak teman yang pernah curhat sama mbak?
Yah, ada la ya kadang-kadang, hehe. Ada
beberapa sih, yang curhatnya bagi saya itu terlalu pribadi.
Kira-kira
berapa banyaknya teman yang pernah curhat sama mbak?
Yah.. kira-kira 60% gitu perkiraannya.
Waa..
itu lumayan ya mbak.
Ya, dan itu 60% itu memang curhatnya
tentang hal pribadi, jadi bukan sekedar curhat ngobrol.
Owh
gitu. Hmm.. ini saya nanya apa lagi ya mbak, jadi bingung
Yah, silahkan tanya apa aja mbak. Saya
ini orangnya terbuka kok. Tapi ada juga yang bilang kalo saya itu orangnya
tertutup juga. Yah, mungkin benar juga. Saya orangnya terbuka dalam area
tertentu aja. Kalo untuk ilmu, saya akan sangat terbuka. Tapi kalo tentang
hal pribadi, saya cenderung menjauh ya, tidak mau mengurusi gitu.
Oyah,
cara didikannya orang tua mbak, ibu mbak dulu manjain mbak nggak dulunya?
Nggak sih ya. kalo disiplin juga iya
sedikit. Ibu saya itu orangnya konsisten. Kalo nakal, ya paling dinasehatin.
Tapi waktu kecil itu ya pernah la ya dicubit gitu. Biasa nakalnya anak kecil.
Kalo
curhat, apa biasanya yang paling sering dicurhatin sama orangtua? Tentang
apa?
Curhat.. masalah sehari-hari aja sih
ya. yang buat saya ngerasa nggak nyaman gitu.
Hal
yang dicurhatin itu, apa memang benar-benar diceritakan semua, hal umum, atau
hal tertentu aja?
Hmm….nggak semua ya. paling hal
tertentu aja yang dicurhatin, yang lainnya tetap saya simpan sendiri.
Persentasenya kira-kira 40% lah ya. tetap ada hal-hal yang saya kira, tidak
perlu orangtua tau juga.
Berarti
untuk hal-hal yang mbak butuh saran aja ya?
Nggak juga sih. Saya kalo cerita ya
cerita aja. Soalnya, seringnya saran ibu saya itu nggak bermutu gitu hehe.
Soalnya, kalo saran ibu saya itu pasti pilihan terakhirnya ya terserah kamu
aja gimana bagusnya menurut kamu. Jadi, menurut saya ya ibu saya ya permisif,
jadi saya curhat cuma untuk melepaskan beban aja dengan bercerita.
Owh.
Berarti ibu mbak nggak otoriter ya?
Nggak kok. Jadi, ya pada akhirnya saya
sendirilah yang memilih.
Owh. Memang kayaknya lebih bagusnya
gitu ya mbak. Jadi kita lebih mandiri buat ngbil keputusan?
Ya, dan ibu saya itu biasanya juga
ngasih alternative kok. Jadi, ya mungkin makaya saya sendiri juga terpola
dari pemikiran ibu saya gitu. Yang selalu misalnya,”kalo menurut kamu
gimana?” ya saya jawab,”itu terserah. Kalo kamu bialng A bagus ya silahkan,
kalo B bagusyan silahkan juga. Karena kamu sendiri undah dewasa, jadi bisa
ambil keputusan sendiri”.
Berarti
kalo ada yang minta saran mbak bisa kasih saran?
Ya, bisa.
Saran dari saya yang subjektif…
Mbak
pernah ngerasa iri nggak sama orang, kalo dia punya hal lebih yang mbak ngga
punya?
Yah, pernah ya kadang. Tapi tergantung
juga seperti apanya. Saya biasa iri sama orang yang lebih bisa memanfaatkan
kecerdasannya gitu ya, hehe
Owh,
berarti dari sisi akademiknya ya mbak?
Iya. Tapi kalo irinya karena tas
bagus, mobil bagus, ya namanya manusia kayaknya wajar ya. Tapi kalo dianya
punya prestasi bagus, yah rasanya lebih kerasa aja.
Owh
begitu. Hmm.. kalo gitu mungkin sampe disini aja ya mbak buat waktu
wawancaranya. Terima kasih karena udah mau diwawancara lagi.
|
S1:W2.L34-37
(mudah bergaul dengan sekitar)
S1:W2.L124-129
(terobsesi dan iri dalam sisi akademis)
|
Lampiran 4 : Catatan
Observasi
Objek Observasi :
subjek S dan teman-teman di asrama
Lokasi Observasi :
asrama subjek S, dan dapur
Tujuan Observasi :
Untuk melihat perilaku subjek saat sedang mengobrol dengan teman-temanya.
Jenis Observasi
: Non-partisipant
Tanggal :
10 Desember 2014
Jam :
19.20 – 22.05 WIB
Observasi ke- :
1
No.
|
Catatan
observasi
|
Analisis
gejala/koding
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
|
Sebelumnya,
saat sore di hari itu subjek terlihat sedang sibuk memasak di dapur dengan
teman sekamar dan beberapa teman yang ada di asramanya (17.20 WIB). Saat
memasak, seringkali subjek memasak sambil mengobrol dan bercengkrama dengan
temannya, sampai mereka selesai memasak pada saat magrib sekitar pukul 18.05
WIB.
Setelah
selesai magrib, subjek dan temannya makan bersama di tengah ruangan, sambil
sesekali tertawa dan mengobrol.
|
Objek Observasi :
subjek S dan teman sekamar
Lokasi Observasi :
kamar subjek S
Tujuan Observasi :
Untuk melihat perilaku subjek saat sedang mengobrol dengan teman sekamar
Jenis Observasi
: Partisipan, tidak terstruktur
Tanggal :
11 Desember 2014
Jam :
20.15-21.00 WIB
Observasi ke- :
2
No.
|
Catatan
observasi
|
Analisis
gejala/koding
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
|
Ketika di
kamar, subjek terlihat sedang makan malah bersama teman sekamarnya sambil
sesekali bercerita. Tidak lama kemudian, sekitar pukul 20.30 WIB observer
mencoba untuk ikut bergabung bercengkrama dengan subjek S dan teman
sekamarnya. Subjek terlihat sedang asik mengobrolkan tentang banyak hal,
seperti tentang curhatan teman sekamarnya, dan subjek S mendengarkan sesekali
memberi saran dan berbicara banyak.
|
(O2: L9-10)
subjek yang mulai terlihat mendominasi pembicaraan
|
Lampiran
5 : Koding
No.
|
Kategorisasi
|
Kode
|
|
1.
|
Penyebab
(latar belakang keluarga)
|
||
·
Keluarga broken home
·
Pola asuh permisif
|
S1:W1.L19-37
S1:W1.L38-63
S2:W1.L47-58
S2:W1.L89-92
|
||
Gejala
|
|||
·
Rasa ingin dikagumi
·
Terobsesi terhadap akademisi
·
Kurang empati
|
S1:W1.L76-79
S1:W1.87-92
S1:W2.L124-129
S2:W1.L15-24
|
||
3.
|
Dampak
|
||
·
Pola pikir subjektif
·
Ambisius
·
Interaksi sosial terganggu
|
S2:W1.L19-28
S1:W1.L87-92
S1:W2.L124-129
S2:W1.L63-69
|
Lampiran 6
TES
GRAFIS
A.
Identitas
Subjek
Nama : S
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 30 tahun
Pendidikan : SMA
Tanggal
tes : 24 Desember 2014
Tester : Amelia Prima
B.
Interpretasi
Baum
KESAN/DETAIL
|
DESKRIPSI
|
INDIKASI
|
1.
Kesan Umum
|
Mantap
|
Kepribadian yang mantap, intelektual,
perasaan dan aktualisasi motivasi yang jelas.
|
2.
Lokasi
|
Cenderung ke atas
|
Penuh dengan dunia ide, imajinatif,
intelektual, kesadaran yang over indi-vidual.
|
Cenderung ke kanan
|
Ekstovert, Orientasi ke arah masa
datang, Lebih terbuka, Lebih objektif, Lebih mudah dipengaruhi dunia luar.
|
|
3.
Kualitas garis
|
Tekanan kuat, berat
|
Dorongan kemauan vitalitas dan energi
yang kuat tendensi agresif dan sadis. Sikap tegas.
|
Tekanan variatif
|
Sifat agresif, pribadi yang fleksibel,
kemampuan adaptasi yang baik, dorongan tidak konsisiten, cemas, impulsif,
mudah frustrasi, emisi tak stabil, histeris. Immature dalam emosi, juga tidak
stabil, pemurung, perasaan tegang, rasa tidak aman.
|
|
Bagian
: Mahkota
|
Mahkota seperti kipas
|
Regresi, mudah bertindak kasar (hantam
kromo), Kurang pengalaman, suka kebutuhan yang mengenakkan, cenderung malas,
konsentrasi kurang, kurang tenang, kurang pengalaman, kurang ajar.
|
Berat ke kanan
|
Keinginan untuk merasakan sensasi,
berkuasa, menyombongkan diri, modis, trendi, ekstrovert
|
|
Streep seperti tertiup angin ke kanan
|
Merasa dikejar waktu, tak punya
pegangan
|
|
Unter-unter menjadi kecil
|
Narsisme (perhatian terhadap dirinya
sendiri besar), mudah bosan (mudah pindah-pindah) tapi aktivitas keluar tidak
ada
|
|
Seperti asap dan ruwet dengan dahan
berbelok
|
Suka menggertak, suka main sandiwara,
berlagak, pikiran mengembara
|
|
Dahan
|
Dahan yang tersebar
|
Tidak mempunyai ketetapan diri dalam
bekerja atau berpikir, mudah dipengaruhi, impulsive, oposisi, mudah konflik
diri.
|
Dahan tersebar sekali dan tak teratur
|
Suka oposisi, ekplosif, mudah terkena
konflik
|
|
Dahan yang semakin mengecil
|
Mempunyai kemampuan
mengsikroni-sasikan masa lalu dan masa yang akan datang, mudah menyesuaikan
diri dengan lingkungannya
|
|
Susunan kacau dan kecil
|
Mudah lupa, tidak suka berpikir, sifat
kekanak-kanakan, suka melamun, tidak dapat mengendalikan diri, sifat malu.
|
|
Arah ke atas
|
Rajin dan tak kenal batas, vital aktif
|
|
Ke kanan atas
|
Religius
|
|
Batang
|
Ada flek/nota tebal
|
Kecemasan
|
Batang terkelupas kulitnya
|
trauma
|
|
Condong ke kanan
|
Ekstrovet, penyesuaian baik,
suggestible, mudah dipermainkan, suka menolong
|
Kesimpulan Baum
a. Kognitif
Subjek
merupakan pribadi yang intelektual, penuh dengan dunia ide, imajinatif, pikiran
yang membara, dan memiliki kesadaran yang over individual. Memiliki arah
pikiran yang berorientasi pada masa depan, tidak punya ketetapan diri dalam
bekerja atau berpikir, serta mempunyai kemampuan dalam mengsikroni-sasikan masa
lalu dan masa yang akan datang.
b. Afektif
Subjek memiliki perasaan dengan
kepribadian yang mantap, punya kemauan vitalitas dan energi yang kuat, namun
cenderung mengarah pada tendensi agresif. Selain itu, subjek cenderung begitu
senang dan punya perhatian yang besar
dengan dirinya sendiri (narsis), punya keinginan merasakan
sensasi, berkuasa, menyombongkan diri, modis, trendi. Ia cenderung merasa
tergesa-gesa, merasa dikejar waktu, namun tidak punya pegangan, serta pernah memiliki
trauma di masa lalu.
c.
Emosi
Secara emosi, subjek memiliki kecenderungan mudah
cemas, pemurung, punya tendensi agresif serta dorongan yang tidak konsisten,
emosi yang meledak-ledak, impulsif, mudah frustrasi, suka oposisi, emosi yang
tidak stabil, histeris, berlagak, mudah bertindak kasar, menyukai hal yang
mengenakkan, perasaan tegang dan rasa tidak aman.
d. Sosial
Subjek memiliki
kemampuan sosial yang cukup baik, hal ini terlihat dari kepribadian subjek yang
ekstrovert, terbuka dengan orang lain, lebih objekti dan lebih mudah
dipengaruhi oleh dunia luar. Ia cenderung mudah menyesuaikan diri dengan
lingkungannya, suggestible, dan suka menolong orang lain.
C.
Interpretasi
DAP
KESAN/DETAIL
|
DESKRIPSI
|
INDIKASI
|
Kesan umum
|
Gambar orang muda
|
Penghayatan tepat sesuai dengan
usianya
|
Lengkap semua bagian
|
Kecenderungan
ekshibisionis, merasa mampu diterima secara sosial, ketergantungan sosial
|
|
Rupawan (cantik)
|
Tendensi narsistis
|
|
Gembira
|
Bersemangat dan motivasi berprestasi
|
|
Lokasi
|
Di dasar/bawah
|
Perasaan insecure dan tak pasti,
berpikir pada hal-hal konkrit/ berpijak pada realita. Kebutuhan akan
kepastian/depresif, kurang usaha, mudah menyerah, di dominasi oleh a sadar,
kebutuhan keseimbangan, kontrol, menunjukkan keseimbangan, ketenangan, kestabilan
(secara demonstratif).
|
Cenderung ke kiri
|
Dikuasai emosi, menekankan masa lalu,
tendensi impulsif, self-oriented, introvert, banyak dikendalikan
ketidaksadaran, depresif.
|
|
Kualitas garis
|
Gambar terdiri dari garis dasar
|
Perasaan tak aman, ingin diakui
kelompoknya,
|
Rambut
|
Diulang-ulang
|
Suka menyerang
|
Alis
|
Teratur
|
Sebagai hiasan, refleksi sikap kritis
namun tidak menentang, kecenderungan kehalusan budi pekerti, kesopanan,
cenderung menjaga, memelihara
|
Mata
|
Mata berbentuk bulatan dengan tekanan
terkatup
|
Pertautan ide-ide, paranoid
|
Mulut
|
Bibir tebal dan melengkung pada gambar
wanita
|
Sedikit feminin, narcistic (senang
pada diri sendiri
|
Mulut bulat
|
Cenderung feminine
|
|
Mulut terkatup
|
Menutup diri tidak mau terbuka,
menolak ketergantungan, menekan permusuhan.
|
|
Telinga
|
Telinga tidak jelas
|
Kesadaran pribadi goncang, keraguan
|
Kurang tekanan
|
Penolakan terhadap kritik, menolak
pendapat orang lain, menghindari halusianasi pendengaran, lebih umum pada
orang lanjut usia dari pada orang muda.
|
|
Bahu
|
Lebar dan besar
|
Dorongan kekuatan fisik, merasa mampu
|
Ambisius, usaha untuk sukses,
mengharapkan perhatian dan kasih sayang
|
||
Tangan
|
Tangan disertai dengan jari-jari yang
jelas
|
Cenderung ke arah paraniod
|
Paha
|
Dengan bayangan/arsiran tebal
|
Kadang-kadang memberi gambaran
homoseksual, konflik dalam usaha menemukan jati diri, menenkankan pada
dorongan seksuil (pada wanita).
|
Kaki
|
Kaki sangat penting di gambar
|
Permusuhan yang ditekan,atau di
kontrol munculnya
|
Pakaian
|
Terlalu lengkap
|
Narsistis (pemujaan terhadap pakaian)
|
Ada tambahan ornamen
|
Compulsive.
|
|
Perhiasan
|
Perhiasan ada secara mencolok
|
Mencari perhatian, menunjukkan
penyesuaian yang bersifat psikopatik (kurang wajar) (bila digambar wanita
muda, lebih –lebih bila ditekankan bagian seksuilnya)
|
Ada ikat pinggang
|
Ketergantungan
|
Kesimpulan DAP
a.
Kognitif
Subjek S merupakan
individu yang memiliki pola pikir yang berpijak pada realita dan pada hal-hal
yang konkrit, memikiki pertautan ide-ide, namun terkadang banyak dikendalikan
oleh ketidaksadaran dan cenderung mudah paranoid atau curiga terhadap orang lain.
b.
Afektif
Subjek memiliki perasaan yang positif dengan merasa
mampu diterima secara sosial, punya semangat dan motivasi berprestasi yang
tinggi, memiliki kehaluasan budi pekerti serta sopan, suka memelihara dan
menjaga sesuatu. Ia juga cenderung memiliki
tendensi narsitik, cenderung ambisius terhadap usaha untuk mencapai
kesuksesan, namun juga memiliki konflik dalam usaha menemukan jati diri. Namun
demikian, ia cukup mampu menunjukkan keseimbangan, ketenangan, kestabilan serta
kontrol diri yang baik dan juga cenderung mengharapkan perhatian dan kasih
sayang dari sekitarnya.
c. Emosi
Secara emosi,subjek memiliki emosi yang
meledak-ledak dan mudah dikuasai emosi, namun ia beruasaha menekan dan
mengontrol diri serta menekan permusuhan. Ia cenderung individu yang
berorientasi pada diri sendiri (self-oriented), sering mengalami keraguan dan
sering terikat dengan masa lalu, compulsive, tergantung terhadap sesuatu, mudah
depresif, dan memiliki konflik dalam menemukan jati diri.
d.
Sosial
Dalam berhubungan sosial dengan orang lain, subjek
cenderung merasa dirinya mampu diterima secara baik oleh orang-orang di
sekitarnya, mudah menyesuaikan diri, dan suka mencari perhatian dari
sekitarnya. Ia juga cenderung merasa ingin diakui oleh orang-orang di dekatnya.
Namun dalam berinteraksi, ia cenderung kurang mampu bersikap terbuka dengan
pendapat orang lain serta menolak kritikan dari luar.
D.
Interpretasi
HTP
KESAN/DETAIL
|
DESKRIPSI
|
INDIKASI
|
Lokasi
|
Tengah, besar
|
Tendensi maniak, paranoid dengan waham
kebesaran
|
Atas pojok kiri
|
Tendensi agresif
|
|
Posisi
|
Jarak berdekatan
|
Perasaan dan hubungan interpersonal yg
hangat dengan orang tua
|
Komposisi
|
Dominan rumah
|
Menghargai peran ibu, fungsi ayah
otoritas kurang, peran ibu baik, presepsi baik
|
Rumah
|
Jendela tanpa kaca
|
Kecenderungan bermusuhan dan oposisi. Kemungkinan oral/anak
erotis
|
Pintu
rumah
|
Tidak tampak
|
Tidak dapat didekati secara
psikologis, renggang dlm keluarga
|
Aktivitas
orang
|
Meninggalkan rumah
|
Keinginan untuk meninggalkan kegiatan
keluarga
|
Lokasi
orang
|
Di luar pagar
|
Perasaan dikucilkan keluarga
Disiplin ketat. Kurang bebas melakukan
sesuatu
|
1.
Inquiry
HTP
“Anak kecil sedang menangkap kupu-kupu di sekitar rumahnya yang ada pohon
mangga di samping”
2.
Hasil
Observasi
Selama pengerjaan, subjek terlihat mengerjakan dengan spontan, sedikit
terburu-buru, yakin, dan tidak ragu-ragu saat menggambar. Waktu pengerjaanpun tidak lama, sekitar 15 menit.
3.
Kesimpulan
HTP
Dalam hubungan dengan keluarganya, subjek cenderung
memiliki perasaan seperti dikucilkan oleh keluarga. Hal ini terlihat dari
keluarga yang tidak utuh dengan hilangnya peran dari orang tua yaitu ayah dalam
keluarganya. Sosok ayah bagi subjek memiliki persepsi dan peran yang kurang
baik, ayah yang cenderung agresif, dan
kurang disukai subjek. Subjek begitu dekat dengan sosok orang tua (ibu), dan ia
memiliki persepsi yang baik terhadap peran ibunya. Namun, subjek juga merasa
cenderung ingin meninggalkan kegiatan dan hal yang berhubungan dengan keluarga
khususnya tentang sosok ayah, dan pernah merasakan disiplin yang ketat dari
didikan orang tuanya.
E. Kesimpulan Tes BAUM, DAP, dan
HTP
a. Aspek kognitif
Subjek S merupakan pribadi yang memiliki ide yang
luas, imajinatif, pikiran yang membara, dan memiliki kesadaran yang over-individual.
Memiliki arah pikiran yang berorientasi pada masa depan, tidak punya ketetapan
diri dalam bekerja atau berpikir, serta mempunyai kemampuan dalam
menghubungakan antara masa lalu dan masa yang akan datang. Ia juga memiliki pola pikir yang berpijak
pada realita dan pada hal-hal yang konkrit, namun terkadang banyak juga dikendalikan
oleh ketidaksadaran dan cenderung mudah paranoid atau curiga terhadap orang
lain.
b. Aspek Afektif
Subjek memiliki perasaan dengan
kepribadian yang mantap, punya semangat dan
motivasi berprestasi yang tinggi, namun cenderung mengarah
pada tendensi agresif dan ambisius
terhadap usaha untuk mencapai kesuksesan. Selain
itu, subjek cenderung begitu senang dan punya
perhatian yang besar dengan dirinya sendiri (narsis), punya keinginan merasakan sensasi, berkuasa, menyombongkan
diri, modis, trendi, dan juga cenderung mengharapkan perhatian dan kasih sayang
dari sekitarnya. Ia cenderung merasa tergesa-gesa, merasa dikejar waktu,
namun tidak punya pegangan, memiliki konflik dalam usaha menemukan jati diri, serta
pernah memiliki trauma di masa lalu. Selain itu, ia juga memiliki perasaan yang
positif dengan merasa mampu diterima secara sosial, memiliki kehalusan budi
pekerti serta sikap yang sopan, suka memelihara dan menjaga sesuatu. Ia juga
cukup mampu menunjukkan keseimbangan, ketenangan, kestabilan serta kontrol diri
yang baik.
c. Aspek emosi
Secara emosi, subjek memiliki kecenderungan mudah
cemas, pemurung, punya tendensi agresif serta dorongan yang tidak konsisten,
mudah dikuasai emosi dan emosi yang meledak-ledak, impulsif, mudah frustrasi, suka
oposisi, emosi yang tidak stabil, histeris, berlagak, mudah bertindak kasar, menyukai
hal yang mengenakkan, perasaan tegang dan rasa tidak aman. Namun ia berusaha
menekan dan mengontrol diri serta menekan permusuhan. Ia cenderung individu yang berorientasi pada diri sendiri (self-oriented), sering mengalami keraguan dan sering terikat dengan masa lalu, compulsive, tergantung terhadap
sesuatu, mudah depresif, dan memiliki konflik dalam menemukan jati diri.
d. Aspek Sosial
Subjek memiliki kemampuan sosial yang cukup baik,
hal ini terlihat dari kepribadian subjek yang ekstrovert dan cenderung merasa
dirinya mampu diterima secara baik oleh orang-orang di sekitarnya, terbuka
dengan orang lain, objektif, dan lebih mudah dipengaruhi oleh dunia luar dan suka mencari perhatian dari sekitarnya.
Ia cenderung mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya, suggestible, dan suka menolong orang lain. Selain itu, ia juga
cenderung merasa ingin diakui oleh
orang-orang di dekatnya. Namun dalam berinteraksi, ia juga cenderung kurang mampu bersikap terbuka dengan
pendapat orang lain serta menolak kritikan dari luar.
Berkenaan dengan hubungan dengan keluarganya, subjek
cenderung memiliki perasaan seperti dikucilkan oleh keluarga. Hal ini terlihat
dari keluarga yang tidak utuh dengan
hilangnya peran dari orang tua, yaitu ayah dalam keluarganya. Sosok ayah bagi subjek memiliki persepsi
dan peran yang kurang baik, ayah yang
cenderung agresif, dan kurang disukai subjek. Subjek begitu dekat dengan
sosok orang tua (ibu), dan ia memiliki persepsi yang baik terhadap peran
ibunya. Selain itu, subjek juga merasa cenderung ingin meninggalkan kegiatan dan
hal yang berhubungan dengan keluarga khususnya tentang sosok ayah, dan pernah
merasakan disiplin yang ketat dari didikan orang tuanya.



0 Komentar