Sinopsis Film Psikologi : I Am Sam


I AM SAM ...



Tokoh – tokoh :

Sam, Lucy, Tina, seorang wanita sebagai tetangga Sam, dan sam’s friends sesama penderita retardasi mental.

Film ini berkisah tentang seorang tokoh utamanya yaitu Sam, seorang pria yang secara fisik dewasa namun mengalami retardasai atau keterbelakangan mental layaknya seorang anak yang masih berumur 7 tahun. Ia bekerja sebagai custumer atau pelayan di kedai kopi Starbuck dan para rekan di tempat kerjanya mengenal dirinya dengan baik dan memahami keterbelakangan mentalnya. Sam dikelilingi oleh orang-orang yang cukup memperhatikannya, seperti empat temannya yang sesama penyandang handicap yang selalu menjadi teman bermain,jalan-jalan, atau menghabiskan waktu bersama.

Kisah pertama dimulai ketika Sam mendatangi rumah sakit untuk melihat kelahiran bayinya, yang dari film ini sepertinya hasil dari hubungan dirinya dengan pacar wanitanya (bukan istrinya). Sam sangat bahagia atas kelahiran bayinya, dan menamainya Lucy, namun tidak bagi wanita yang melahirkan Lucy. Ketika pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan, pacarnya meninggalkan Sam dan anak yanng sedang digendongnya ketika mereka hendak pulang menaiki bus. Pacarnya pergi dan tidak ingin bertanggung jawab atas bayi yang dilahirkannya itu.

Dari sinilah kemudian kisahnya berlanjut, bagian cerita dimana Sam dengan ketulusan dan kasih sayangnya merawat Lucy sepanjang waktu dari bayi hingga balita. Mengerjakan semua pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh wanita ketika merawat bayinya, Sam melakukannya. Membuat susu, mengganti popok, dan pekerjaan merawat bayi lainnya meskipun dalam bentuk kemampuannya yang terbatas dan sedikit jauh dari kestandaran cara merawat bayi sebagaimana mestinya, ditambah lagi dengan kondisi kekuranganpengetahuan Sam dan retardasi mentalnya. Misalnya, ketika suatu waktu Lucy yang menangis sangat lama, Sam tidak mengerti dan bingun akan kondisi tersebut dan mencoba untuk menenagkan bayinya. Kemudian, datang seorang tetangga sebelah Flat Sam, seorang perempuan dewasa yanng tinggal sendirian di flatnya. Ia mengerti akan kondisi bayi Sam, dan memberitahunya bahwa bagaimana cara merawat bayi sebagaimana mestinya, seperti bayi yang harus diberi susu tiap dua jam sekali agar ia tidak menangis.

Dari waktu ke waktu, hingga bertahun-tahun sampai Lucy berumur beberapa tahun Sam terlihat sangat bahagia dan merawat anaknya dengan penuh cinta dan kasih sayang, seperti ketika menceritakan kisah dongeng kepada lucy berkali-kali hingga ia tidur, bercanda, tertawa bersama, bermain di taman dengan penuh sukacita. Namun, waktu terus berlanjut, dan Lucy tumbuh menjadi gadis kecil yang terlihat ceria dan pandai. Seperti anak kecil pada umumnya, ia bertanya banyak hal tentang segala sesuatu yang ada disekitarnya yang membuatnya tertarik. Sampai pada waktunya ketika Lucy akan memasuki sekolah dan menemui serta mempelajari banyak hal disana. Dari sana, mulai terlihat adanya problem yang terjadi, ketika lucy yang beranjak usia 7 tahun, dan terlihat memiliki usia mental dan cara berpikir yang lebih pandai daripada Sam. Seperti yang disinggung sebelumnya, usia Sam yang terlihat 30-an secara fisik seperti pria dewasa umunya, berbanding terbalik dengan usia mentalnya yang ternyata masih seperti anak 7 tahun. Lucy mulai menyadari adanya sesuatu yang salah dan berbeda pada ayahnya dibandingkan dengan ayah lain pada umumnya. Terkadang ia merasa minder dengan kondisi tersebut, namun ternyata ia dapat mengkondisikan dan memahami kondisi ayahnya. Ia tetap menganggap Sam sebagai ayahnya dan sangat mencintainya, meskpun ada temannya yang mengejek sosok Sam yang terlihat aneh dan mengejeknya sebagai penderita retardasi mental

Dalam film ini, terdapat salah satu scene film yang membuat saya cukup terharu, yaitu ketika Sam mengajak Lucy ketoko sepatu bersama dengan keempat teman baiknya. Ia ingin membelikan Lucy sepatu baru untuk dikenakan Lucy di hari sekolah pertamanya. Iapun membebaskan Lucy untuk memilih sepatu apa saja yang ia sukai. Dan saat akan membayar , ternyata uangnya tidak cukup untuk membayar sepatu tersebut. Sam terlihat sedih saat itu, namun tiba-tiba keempat temannya berinisiatif membantu Sam dengan menyumbang dan memberi uang yang mereka miliki agar dapat membayar biaya sepatu Lucy. Sungguh saya merasa ini merupakan bentuk dari persahabatan yang indah, ketika seorang dengan keterbelakangan mental ternyata memiliki perasaan, kebersamaan dan empati yang sangat kuat terhadap sesama. Mungkin, mereka bisa kita katakan memiliki kekurangan dan keterbatasan dalam hal berpikir, namun mereka memiliki hati yang sangat kaya. Inilah salah satu hikmah dan pembelajaran yang saya dapatkan dari film ini.

Love is all you need....

TO BE CONTINUED..

1 Komentar

Sri Nurhayati mengatakan…
assalamualaikum.. kak, mau tanya.. :) kalau misalkan orangtua yang disabilitas itu apakah bisa mengurusi anaknya
?