PENGANTAR
Film yang berjudul “I Not Stupid Too” ini merupakan film yang bisa dikatakan sebagai jenis film edukatif, dimana kisah yang ada dalam film ini kaya akan pembelajaran, dan hikmah yang dapat diambil, khususnya bagi orang tua agar tidak keliru dalam mendidik anak-anaknya. Ada banyak hal yang dapat dianalisis dari film ini dengan menggunakan berbagai perspektif, namun dalam tugas ini diutamakan untuk menganalisis terkait tentang management kelas. Setting yang ada pada film ini memang terlihat sebagian besar berada di lingkungan rumah dan luar ruangan, dan sedikit yang menyoroti tentang situasi di dalam kelas. Namun, dari sedikitnya setting yang menyoroti ruanagn kelas dalam film ini, dari sumber yang ada terdapat cukup banyak hal yang dapat dianalisis yang berhubungan dengan konsep management kelas
ANALISIS FILM
Di dalam film ini terdapat dua tokoh kakak dan adik yang memiliki setting sekolah yang berbeda, dimana Tom sebagai kakak adalah siswa SMA, dan Jerry sebagai adik merupakan siswa SD. Dalam tugas ini, saya akan menganalis permasalahan yang ada dengan berdasarkan garis besar yang ada.
1. Isu management di kelas SD dan menengah (SMA)
Berdasarkan sumber dari buku psikologi pendidikan oleh Santrock, dikatakan bahwa manager kelas yang baik mendesain lingkungan fisik kelas untuk pembelajaran yang optimal, menciptakan lingkungan yang positif untuk pembelajaran, membangun dan menegakkan aturan, mengajak murid bekerja sama, mengatasi problem secara efektif, dan menggunakan strategi komunikasi yang baik. Kondisi yang terajadi pada kelas Jerry (SD) dapat dikatakan memiliki management kelas yang baik,dimana guru dapat membuat kondisi kelas yang menyenangkan dan kondusif, dapat mengajak muridnya bekerja sama ketika mereka latihan untuk mempersiapkan acara pertunjukan di sekolahnya, dan guru yang mampu dalam menjalin komunikasi yang baik dengan para siswanya.
Namun, hal ini berbeda dengan kondisi kelas Tom (SMA), dimana ada beberapa problem yang terjadi, seperti kurang mampunya peran guru dalam menjalin kedekatan dan komunikasi yang baik dengan para siswanya karena guru cenderung lebih sering memarahi, dan membentak muridnya, dan kurang mampunya guru dalam menggunakan metode pengajaran yang tepat dalam mengungkapkan apa yang ingin diajarkannya dalam mata pelajaran bahasa China, yang membuat murid tidak mengerti dan kurang memahami apa yang diajarkan oleh guru. Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa pada tingkatan kelas yang lebih tinggi memang cenderung memiliki problem yang lebih sulit dan komplek. Hal ini dikarenakan para siswa tersebut telah memiliki daya penalaran yang lebih tinggi dan idealisme yang tinggi dalam memutuskan sikap terhadap aturan yang diberlakukan di sekolah.
2. Penekanan pada instruksi dan suasana kelas yang positif
Saat ini, suatu management kelas dikatakan baik jika ditekankan cara mengembangkan dan memelihara lingkungan kelas yang positif yang mendukung pembelajaran(Ecersto, Emmer, & Worsham,2003). Guru yang membimbing dan menata kelas secara kompeten jauh lebih efektif daripada guru yang hanya menekankan pada aspek disiplin, yang hal ini terlihat dari cara yang digunakan pada kelas Jerry dimana murid diajarkan untuk bebas berekspresi saat latihan drama mereka, sehinga terlihat kondisi kelas menjadi lebih menyenangkan. Selain adanya mata pelajaran yang menekankan untuk serius di dalam kelas, merekapun memiliki kegiatan pelajaran yang menyenangkan, yang membuat mereka menjadi tidak kaku dan bosan.
Hal ini berbeda dengan yang terjadi pada kelas Tom, dimana aspek kedisiplinan dan aturan sangat ditekankan pada lingkungan kelas dan aturan sekolah mereka. Suasana kelas menjadi tidak kondusif untuk belajar karena tidak adannya bentuk suasana yang menyenangkan, bahkan sampai terjadi konflik dan perkelahian antar murid dan guru.
3. Prinsip Penataan Kelas
Bentuk setting suasana kelas SMA (Tom) terlihat mengikuti pola tradisional yaitu Auditorium, dimana seluruh meja dan kursi siswa di kelas berfokus dan menghadap di depan guru. Sedangkan pola kelas SD (Jerry) mengikuti pola gaya Auditorium-Offset, dimana selain bentuk sususan meja dan kursi yang seluruhnya menghadap guru di depan, pola susunannya juga terlihat menyilang, sehingga posisi murid duduk tidak berhadapan langsung dengan temannya.
4. Menciptakan lingkungan yang positif untuk pembelajaran
Strategi pengajaran yang dilakukan oleh guru Jerry (SD) berbentuk strategi otoritatif, dimana guru mengacu pada penekana aspek sosial dan perkembangan sosio-emosional para muridnya. Murid cenderung menjadi lebih mandiri, mau bekerja sama dengan teman, dan mereka menunjukkan penghargaan diri yang tinggi, misalnya dalam berekspresi melakukan peran mereka masing-masing dalam drama dan tidak menjadi malu.
Sedangkan gaya strategi pengajaran yang berlaku di kelas Tom (SMA) berbentuk otoritatif dan permisif, dimana guru terlihat lebih berfokus untuk menjaga ketertiban di kelas, bukan pada pengajaran dan pembelajaran. Guru terlihat bersikap agresif, sering memarahi dan berbicara dengan kasar ketika murid tidak mengerti tentang pelajaran atau ketika mendapat nilai bahasa Cina yang kecil. Hubungan komunikasi antara guru dan murid pun terlihat buruk, bahkan sampai terjadi perkelahian antar murid dan guru yang pada akhirnya menyebabkan masalah lebih besar,dimana salah satu murid dikeluarkan dan tom yang dihukum cambuk karena kesalahannya.
5. Menjadi komunikator yang baik
Di akhir cerita, terdapat situasi yang menggambarkan bahwa guru menyadari kekeliruan dan kesalahan dalam pengajarannya selama ini. Iapun kemudian berusaha untuk mengubah perilakunya dan bersikap lebih adaptif dengan muridnya. Iat tidak mudah marah ketika muridnya mendapat nilai kecil saat pelajaran bahasa cina yang diajarkannya, namun ia justru memuji dan mendorong muridnya untuk berusaha lebih baik lagi. Dalam hal ini, guru menggunakan strategi Prompts dan Shapping.

0 Komentar