Tulisan kali ini merupakan bagian dari tugas mata kuliah saya pada semester sebelumnya, Pengantar Psikologi Islam. Dan ulasan kali ini merupakan hasil tulisan dari beberapa teman saya.
Istilah transpersonal pertama kali dipakai oleh Carl G. Jung dalam bahasa Jerman, yaitu uberpersnolich (transpersonal) yang artinya kurang lebih sama dengan collective unconscious, yaitu bentuk ketidaksadaran kolektif yang dimiliki oleh semua orang dari berbagai ras yang diwariskan dari generasi ke generasi. Secara etimologi, transpersonal berakar dari kata trans dan personal. Trans artinya di atas (beyond, over) dan personal adalah diri. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa transpersonal membahas atau mengkaji pengalaman di luar atau batas diri, seperti halnya pengalaman-pengalaman spiritual.
Menurut John Davis (dalam Jaenudin, 2012) psikologi transpersonal dapat diartikan sebagai ilmu yang menghubungkan psikologi dengan spiritualitas. Mengintegrasikan konsep, teori, dan metode psikologi dengan kekayaan spiritual dari bermacam-macam budaya dan agama. Konsep inti dari psikologi transpersonal ialah nondualitas (nonduality), suatu pengetahuan bahwa setiap manusia adalah bagian dari keseluruhan alam semesta, penyatuan kosmis yang memandang segala-galanya sebagai satu kesatuan.
Psikologi Transpersonal Dan Pengaruh Dari Psikologi Timur
Davis (2007) menempatkan posisi psikologi transpersonal di antara psikologi dan pengalaman spiritual. psikologi transpersonal bersifat longgar dan menerima masukan tentang permasalahan spiritual, baik dari tradisi kebijaksanaan dunia spiritual maupun psikologi modern. Tradisi dunia spiritual meliputi hinduisme, budhisme, dan taoisme ataupun dari agama yahudi, kristen, dan islam. Psikologi transpersonal ingin menciptakan sintesis dari kedua jawaban di atas.
Alan Watts dalam Psychotherapy East and West (1961) mengakui bahwa apa yang disebut “cara-cara pembebasan timur” mirip dengan psikoterapi barat, yaitu keduanya berusaha mengubah perasaan orang terhadap dirinya sendiri serta hubungannya dengan orang lain dan alam. Sebagian terapi barat menangani orang yang mengalami gangguan, sedangkan disiplin timur menangani orang normal dan memiliki penyesuaian sosial yang baik.
Dalam bahasa psikologi, tubuh adalah ketidaksadaran yang perilakunya dibentuk oleh mekanisme pengkondisian behaviorisme, nafsu adalah kebawahsadaran libidi yang diungkap mekanisme penyalurannya oleh psikoanalisa, akal adalah ego yang proses dan strukturnya diteliti oleh mazhab psikologi kognitif, dan kalbu adalah keatassadaran hati nurani yang eksistensinya dipelajari oleh psikologi humanistik. Adapun pengalaman-pengalaman roh itulah yang dipelajari oleh psikologi transpersonal. Roh adalah kepuncaksadaran manusia.
![]() |
| Robert Frager: Pendiri dan guru besar Psikologi Transpersonal, asal Amerika |
Makna Hidup dan Peak Experience
Berbagai penelitian menemukan bahwa pengalaman religius dapat mengubah sikap, tujuan, perasaan, perilaku, dan makna hidup, serta meningkatkan emosi positif. Kebergamaan sering melibatkan komponen emosi yang melibatkan komponen emosi yang melekat dengan pengalaman religius atau spiritual ini. sebuah penelitian menemukan adanya hubungan erat antara kebahagiaan dan pengalaman religius. Pengalaman religius yang dimaksud dalam hal ini adalah pengalaman emosi yang diperoleh melalui interpretasi religius atau spiritual. pengalaman religius bukan sekadar pengalaman seseorang menjalankan ritual agama.
Pengalaman religius dalam hal ini salah satunya ialah pengalaman ketika berhadapan dengan kematian (near-death experience/NDE). Pengalaman religius yang lebih umum berupa pengalaman kekaguman (awe) dan sukacita (elation), serta pengalaman puncak (peak experience), yang semuanya bermakna spiritual.
Kritik Islam Terhadap Psikologi Transpersonal
Dalam beberapa ayat dalam Al-Quran disebutkan tentang kejadian ruh, akan tetapi penjelasannya sendiri tidak terlalu jelas. Bahkan beberapa ayat yang di dalamnya menyebut kalimat ‘ruh’ termasuk sebagai ayat mutasyabihat yang mana ayat tersebut memiliki makna yang tidak ada penjelasannya. Dalam bukunya, Quraish Shihab pun lebih memilih menjelaskan ruh sebagaimana dalam Al-Isra;85.
Sehingga dalam hal ini antara Transpersonal dan islam memiliki perbedaan pandangan.
Pengalaman religius yang bukan sekadar hasil dari menjalankan ritual agama. Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran islam yang mana menjalankan ritual agama merupakan kewajiban. Memang seseorang menemukan hidayah atau jalannya seringkali tidak ketika dia berada dalam posisi beribadah, akan tetapi jika demikian bukan tidak mungkin untuk mencapai pengalaman puncak justru terjadi kesesatan belaka.
Daftar Pustaka
Jaenudin, Ujam. 2012. Psikologi Transpersonal. Bandung: Pustaka Setia.


0 Komentar