Kritik Islam terhadap Psikoanalisis Freud




Kritik Islam terhadap Psikoanalisis Freud
Kepercayaan manusia terhadap kekuatan indera dan rasionya, mengilhami lahirnya berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Dengan mudah kita dapat menyaksikan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi modern terbukti telah mampu memecahkan berbagai problem yang dihadapi manusia. Karena prestasi-prestasi yang telah dicapai itu, maka sejumlah ahli memandang ilmu pengetahuan modern sebagai pilar peradaban manusia.Akan tetapi, ketika masyarakat akhirnya melihat dan merasakan akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang tidak membawa muatan ruh dan kemanusiaan itu, orang pun lalu mempertanyakan kembali sejauh mana kekuatan ilmu pengetahuan modern dalam menyejahterakan umat manusia. Gugatan terhadap epistimologi modern juga diajukan banyak orang apakah ilmu pengetahuan modern semata-mata mengakui ndra dan rasio sebagai alat untuk mendapatkan kebenaran dapat benar-benar dipertanggungjawabkan? 

Psikologi, sebagaii ilmu yang mempelajari  manusia, juga ikut terguncang. Sebagai ilmu pengetahuan modern, psikologi juga menempatkan akal dan indera sebagai alat untuk mendapatkan kebenaran. Bahkan saking inginnya mendapatkan data yang terjangkau akal dan indera, Psikologi modern hanya dibatasi sebagai ilmu tentang perilaku (yang tampak).Padahal, bagi orang-orang dari lingkungan Psikologi, adalah sesuatu yang sulit diterima apabila kita harus mengingkari hal-hal selain kenyataan empiris. Bahwa sesungguhnya, disamping kenyataan empiris terdapat pula kenyataan metaempiris. Bahwa untuk mendapatkan kebenaran tidak semata-mata dengan indera dan rasio, tapi juga dengan perasaan dan intuisi.Dalam perkembangan berikutnya, gugatan-gugatan tidak hanya dialamatkan pada epistimologi ilmu yang dipakai Psikologi. Gugatan-gugatan juga dialamatkan pada asumsi-asumsi dasar, teori-teori dan penerapan-penerapan Psikologi modern. Orang pun mempertanyakan kesahihan mazhab demi mazhab Psikologi berkenaan pandangannya tentang manusia. Ada tiga aliran besar dalam Psikologi, yaitu Psikoanalisis, Behavioristik, dan Psikologi Humanistik.Psikoanalisis, sebagai sebuah aliran besar dalam Psikologi, mempunyai jasa besar dalam mengungkap aspek ketidaksadaran manusia, disamping aspek kesadaran yang telah menjadi bahan perhatian psikologi sebelum Sigmund Freud. Temuan Freud tentang ketidaksadaran ini diakui sebagai temuan besar dalam sejarah Psikologi modern. Namun, aliran ini juga mempunyai banyak kelemahan (dan bahkan miskonsepsi) dalam memandang manusia. Dalam makalah ini, akan dibahas tentang kritik islam terhadap Psikoanalisis.

1. Konsep Manusia
Mazhab Psikoanalisa, berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang dikuasai oleh sistem unconsciousness (ketidaksadaran) dalam diri manusia. Menurut Freud, tokoh pendiri Psikoanalisa, strukktur jiwa manusia terdiri dari tiga unsur dasar, yaitu id, ego dan super ego. Sementara itu, psikis manusia juga memiliki tiga strata kesadaran yaitu consciousness (kesadaran), preconsciousness (ambang sadar), dan unconsciousness (tidak sadar). Wilayah yang paling besar dalam psikis manusia adalah wilayah unconsciousness (tidak sadar). Wilayah inilah yang mengendalikan seluruh sistem perilaku manusia. Dalam wilayah unconsciousness ini sistem id bersemayam. Sistem id ini merupakan dimensi psikis yang mengandung instink-instink bawaan, nafsu-nafsu primer, dan pengalaman-pengalaman traumatis masa kanak-kanak, utamanya umur di bawah lima tahun. 

Dalam pandangan Freud, semua manusia mempunyai id yang mengandung dua instink dasar, yaiut instink untuk hidup (eros) dan instink untuk mati (thanatos). Instink hidup bertujuan mengadakan pengikatan (binding), yakni mengadakan kesatuan yang semakin erat dan karena itu semakin mantap. Didalam usaha mencapai kemantapan, instink untuk hidup berjalan menurut psinsip kesenangan (beyond the pleasure principle). Dibawah pengaruh instink untuk hidup ini, semua perbuatan manusia didasarkan pada dorongan-dorongan untuk mencapai kenikmatan. Sedangkan instink mati, walaupun kerjanya tidak jelas benar, tetapi tanda-tandanya dapat dilihat dari tindak kekerasan atau merusak dari individu. 

Psikologi islami mencoba menjelaskan konsep manusia jauh lebih positif dari pada konsep yang ditawarkan oleh Freud. Manusia merupakan makhluk multi dimensional yang memiliki dimensi yang berasal dari Tuhan, yaitu al-ruh dan al-fitrah. 

Dimensi al-ruh ini membawa sifat-sifat dan daya-daya yang dimilki oleh sumbernya, yaitu Allah. Perwujudan dari sifat-sifat dan daya-daya itu pada gilirannya memberikan potensi secara internal di dalam dirinya untuk menjadi khalifah Allah atau wakil Allah. Khalifah Allah dapat berarti mewujudkan sifat-sifat Allah secara nyata dalam kehidupannya di bumi untuk mengelola dan memanfaatkan bumi Allah. Tegasnya bahwa dimensi al-ruh merupakan daya potensialitas internal dalam diri manusia yang akan mewujud secara aktual sebagai khalifah Allah. Sama halnya dengan dimensi al-ruh, bahwa dimensi al-fitrah juga bersumber dari Allah. Tetapi perbedaannya adalah bahwa dimensi al-ruh di pandang dari sudut kapasitas hubungannya dengan alam, sementara al-fitrah dipandang dari sudut kapasitas hubungan dengan Allah. Secara bahasa, al-fitrah memiliki beberapa makna yaitu suatu kecendrungan alamiah bawaan sejak lahir, penciptaan yang menyebabkan sesuatu ada untuk pertama kalinya, serta struktur atau ciri alamiah manusia, juga secara keagamaan maknanya adalah agama tauhid atau mengesakan Tuhan. Bahwa manusia sejak lahirnya telah memiliki agama bawaan secara alamiah, yaitu agama tauhid. Hal ini dipahami dari uraian-uraian al-Qur’an yang akan diketengahkan secara luas nantinya.  

2. Struktur Dasar Psikis Manusia
Struktur disini dimaksudkan adalah komposisi yang membentuk satu kesatuan yang utuh, integral, dan sempurna, di dalamnya terdapat unsur-unsur yang masing-masing unsur itu membentuk satu kesatuan yang utuh yang tak dapat dipisahkan tapi dapat dibedakan satu dengan lainnya. Jadi struktur psikis manusa dalam pasal ini berarti komposisi psikis (jiwa) yang terdiri dari beberapa bagian (unsur, elemen, dimensi) yang menyatu (bersenyawa) yang tak dapat dipisahkan satu dengan lainnya, namun secara tegas dan jelas dapat dibedakan karakteristik dan ciri khasnya.

Menurut psikoanalisa terutama Freud, struktur psikis manusia terdiri dari tiga sistem, yaitu id, ego, dan super ego. Id berisikan dorongan-dorongan instink bologis dan pengalaman-pengalaman traumatis masa kanak-kanak; ego merupakan kesadaran terhadap realitas kehidupan; dan super ego merupakan kesadaran normatif. Sementara itu, psikis manusia memiliki tiga strata kesadaran, yaitu consciousness (kesadaran), pre consciousness (bawah sadar, ambang sadar), dan unconsciousness (ketidak sadaran).

Cara pandang Psikoanalisa dalam menganalisis jiwa manusia manusia adalah secara vertikal ke bawah, sehingga Psikoanalisa disebut juga dengan Depth Psychology, yaitu cara memandang struktur jiwa manusia secara vertikal kebawah, atau dengan istilah populernya top down. Menurut Psikoanalisa jiwa manusia dapat diibaratkan bagaikan gunung es di samudera luas. Puncak gunung yang nampak di permukaan merupakan bagian kecil jiwa manusia yang disebut consciousness (kesadaran); sementara bagian yang terbesar dari gunung es itu tenggelam dan tidak yang merupakan bagian dari unconsciousness (ketidak sadaran); dan di antara keduanya consciousness (kesadaran) dan unconsciousness(ketidak sadaran) ada wilayah yang terkadang tampak dan terkadang tenggelam; seiring dengan naik turunnya gelombang lautan samudera tersebut. Bagian inilah yang menjadi wilayah preconsciousness (ambang sadar, bawah sadar). 

Id berada dalam wilayah unconsciousness (ketidak sadaran). Id ini merupakan dimensi jiwa yang mengandung instink-instink bawaan, nafsu-nafsu primer, pengalaman-pengalaman traumatis masa kanak-kanak yang ditekan ke dalam wilayah ketidaksadaran, dan merupakan sumber bagi energi psikis ego dan super ego. Id berbentuk semacam energi awal, asli, spontan, impulsif, irrasional, dan mencari kepentingan sendiri. Id berorientasi kepada kenikmatan dan menghindari serta menolak hal-hal yang tidak mengenakkan.

Ego berada dalam dua wilayah sekaligus; sebagian dalam wilayah consciousness (kesadaran) dan sebagian lagi dalam wilayah pre consciousness (ambang sadar). Ego dalam wilayah consciousness (kesadaran) mengandung prinsip realitas (the reality principle); sementara ego dalam pre consciousness (ambang sadar) mengandung unsur-unsur laten yang sewaktu-waktu dapat diingatkan dan muncul kembali. Ego menjadi jembatan untuk bagi id untuk merealisasikan dorongan-dorongannya dalam dunia nyata atau realita. 

Super ego menuntut idealitas perilaku dengan ketaatan kepada sistem moral lingkungannya, atau standar yang diterima masyarakat. Pada super ego berlaku prinsip idealitas. Super ego berkembang dari ego, karena ego dalam memenuhi dorongan-dorongan id yang berhadapan dengan realitas harus mempertimbangkan etis normatif lingkungan. Pada gilirannya terjadi adaptasi, akomodasi, dan modifikasi internal dan berkembang menjadi super ego.

Menurut psikologi Islami manusia adalah makhluk unik (istimewa). Ia merupakan makhluk satu wujud dua dimensi (two in one) yang terdiri dari jasmani dan rohani. Dimensi rohani yang disebut dengan al-nafs (jiwa) memiliki unsur-unsur; al-nafsu, al-‘aql, al-qalb, al-ruh, dan al-fitrah. Unsur-unsur ini membentuk komposisi (struktur) yang sistematis, utuh, integritas, dan sempurna, dan inilah struktur atau komposisi jiwa manusia dalam psikologi islami.

Pandangan Psikoanalisa yang meyakini jiwa manusia sebagai susunan id, ego, dan super ego merupakan bagian kecil saja dari komponen jiwa manusia dalam kaca mata Psikologi Islami. Komposisi itu memiliki sisi-sisi yang berdekatan dengan dimensi al-nafsu. Dimensi al-nafsu dalam Psikologi Islami memiliki sedikitnya tiga tingkatan; yaitu al-nafsu al-ammarah, al-nafsu al-lawwamah, dan nafsu al-mutmainnah. Jadi struktur jiwa manusia dalam Psikoanalisa menjadi struktur yang reduksionis, karena masih banyak dimensi lain yang belum terjangkau dalam struktur jiwanya. Konsep libido seksual dalam Psikoanalisa menjadi dapat diterima jika ditempatkan secara proposional dalam dimensi al-nafsu. Konsep ini sejalan dengan karakteristik dimensi al-nafsu dalam jiwa manusia. Tetapi menjadi tidak benar ketika libido seksual itu diyakini sebagai satu-satunya dimensi yang menguasai dan menggerakkan tingkah laku manusia. 

3. Motivasi Berperilaku
Bagi Psikoanalisa, motivasi utama manusia berperilaku adalah untuk memuaskan dorongan-dorongan yang bersumber dari id yang berada dalam unconsciousness (ketidak sadaran). Id berisikan nafsu-nafsu primitif, libido seksual atau naluri seks yang berasal dari instink eros, pengalam traumatis yang tertekan, bergejolak dashyat, dinamis, liar, energik, dan tak pernah reda. Inilah yang menggerakan manusia untuk melakukan sesuatu. 

Formula perilaku didasarkan pada konsep homeostatis, yaitu konsep perilaku yang bersumber pada equiblirium, yaitu kebutuhan keseimbangan. Perilaku muncul didorong oleh ketegangan internal yang terjadi akibat disequiblirium (ketidakseimbangan) fisis, seperti rasa lapar, haus, dorongan seks, dan lain-lain, yang segera membutuhkan penyeimbangan, yaitu makanan, minuman, hubungan seks dan lain-lain untuk menghilangkan ketegangan dan menghadirkan kembali equiblirium (keseimbangan) internal. Disinilah peran ego untuk dapat menyalurkan kebutuhan id itu sesuai dengan kenyataan yang ada; dan peran super ego untuk menyelesaikan pemuasannya sesuai dengan norma-norma yang ada pada lingkungan tersebut.

Jika ego tidak mampu memenuhi tuntutan id secara nyata, maka terjadilah kekecewaan dan kegagalan. Maka dalam jiwa terjadi proteksi dengan prinsip konstansi (constancy principle), yaitu jiwa mempertahankan kualitas ketegangan dan menekan ketegangan pada taraf serendah mungkin. Prinsip konstansi ini identik dengan equiblirium; yaitu dengan melepas atau memuaskan energi id, jika berhasil, dan menghindarkan dari bertambahnya ketegangan, jika tidak berhasil melalui cara mekanisme pertahanan diri (defensif mechanism). Defensif mechanism ini merupakan reaksi terhadap kekecewaan dan kegagalan dan berperan sebagai penyembunyi motif-motif dan tujuan-tujuan yang sebenarnya. Bentuk-bentuk defensif mechanism itu adalah repression, regression, projection, identification, fantasy, dan agression.Jadi, motivasi utama manusia dalam berperilaku adalah untuk memuaskan dorongan atau tuntutan yang bersumber dari dimensi id. Semua tingkah laku manusia apa pun bentuk dan jenisnya selalu berhubungan dengan id. Karena isi utama id adalah libido sexual, maka motivasi utama manusia juga adalah untuk memuaskan dorongan libido sexual tersebut.

Psikologi islami dalam memandang motivasi utama manusia berperilaku hampir sama dengan Humanistik, namun berada setingkat lebih tinggi dari motivasi manusia dalam Humanistik. Kalau motivasi utama manusia berperilaku bagi Humanistik adalah aktualisasi diri (self-actualization) sebagai motivasi utama (tertinggi), maka dalam Psikologi Islami motivasi utama tersebut adalah ibadah. Hal ini dipahami karena struktur psikis pada manusia dalam Psikologi Islami juga lebih lengkap dari struktur manusia dalam Psikologi Humanistik. Bagi psikologi Islami motivasi utama berupa ibadah itu, bersumber dari dimensi al-fitrah sebagai dimensi terakhir dari deretan dimensi-dimensi jiwa manusia. Psikologi Islami meletakkan landasan dan makna perilaku manusia untuk mencapai rida Allah (kemauan Allah). Jika pada Psikoanalisa memandang motivasi utama adalah untuk memuaskan dorongan libido sexual, maka Psikologi Islami memandang motivasi utama manusia berperilaku adalah untuk memenuhi kebutuhan bertingkat dan ibadah.  

4. Perkembangan Manusia
Pandangan Freud yang menyatakan bahwa manusia sangat dipengaruhimasa lalunya juga perlu dikritik. Menurut Freud, untuk memahami perilakuseseorang pada saat ini, kita harus merujuk kehidupannya di masa kecil. Pendapatini mempunyai kelemahan yang sangat mendasar karena hidup seseorang berartimenjadi determinist yang akhirnya meyebabkan fatalism. Jika kehidupan masakecilnya tidak baik, maka masa depannya tidak akan jauh berbeda, sehinggaseolah-olah tidak ada lagi harapan pada manusia untuk berkembang kearah yanglebih baik. Islam sangat berbeda dengan pandangan diatas. Meski Islammenekankan arti pentingnya masa kanak-kanak, tapi itu bukan segalanya karenamasih ada proses yang terus berlangsung untuk menuju kesempurnaan hidup.Islam adalah suatu agama yang memberikan kebebasan pada manusia untukberbuat sesuai dengan kehendaknya, dengan catatan bahwa semua itu akandiminta pertanggung jawaban. 

5. Perilaku Beragama
Dalam kaitannya dengan perilaku beragama, Freud melihat bahwa agama adalah reaksi manusia atas ketakutannya sendiri. Dalam buku Totem dan Taboo, Freud mengatakan bahwa Tuhan adalah refleksi dari Oedipus Complex kebencian kepada ayah yang dimanifestasikan sebagai ketakutan kepada tuhan. 

Dalam buku yang berjudul The Future of an Illusion (1927), Freud mengungkapkan bahwa agama dalam ciri-ciri psikologisnya adalah sebuah ilusi, yakni kepercayaan yang dasar utamanya adalah angan-angan (wishfulfillment). Manusia lari kepada agama disebabkan oleh ketidakberdayaan menghadapi bencana (seperti bencana alam, takut mati, keinginan agar manusia terbebaskan dari siksaan manusia lainnya).

Dari penjelasan di atas dapat diungkapkan bahwa orang melakukan perilaku beragama semata-mata didorong oleh keinginan untuk menghindari keadaan bahaya yang akan menimpa dirinya dan memberi rasa aman bagi diri sendiri. Untuk keperluan itu manusia menciptakan Tuhan dalam pikirannya. Tuhan yang diciptakan sendiri itulah yang akan disembahnya. Sementara bagimana ritual penyembahan terhadap Tuhan sangat tergantung dari contoh-contoh yang diperlihatkan oleh orang-orang yang terlebih dulu melakukannya.

Sedangkan dalam kajian Psikologi Islami, beragama adalah suatu hal yang wajib untuk dijadikan dasar dan pedoman dalam menjalani hidup. Islam memerintahkan umatnya untuk beragama (berislam) secara menyeluruh (QS 2 : 208). Setiap Muslim, baik dalam berpikir, bersikap maupun bertindak, diperintahkan untuk berislam. Esensi Islam adalah tauhid atau pengesaan Tuhan, tindakan yang menegaskan Allah sebagai Yang Esa, Pencipta yang Mutlak dan Transenden, Penguasa segala yang Ada. Tidak ada satupun perintah dalam Islam yang bisa dilepaskan dari Tauhid. Seluruh agama itu sendiri, kewajiban untuk menyembah Tuhan, untuk mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan Nya, akan hancur begitu tauhid dilanggar (Ismail R. Al-Faruqi, dalam Ancok dan Nashori). 


Daftar Pustaka
Ancok, Djamaludin. (1994). Membangun Paradigma Psikologi Islami. SIPRESS : Yogyakarta
Ancok dan Nashori. ( 1994). Psikologi Islami : Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi. Pustaka Pelajar : Yogyakarta
Aziz Rahmat. Corak-corak Psikologi Islam.
Baharuddin. (2004). Paradigma Psikologi Islam : Studi tentang Elemen Psikologi dari Alqur’an. Pustaka Belajar : Yogyakarta


0 Komentar