Personal Jurnal tentang " Sekolah dan Perubahanku"


Nama saya Alya. Saya adalah anak pertama dari 5 bersaudara. Berkenaan dengan membahas hal yang berkenaan dengan sekolah, meskipun tidak terlalu begitu ingat, saya akan memulainya dari ketika saya disekolahkan di Taman Kanak-Kanak (TK). Seingat saya, sejak TK saya sudah menjadi anak yang cukup mandiri. Misalnya saja ketika berangkat sekolah, saat teman yang lain masih diantar oleh orang tuanya (yang merupakan hal yang wajar sebagai anak TK), atau bahkan orang tua mereka duduk manis di TK menunggu anaknya sampai pulang sekolah, lain halnya dengan saya yang sudah bisa berangkat sendiri ke sekolah tanpa harus ditemani orang tua. Memang seringkali saya diantar atau jemput ketika pulang, tapi ketika tidak ada orang tua untuk mengantar-jemput, sejak TK saya tidak merasa takut untuk pergi atau pulang sendiri. 

Ketika masuk Sekolah Dasar (SD), kebetulan ketika itu saya dimasukkan oleh orang tua saya ke sekolah yang letaknya agak jauh dari rumah, lantaran ketika awal mengurusi sekolah, SD yang dekat dengan rumah saya sudah tidak bisa lagi untuk menerima siswa baru. Karena letaknya agak jauh dari rumah, setiap hari saya diantar-jemput oleh orang tua atau sepupu saya ketika mereka tidak sempat. Ketika SD saya termasuk siswa yang berprestasi. Dari kelas satu sampai kelas tiga SD saya selalu mendapat peringkat pertama di kelas, namun sejak kelas empat ketika saya mengalami kecelakaan tabrakan motor yang katanya hampir menyebabkan saya gegar otak karena benturan di kepala saya waktu itu, prestasi sayapun agak menurun. Selama kelas empat SD, saya merasa kebingungan dalam belajar bahkan seperti mengalami amnesia dengan cara berhitung atau ketika guru menjelaskan suatu materi pelajaran. Dan sejak kelas lima, kondisi saya pulih dan prestasi sayapun kian membaik meskipun hanya mendapat peringkat tiga besar di kelas sampai kelas enam. Ketika SD, saya termasuk anak yang ceria, bersemangat, percaya diri, aktif, dan cukup pintar. Bahkan, saya termasuk siswa yang diandalkan oleh teman-teman saya di kelas. Saya memiliki banyak teman waktu itu. Selain itu, saya senang untuk bergaul dengan kakak-kakak atau tetangga yang lebih dewasa beberapa tahun dari saya. Saya ingat, ketika SD entah mengapa saya sangat ingin segera untuk menjadi seperti orang yang dewasa, karena saya merasa menjadi dewasa itu menyenangkan. Hal ini kemudian secara tidak langsung mengubah sikap saya menjadi sedikit dewasa. Seringkali orang atau teman yang baru kenal dengan saya mengira saya sudah sekolah SMP waktu itu. 

Oyah, berbicara tentang didikan orang tua saya dirumah, terutama ayah saya, beliau adalah sosok yang tekun, pekerja keras, ramah terhadap orang disekitar, dan bijaksana yang sangat saya sayangi. Sejak kecil, saya lebih dekat dengan ayah daripada ibu saya. Beliau merupakan sosok yang religius, sejak SD saya sudah diajak untuk shalat berjama’ah bersama keluarga walaupun hanya shalat magrib. Sayapun sering bersama teman saya pergi ke masjid yang jaraknya agak jauh dari rumah meskipun hanya untuk shalat magrib. Dan saya juga pernah disekolahkan di TPA oleh orang tua saya sejak saya masih TK sampai kelas tiga SD. Berbicara tentang ibu saya, meskipun cukup keras dalam mendidik saya, beliau sangat memperhatikan kebutuhan anaknya. Setelah melihat saya memiliki kemampuan dalam mengaji tilawatil qur’an ketika belajar di TPA, beliaupun mencari guru yang setiap sore datang kerumah untuk mengajarkan saya mengaji.

Setelah lulus SD, saya kemudian dimasukkan oleh orang tua saya ke sekolah pesantren di luar wilayah tempat saya tinggal. Pada awalnya saya merasa tidak betah bersekolah disana, lantaran didikan pesantren yang cukup keras yang menekankan siswanya untuk disiplin dan mengikuti aturan. Sayapun hanya dijenguk sekali atau dua kali sebulan oleh orang tua. Saya pernah berniat hanya ingin setahun bersekolah disana, namun orang tua saya tetap menekankan sampai selesai tiga tahun. Dan, setelah hampir setahun bersekolah disana, sayapun sadar akan sesuatu baik itu dari lingkungan, orang-orang dan guru yang mengajarkan dan menjadikan diri saya menjadi lebih baik. Selama tiga tahun disana, saya merasa menjadi pribadi baru yang berbeda, saya merasa bahwa masa SMP adalah masa keemasan dalam hidup saya. Saya cukup dikenal baik oleh teman-teman saya, baik yang saya kenal ataupun tidak karena sering mewakili pesantren saya ketika diadakannya lomba-lomba mengaji. Ketika SMP, saya tetap menjadi siswa yang berprestasi, baik itu di luar atau di dalam kelas. Selama tiga tahun saya selalu mendapat peringkat 3 atau 4. Sayapun sangat semangat dan fokus ketika belajar. Belum lagi, ketika ustad atau guru menjelaskan sesuatu, saya seringkali bertanya, berdiskusi, bahkan berdebat kepada suatu topik yang menarik bagi saya yang itu semua mendapat tanggapan baik dari mereka. Meskipun begitu, ketika SMP ada sisi lain yang muncul dari diri saya dimana saya lebih banyak untuk menghabiskan waktu untuk fokus belajar dan menyendiri, tidak begitu sering berkumpul dengan teman-teman yang lain. Karena di pesantren terdapat jadwal sehabis shalat isya diwajibkan untuk belajar, sayapun selalu menggunakan waktu itu untuk belajar dan jarang memilih untuk bergabung dengan teman yang lain untuk belajar bersama atau bercengkrama sambil makan dengan mereka. Walaupun cukup ramah dan dikenal baik oleh teman-teman, sesungguhnya saya merasa kurang dapat untuk bersikap hangat dan berprilaku akrab dengan teman-teman saya. Saya merasa ketika SMP bahkan SD saya sudah ingin dan menjadi pribadi yang berpikiran dewasa, saya sangat senang untuk berkumpul dengan orang-orang yang lebih dewasa dari saya baik secara fisik maupun pemikiran yang akan memperluas pengetahuan saya. Sebetulnya, sejak SD pun saya cukup akrab dan senang bergaul dengan orang-orang yang lebih dewasa dari saya. Saya ingat, waktu SD saya sangat antusias dan ingin segera menjadi dewasa. Ketika itu saya merasa bahwa menjadi orang dewasa itu sangatlah menyenangkan dan hebat. Namun, dibalik semua prestasi dan semua hal baik yang saya dapatkan selama di pesantren, saya ingat waktu itu sebenarnya sejak awal saya tidak ingin untuk bersekolah disana. Penah ketika masih kelas 1 SMP, saya meminta kepada orang tua saya untuk pindah dari sana karena tidak betah. Namun mereka menolak dan ingin saya untuk menyelesaikan sekolah SMP saya di pesantren sampai selesai. Mereka memberikan pilihan saya boleh sekolah di luar ketika SMA.

Selepas SMP, karena alasan sebelumnya sayapun akhirnya keluar dari pesantren dan memilih sendiri untuk bersekolah di SMA yang tidak begitu jauh dari rumah. Pada awalnya, seperti penjelasan sebelumnya orang tua saya tidak setuju dengan keputusan saya dan memilih saya lebih baik untuk meneruskan sekolah saya di pesantren. Tapi karena saya waktu itu berpikir untuk tidak mau lagi bersekolah di asrama seperti pesantren dengan alasan bosan, akhirnya orang tua saya dengan agak berat menerima keputusan saya. Akhirnya orang tua saya memasukkan saya di SMA Negeri favorit yang ada di daerah saya setelah sebelumnya berhasil masuk dari hasil tes masuk yang dilakukan. Saya sangat senang waktu itu dan memiliki niat bahwa saya ingin menjadi lebih berprestasi dan aktif ketika berada di SMA. Pada awalnya, ketika kelas satu SMA, saya sangat semangat dalam belajar dan cukup aktif dan berprestasi di sekolah. Saya merasa teman-teman kelas dan gurupun cukup menilai baik dan menyukai saya waktu itu, terlebih setelah mereka tahu saya pernah bersekolah di pesantren. Ketika kelas 1 semester 1 saya cukup berhasil mendapat juara 10 besar di kelas dengan nilai rapot peringkat ke-6. Awalnya saya agak kecewa karena di sekolah sebelumnya saya masih berhasil mendapat paling rendah peringkat ke-4. Namun, hal itupun sedikit membuat saya bangga lantaran di kelas saya memang persaingan untuk berprestasi cukup kuat dan saya senang masih bisa mendapat peringkat 10 besar. Namun itu hanya berlangsung setengah semester di kelas satu. Setelah itu, saya menjadi orang yang sangat berbeda dan prestasi saya menurun drastis. Saya menjadi lalai untuk belajar dan lebih suka menyendiri di kamar dan bergelut dengan laptop dan hp. Disitulah kemudian saya mengenal tentang dunia maya, berkenalan dengan orang-orang asing. Dari kebiasaan yang buruk itu pada akhirnya berefek pada diri saya yang membuat saya merasa sulit untuk menjalin hubungan afiliasi dan berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar saya dan bahkan menjadi cuek dan kurang peduli, yang itu semua membuat saya tidak nyaman dengan diri saya sendiri. Lalu, setelah mengenal dunia maya, menjadi kebalikannya entah mengapa saya merasa lebih nyaman dan mudah untuk berkenalan dengan orang lain yang belum pernah sayakenal dan temui sebelumnya.

Dan ketika saat kuliah yang baru satu semester saya jalani kemarin, saya merasa mengalami banyak ketimpangan dalam berbagai hal. Selama hampir satu tahun kuliah, entah kenapa saya masih merasa bingung, apa saja yang telah saya dapatkan selama satu tahun itu. Pada awal kuliah, saya bersemangat untuk belajar dengan tekun, berniat untuk aktif di kelas selama kuliah. Namun, semakin ketengah saya jalani, muncul kebingungan dan keraguan dari diri saya. Saya merasa ragu-ragu dengan jurusan psikologi yang saya ambil, saya merasa ragu, apakah saya mampu untuk menjadi seorang psikolog yang kompeten dan ahli di bidangnya, dengan kondisi kepribadian saya yang tertutup dan kurang dapat untuk menjalin hubungan dan bersosialisasi dengan orang lain. Saya merasa bukan seorang yang bertipe ramah kepada orang lain. Entah mengapa, sebenarnya dalam diri saya, saya ingin sekali menjadi pribadi yang bisa berkomunikasi secara baik dengan orang lain, yang membuat orang lainpun menjadi senang dan dapat mengenal saya dengan baik. Tapi entah kenapa saya merasa sulit. Saya telah mencoba mengikuti beberapa organisasi di kampus dengan niat agar saya bisa melatih kemampuan bersosial saya, tapi pada kenyataannya saya tetap belum mampu dan kemudian meninggalkannya. Saya merasa kurang bersabar dalam menjalani proses yang saya lakukan, lalu melepaskannya. Ketika berhadapan dengan orang lain, saya merasa sulit untuk memulai pembicaraan dan merasa lebih baik jika orang lain yang memulai pembicaraan atau sekedar menyapa. Ketika merasa tidak nyaman, saya lebih memilih untuk menghindar dari orang-orang dan berkutat dengan kesibukan diri saya sendiri. Ketika berbicara dengan orang atau teman yang kurang dekat, saya merasa gugup dan tidak mampu untuk bertatapan mata secara langsung. Saya bingung dengan kondisi yang saya alami ini. Ketika berada di kelas, saya sebetulnya ingin berbicara, bertanya, dan mengungkapkan apa yang ada dipikiran saya. Namun, begitu banyak pemikiran yang bercampur aduk yang kemudian menolak keinginan saya tersebut. Seringkali saya merasa iri dengan teman-teman saya yang mampu untuk berproses dengan baik, yang mampu berbicara di kelas dengan baik, dan berhasil mendapatkan suatu prestasi. Saya iri, karena saya merasa sebenarnya sayapun mampu untuk menjadi seperti itu bahkan dapat melakukan dengan lebih baik, tapi kenyataan yang ada mengapa yag terjadi sebaliknya. Terlalu banyak pemikiran yang menghalangi tindakan yang ingin saya lakukan.

Namun sekarang, di semester 3 yang sedang saya jalani saat ini, saya sungguh berniat untuk dapat melakukan dan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Saya ingin agar harapan-harapan dan keinginan saya yang belum tercapai sebelumnya dapat menjadi terealisasikan. Saya ingin memulai untuk berproses lagi, bersabar, dan semangat untuk menjalani pendidikan kuliah saya dengan sebaik-baiknya sampai saya sukses dan lulus dengan hasil yang dapat membanggakan kedua orang tua saya. Amiin.. Bismillah.. :)



0 Komentar