Psikologi Politik: REPRESENTASI SOSIAL DAN POLITIK


I. Pengertian Representasi Sosial
Kata ‘representasi’ dapat diartikan sebagai suatu tindakan menghadirkan atau merepresentasikan sesuatu baik orang, peristiwa, maupun objek lewat sesuatu yang lain di luar dirinya, biasanya berupa tanda atau simbol. Representasi ini belum tentu bersifat nyata tapi bisa juga menunjukkan dunia khayalan, fantasi, dan ide-ide abstrak (Hall, 1997).

Representasi adalah konsep yang digunakan dalam proses sosial pemaknaan melalui sistem penandaan yang tersedia seperti dialog, seni musik, video, film, fotografi, dan sebagainya. Intinya representasi adalah produksi makna melalui bahasa (Hall, 1997).

Menurut Mocivichi (dalam Prakosa, 2012) mengemukakan bahwa teori representasi sosial dapat dikategorikan sebagai sebuah pendekatan psikologis sosial sosiologis. Representasi sosial didefinisikan sebagai sistem nilai, ide-ide, dan praktik sosial yang secara simultan dapat menentapkan dua aturan sehingga anggota masyarakat dapat mengarahkan diri dalam dunia sosial dan material. Komunikasi yang terjadi antar anggota masyarakat dengan menggunakan kode-kode yang memungkinkan terjadinya pertukaran sosial dan kode-kode untuk memberi nama serta mengklasifikasikan berbagai aspek kehidupan sepanjang sejarah individual dan kelompok. Ide-ide yang kemudian menjadi keyakinan mengenai sistem politik dikomunikasikan antar individu dalam komunitas melalui ekpresi verbal dan non-verbal melalui pertukaran image (Wagner, dalam Prakosa 2012). Sehingga dapat disimpulkan bahwa komunitas adalah thingking society atau masyarakat yang berfikir dan berkomunikasi untuk mengkonstruksi objek sosial. Subjek atau individu yang berkomunikasi akan membentuk representasi sosial melalui hubungan triadik antara subjek-objek-subjek (Bauer dan Gasker, 1999; Jovchelovich, 1998; dalam Prakosa 2012).

Teori ini berkembang dari pemikiran Serge Moscovici (Laureat Balzan Prix 2003, dan Wilhelm Wundt 2006). Dari pandangan awal tersebut, Moscovici melalui teori Representasi Sosial telah mengubah tiga pandangan utama dalam ilmu sosial:
1. Pertama adalah bahwa ‘kenyataan tidak pernah bersifat tunggal dan obyektif’. ‘Kenyataan’ hanyalah representasi dari apa yang pernah dipikirkan dan diolah bersama secara sosial. Implikasinya adalah bahwa kenyataan selalu bersifat sosial, dan yang sosial selalu berwatak kontekstual pada keadaan budaya dan sejarah setempat.
2. Kedua adalah sosial (masyarakat), yang menurut Moscovici bukan hanya sekedar kumpulan individu, akan tetapi adalah sebuah dunia yang dinamis, berpola, dan akan selalu bergerak untuk mempengaruhi setiap anggotanya.
3. Ketiga adalah bahwa letak individu yang sebelumnya adalah sebuah entitas mutlak yang mampu menentukan arah dan tujuan bagi dirinya sendiri menjadi individu yang akan selalu lekat dengan masyarakat atau kelompoknya.

Dari tiga posisi awal tersebut teori ini mengantarkan pada kemungkinan baru untuk mempersoalkan hal paling mendasar dalam pemikiran ilmu sosial, yaitu bahwa kebenaran tidak akan pernah berwajah dan bersifat tunggal karena pada setiap tempat dengan konteks budaya dan sejarah yang berbeda akan selalu ada kebenaran yang didefinisikan dengan cara yang berbeda pula. Karena perangkat sejarah dan budaya yang paling nyata untuk berbicara tentang kebenaran majemuk adalah bahasa, maka melalui bahasa teori Representasi Sosial telah merambah wilayah yang selama ini terabaikan. Bahasa ternyata adalah haribaan dari setiap kenyataan, karena bahasa tersebut bukan hanya berfungsi sebagai instrumen yang mengatur dan menghubungkan seluruh kode dan organisasi sosial dari setiap masyarakat. Pada tingkat yang lebih kompleks, bahasa ternyata merekatkan setiap anggota masyarakat yang memakainya kepada tanah dimana seluruh kesejarahan dan kebudayaan bertumbuh dari setiap potongan kenyataan yang ujungnya akan membentuk pengertian kebenaran. Berbeda dengan dengan disiplin di bidang-bidang lain di dalam ilmu sosial, maka Representasi Sosial yang semula adalah sebuah teori yang bergerak di wilayah Psikologi Sosial, dengan perangkat bahasa dan kemampuannya untuk mencari dan memahami makna, telah menjadi sebuah meta teori yang mampu menyatukan banyak disiplin seperti psikologi, anthropologi, sosiologi, sejarah, komunikasi, dsb. 

Dalam posisi ini maka Representasi Sosial kemudian membuka wilayah Representasi Sosial dari sebuah teori sederhana (pengetahuan awam), dalam Psikologi menjadi sebuah metateori. Teori ini sendiri berkembang pesat di Eropa Barat dan mewarnai hampir seluruh bidang-bidang ilmu sosial lainnya, antara lain Sosiologi (Bourdieu, Baudrillard, etc), Anthropologi (Chombrad de Lauwe,Michel de Certeau, etc), dan ilmu-ilmu sosial lainnya seperti Ekonomi, Politik, Seni, Bisnis, dan sebagainya. Belahan dunia lain yang menerima dan mengembangkan teori ini adalah Amerika Selatan terutama dengan perjuangan politiknya untuk menentukan definisi atas masyarakatnya sendiri yang awalnya dimulai dari pemikiran di bidang sosiologi dan politik dalam teori Dependensi. Sama seperti Eropa Barat, di wilayah ini teori Representasi Sosial telah merambah hampir seluruh bidang pengetahuan. Masyarakat Anglosaxon sendiri baru mengembangkan teori ini dalam 10 tahun terakhir dengan dua basis utama, Inggris dan Kanada. Australia dan Selandia Baru mulai mengemas teori ini dalam wilayah kajian yang masih terbatas dan dengan jumlah ilmuwan yang terbatas pula. Asia adalah wilayah yang relatif sama sekali belum tersentuh oleh kajian dari teori ini. Beberapa orang mulai tertarik secara individual untuk menyentuh dan mempelajari masyarakatnya dengan teori ini seperti India, Filipina dan Indonesia, akan tetapi jumlah yang ada masih sangat kecil untuk mampu mengembangkan sebuah pemikiran sendiri seperti yang sudah terjadi di Amerika Selatan.

Definisi yang lebih sederhana, disampaikan oleh Jodelet (1984) yang menekankan pada pikiran umum (common knowledge) yang merupakan sebuah proses berpikir sosial yang berkembang melalui adanya interaksi dan komunikasi yang dijelaskan sebagai berikut: 
“… a specific form of knowledge –common knowledge‑ whose contents show the operation of generative processes and socially marked functions. More broadly, it refers to a form of social thinking. The social marking of contents or processes of representations refers to conditions and contexts in which those representation reveal themselves in communication and through which they circulated and the fuctions thoses representations serve in interactions with the world and with others (Jodelet, 1984 dalam Flick, 1998: 49).”

Proses Representasi Sosial
Proses pikiran umum atau representasi sosial dalam menangkap fenomena sebuah obyek terjadi melalui dua proses yang dikenal dengan nama anchoring dan objectification (Moscovici, 1984 dalam Flick, 1998) :
1. Proses anchoring mengacu kepada proses pengenalan atau pengaitan (to anchor) suatu obyek tertentu dalam pikiran individu. Pada proses anchoring, informasi baru diintegrasikan ke dalam sistem pemikiran dan sistem makna yang telah dimiliki individu. Obyek diterjemahkan dalam kategori dan gambar yang lebih sederhana dalam konteks yang familiar bagi individu.
2. Proses kedua, objectifications, mengacu kepada penerjemahan ide yang abstrak dari suatu obyek ke dalam gambaran tertentu yang lebih konkrit, atau dengan mengaitkan abstraksi tersebut dengan obyek‑obyek yang konkrit. Proses ini dipengaruhi oleh kerangka sosial individu, misalnya norma, nilai, dan kode‑kode yang merupakan bagian dari proses kognitif dan juga dipengaruhi oleh efek dari komunikasi dalam pemilihan dan penataan representasi mental atas obyek tersebut. 


 Tipe Representasi Sosial
Representasi sosial suatu obyek merupakan sesuatu yang dinamis dan memiliki efek yang membedakan. Moscovici (1988) membedakan tiga tipe representasi atas suatu obyek, yaitu representasi hegemonik, emansipatik, dan polemik: 
1. Representasi Hegemonik menunjukkan adanya makna yang sama atas suatu obyek yang dimiliki oleh setiap anggota kelompok. 
2. Representasi Emansipatik dihasilkan dari pertukaran dan interaksi dalam menterjemahkan suatu obyek, namun akhirnya menghasilkan makna yang berbeda dari makna semua (misalnya yang didefinisikan oleh para ahli) dan menghasilkan pengetahuan yang mundane (dangkal, umum). Misalnya adalah dalam pemaknaan penyakit mental.
3. Representasi yang ketiga, yaitu Representasi Polemik, adalah representasi yang timbul pada saat terjadinya konflik sosial dan politik dimana obyek dimaknai berbeda atau bahkan bertolak belakang. Berdasarkan penjelasan ini, tampak jelas tergambarkan bahwa sebuah obyek atau konsep di dunia ini akan dimaknai oleh kelompok kelompok masyarakat yang dapat saja berbeda.



II. Representasi Sosial Terhadap Politik

 Politik mempunyai berbagai arti sesuai dengan latar belakang dan kepentingan mereka yang membuat batasan arti itu. Bagi sebagian orang, terutama bagi orang “awam” politik diartikan sebagai kelicikan, tipu muslihat, atau hal-hal lain yang negatif atau tercela sehingga harus dihindari; juga diartikan sebagai pikiran, kehendak, ucapan, atau perbuatan penguasa (Bau, 2003).

Representasi sosial dengan ini akan memberi orientasi bagi individu untuk mempersepsi sebuah objek sosial dan memberi arah untuk berperilaku. Jodelet (1991) menginterpretasikannya lebih jauh sebagai  pengetahuan, teori, versi‐versi realitas yang diteliti sebagai posisi sosial yang dipegang oleh individu atau kelompok. Dinamika dari masyarakat yang berpikir  membentuk representasi sosial yang beraneka ragam dalam sebuah komunitas. Berdasarkan pendekatan struktural, Jodelet (1991) mengetengahkan konsep structuring nuclei atau inti organisator representasi‐representasi yang muncul membentuk sebuah struktur. Pendekatan struktural ini akan menjelaskan dinamika dari representasi sosial yang berbeda‐beda yang dimunculkan oleh kelompok‐kelompok yang berbeda‐beda pula dalam sebuah komunitas. Dinamika tersebut kemudian memungkinkan sebuah pemetaan dari sebuah representational field atau medan representasi, seperti yang diusulkan oleh Gillespie (1999) untuk memperolehkan gambaran mengenai realitas sosial dari sebuah fenomena. Dari sudut pandang ini, politik  adalah sebuah permasalahan yang dikontruksi secara sosial dalam sebuah masyarakat. Kesan masyarakat tentang politik sebagai bentuk dari representasi sosial diterjemahkan dalam praktek‐praktek sosial


III. Contoh Fenomena Representasi Sosial dalam Politik (di Amerika)

Penjelasan mengenai kajian yang mengangkat topik tentang Representasi Sosial dan Politik ini dapat pula dilihat dari salah satu riset yang dilakukan oleh Diomena (2015) yang mengangkat topik yang serupa, yaitu mengenai Representasi Sosial dan Politik di Amerika dalam lirik lagu ‘American Idiot’. 

Pada tahun 2004 kelompok musik punk/rock asal Amerika Serikat, Green Day, merilis sebuah lagu dengan tema sosial-politik berjudul American Idiot yang memiliki muatan kritik dan sindiran pada bait liriknya dalam mengambarkan keadaan sosial dan politik di Amerika ketika itu. Amerika ketika itu berada dalam situasi yang menegangkan pasca terjadinya peristiwa penabrakan pesawat sipil ke gedung WTC dan juga markas pentagon (9/11). Amerika ketika itu juga mengambil kebijakan untuk menginvansi Afghanistan dan Iraq. Rentetan peristiwa tersebut yang diikuti dengan tayangan dan pemberitaan yang besar di media massa serta propaganda-propaganda yang dilakukan pemerintah kemudian menimbulkan ketakutan dan juga kebingungan pada masyarakat.

Pada perilisannya di tahun 2004 lagu American Idiot menuai banyak kecaman serta reaksi keras dari masyarakat Amerika. Penggunaan kata American Idiot (orang Amerika idiot/bodoh) sebagai judul lagu dan penggunaan beberapa kata pada bait lirik lagu dianggap kasar dan juga melecehkan. Salah satunya adalah penggunaan kata “redneck” yang berarti sindiran terhadap masyarakat yang tinggal di wilayah bagian Selatan Amerika karena gaya hidup mereka yang dianggap konservatif dan rasis, serta dukungan politik mereka terhadap Partai Republik. Reaksi keras kemudian juga muncul dari stasiun radio dan juga beberapa toko musik di Amerika yang melarang lagu tersebut diputar dan dipasarkan karena kontennya yang dianggap kasar dan melecehkan.

Dalam berkomunikasi sebuah pesan dapat disampaikan dengan banyak cara termasuk melalui sebuah alunan musik. Musik baik itu yang berupa suara instrumen maupun yang berbentuk lagu dapat menjadi wadah untuk mengekspresikan dan menjadi cerminan dari hal-hal yang terjadi pada masyarakat. Lirik merupakan salah satu aspek penting yang terdapat dalam sebuah lagu. Lirik memegang peranan yang penting sebagai salah satu fungsi musik itu sendiri yaitu sebagai media penyampaian pesan. Di dalam penelitiannya tersebut Diomena (2015) lakukan untuk mengetahui tentang bagaimanakah representasi sosial dan politik di Amerika dalam lirik lagu American Idiot karya kelompok musik Green Day. Tujuan penelitiannya itu adalah untuk menginterpretasikankan tanda-tanda dalam lirik lagu tersebut yang merepresentasikan mengenai sosial dan politik di Amerika dengan cara mengurai makna denotasi, konotasi, dan mitos sesuai dengan teori semiotika Barthes. 

Berdasarkan hasil penelitian berupa analisis makna denotasi pada lirik lagu American Idiot maka secara sosial tergambarkan munculnya ketegangan berupa histeria atau reaksi berlebihan dari masyarakat Amerika dalam menanggapi informasi dari media. Dalam hal ini media yang dimaksud adalah media baru (media berbasis online berupa internet) dan media televisi. Secara sosial juga tergambarkan bagimana histeria tersebut merupakan bentuk ketegangan yang disebabkan oleh peredaran informasi yang dianggap sebagai sebuah pemikiran subliminal.

Berdasarkan hasil penelitian selanjutnya berupa sudut pandang masyarakat diketahui bahwa secara sosial tergambarkan bagaimana media memegang peranan penting dalam menentukan sikap masyarakat Amerika dalam menanggapi peristiwa 9/11 termasuk mengenai reaksi berlebihan serta stigma negatif dan tindak kekerasan yang muncul pada masyarakat.

Berdasarkan pada apa yang telah dijelaskan diatas maka dapat terlihat mengenai keseluruhan aspek sosial di Amerika yang direpresentasikan dalam lirik lagu American Idiot. Secara sosial terepresentasikan bahwa masyarakat Amerika adalah masyarakat yang tidak kritis terhadap media dan media telah menjadi bagian besar dari kehidupan masyarakat Amerika. Selanjutnya secara sosial juga terepresentasikan bagaimana media dalam konteks peristiwa 9/11 dan kebijakan pemerintah sesudahnya memegang peranan penting dalam menentukan bagaimana sikap masyarakat Amerika dalam menanggapi peristiwa tersebut termasuk menyebabkan munculnya ketegangan yang ditandai dengan sikap yang lebih reaktif terhadap peristiwa tersebut.

Berdasarkan pemaknaan secara denotasi pada lirik lagu American Idiot maka diketahui bahwa ketegangan yang muncul di Amerika berupa reaksi berlebihan dari masyarakat Amerika dalam menanggapi informasi dari media menggambarkan mengenai sisi politik dimana informasi yang menimbulkan ketegangan berupa reaksi berlebihan dari masyarakat Amerika tersebut juga turut menyebar ke negara-negara lain di luar Amerika yang oleh penulis lagu dianggap tidak ditujukan untuk maksud yang baik.

Selanjutnya dari pemaknaan secara konotatif tergambarkan bahwa Ketegangan di Amerika yang disebabkan oleh informasi dan isu-isu dari media yang kemudian tersebar luas hingga melampaui batas negara menandakan adanya koneksi diantara media yang secara politik menggambarkan bahwa informasi dan segala hal yang disampaikan oleh media merupakan sebuah bentuk propaganda yang ditujukan untuk mempengaruhi sikap banyak orang untuk menyeragamkan opini dan juga sikap masyarakat dunia sehingga apa yang dikatakan oleh media mendapat pembenaran dan juga dapat diterima oleh masyarakat.

Berdasarkan pada apa yang telah dijelaskan di atas maka dapat terlihat mengenai keseluruhan aspek politik di Amerika yang direpresentasikan dalam lirik lagu American Idiot. Secara politik terepresentasikan bagaimana Pasca peristiwa 9/11 pemerintah Amerika mengalami perubahan kebijakan politik yang signifikan yang ditandai dengan kebijakan untuk menginvansi Afghanistan dan Iraq yang juga dibarengi dengan berbagai macam propaganda untuk mendukung aksi tersebut. 

Secara politik juga terepresentasikan bahwa media menjadi salah satu alat propaganda pemerintah ketika itu dengan mengatur sirkulasi informasi melalui figur-figurnya yang berada di media massa. Selain itu dari sisi politik terepresentasikan bahwa partai Republik merupakan partai yang mendapat dukungan besar dari masyarakat di Wilayah Selatan Amerika. 


DAFTAR PUSTAKA

Diomena. 2015. REPRESENTASI SOSIAL DAN POLITIK DI AMERIKA DALAM LIRIK LAGU AMERICAN IDIOT, KARYA KELOMPOK MUSIK GREEN DAY. Jom FISIP Volume 2 No. 2.

Hall, Stuart. 1997. Representation: Cultural Representationts dan signifying. Practices. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

0 Komentar