Makalah Jurnal Dalam Psikologi Agama tentang “Efektivitas Pelatihan Dzikir Untuk Menurunkan Afek Negatif Pada Mahasiswa”

A. PENDAHULUAN

Adanya perkembangan zaman yang begitu pesat serta berbagai perubahan-perubahan yang terus terjadi saat ini, memberikan dampak yang luas bagi manusia dalam berbagai aspek kehidupan, baik itu secara individu maupun dalam tatanan masyarakat. Misalnya pada aspek pendidikan yang ada di perguruan tinggi khususnya di Indonesia yang merupakan tatanan pendidikan paling tinggi, sebagai individu, mahasiswa mulai banyak dihadapkan pada berbagai problem kehidupan, dimana mereka mulai memiliki beban serta tanggung jawab yang besar pada kehidupan mereka baik dalam bentuk tanggung jawab pribadi maupun sosial yang akan menentukan masa depan mereka.

Kita sering mendengar istilah yang berbunyi “ di dalam tubuh manusia yang sehat, terdapat pula jiwa yang sehat dan kuat”. Istilah tersebut tidak sepenuhnya benar, ataupun dikatakan salah, dimana hal tersebut lebih dikatakan bersifat relatif, dimana itu akan tepat bergantung pada kondisi dan situasi yang ada. Mengingat kondisi yang terjadi saat ini dengan berbagai perubahan kehidupan yang terjadi, banyak ditemukan generasi saat ini, khususnya dalam hal ini para mahasiswa yang tidak dapat menghadapai problem yang mereka menghadapi secara baik. Sebagian besar diantara mereka yang memiliki fisik yang secara kasat mata terlihat sehat, namun pada kenyataannya ketika diteliti lebih jauh mereka memiliki masalah pada mental atau afek / afeksi yang negatif yang beraneka ragam, baik jenis gangguan yang ringan, sedang, ataupun berat yang pada akhirnya berdampak buruk bagi berbagai aspek hidupnya.

B. KONSEP DASAR TEORITIS

Pada umumnya setiap manusia memiliki dua aspek perasaan atau yang disebut dengan afeksi/ afek dalam dirinya, yaitu afek positif dan afek negatif. Menurut Watson, dkk (1988) menyatakan bahwa istilah afek positif dan negatif digunakan untuk menggambarkan bentuk emosi yang menyenangkan dan tidak menyenangkan pada diri individu. Afek positif digambarkan bagi seseorang yang mengalami suasana hati yang positif, berusaha mencari situasi yang menghasilkan suasana hati yang baik dan meninggalkan suasana hati yang tidak menyenangkan ( Tomkins dalam Plutchik & Kellerman, 1980). Orang- orang yang memiliki afek positif yang tinggi, secara konsisten menggambarkan diri mereka sebagai pribadi yang antusias, percaya diri, dan bergairah dibandingkan dengan orang yang memiliki afek positif yang rendah. Berkenaan dengan afek negatif digambarkan sebagai kecenderungan untuk mengalami suasana hati yang negatif yang biasanya terlihat dalam bentuk kecemasan dan depresi. Orang yang memiliki afek negatif yang tinggi lebih sering menggambarkan diri mereka dengan penuh rasa bersalah, takut dan gugup, dibandingkan dengan orang yang memiliki afek negatif yang rendah. Watson, dkk (1988) mengemukakan sifat yang menunjukkan afek positif dapat dilihat dalam bentuk : penuh pehatian, berminat, siap atau waspada, bahagia, antusias, bersemangat, bangga, kuat, aktif, dan teguh pendirian. Sedangkan afek negatif dapat dilihat dalam bentuk perasaan yang : tegang, kecewa, rasa bersalah, ngeri, memusuhi, mudah tersinggung, malu, gugup, gelisah, dan takut.

Pada tahun 1947 WHO menyebutkan bahwa individu dapat dikatakan sehat jika dilihat dalam 2 aspek, yaitu sehat secara fisik (organobiologik), dan sehat secara mental (psikologik). Kemudian, pada tahun 1948 pernyataan tersebut berubah dengan ditambahkannya aspek agama (spiritual), yang oleh American Psychological Association (APA, 1992) dikenal dengan istilah “bio-psycho-spiritual” (Hawari, 2003).

Di dalam jurnal yang sedang saya kaji dengan judul “Efektivitas Pelatihan Dzikir untuk Menurunkan Afek Negatif Pada Mahasiswa”, salah satu cara agar meghasilkan afek atau mental yang positif, digunakan metode spiritual dengan cara dzikir, yang merupakan salah satu bentuk ibadah yang sering dilakukan oleh orang beragama islam. Dzikir memiliki makna mensucikan, memuji, dan mengingat Allah, dimana ibadah ini merupakan suatu amalan ibadah yang praktis, karena dapat dilakukan saat kapan saja dan dimana saja agar jiwa manusia selalu ingat kepada Allah dan hatinya menjadi tentram. Hal ini sesuai dengan yang tercantum di dalam Al- Qur’an Surat Ar-Rad (13) ayat 28 : “ ingatlah, hanya dengan megingat Allah-lah hati menjadi tenteram”.

C. METODOLOGI

a. Identifikasi Variabel Penelitian

Penelitian ini menggunakan dua variabel, yaitu variabel bebas : pelatihan zikir, dan variabel tergantung/ terkontrol : afek negatif. Jalannya pelatihan zikir yaitu berlatih zikir secara bersama-sama yang dipandu dan dibimbing oleh seorang ustad dalam mengucapkan zikir dengan kondisi subjek duduk dengan tenang di lantai berkarpet, kondisi rileks sambil mejamkan mata dan berusaha untuk meresapi setiap kalimat zikir di dalam hati. Pelaksanaan zikir berlangsung selama 30 sampai 45 menit, dengan tata cara meliputi : niat, beristighfar, bersholawat, taqarrub, tadharru, liqa, ihsan, khauf, dan tawadhu, yang dapat dilakukan dengan menggunakan tasbih atau mengucapkan zikir di dalam hati.

b. Partisipan Penelitian

Subjek dalam penelitian ini berasal dari mahasiswa psikologi UNISSULA dan mahasiswa psikologi UNDIP Semarang, dengan karakteristik pemilihan subjek : berada pada semester III, beragama islam, memiliki skor sedang sampai tinggi pada skala afek negatif, dan bersedia secara sukarela mengikuti penelitian.

c. Alat- Alat Penelitian

Beberapa alat yang digunakan pada penelitian ini antara lain :

1. Alat pengumpulan data yaitu menggunakan Skala Afek Negatif.

2. Makalah tentang zikir.

3. Lembar persetujuan subjek.

4. Catatan harian zikir subjek.

5. Lembar evaluasi pelatihan.

6. Wawancara

d. Prosedur Penelitian

Prosedur atau langkah-langkah penelitian terdiri dari dua bagian, yaitu :

1. Tahap Persiapan Penelitian, yang terdiri atas : penyusunan Skala Afek, uji coba Skala Afek, penyusunan makalah/ materi zikir, persiapan pembimbing zikir dan observer, dan penyusunan rancangan eksperimen.

2. Tahap Pelaksanaan Penelitian, dengan langkah-langkah : pengukuran awal (pre-test), pembuatan kategorisasi dan seleksi subjek, pelaksanaan pelatihan zikir, pengambilan data post-test, dan pengecekan kembali data penelitian.

Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen pre-test dan post test control group design, dimana kelompok kontrolnya adalah mahasiswa Psikologi UNDIP, dan kelompok eksperimen yang digunakan adalah Mahasiswa Psikologi UNISSULA. Pengaruh perlakuan pada penelitian diamati secara berulang-ulang, yaitu sebelum pre-test dan segera setelah post-test, lalu empat minggu setelah perlakuan pada post-test ke-2.

D. HASIL PENELITIAN

Mahasiswa yang berperan menjadi subjek penelitian ini berjumlah 18 orang, yang kemudian dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 9 orang berada pada kelompok kontrol yang tidak diberikan perlakuan, dan 9 orang menjadi subjek eksperimen yang diberikan perlakuan, dimana semua subjek penelitian tersebut sebelumnya telah dipilih dalam kategori berada dalam kondisi afek negatif sedang sampai tinggi menggunakan Skala Afek.

Berdasarkan pada penelitian dengan berbagai metode dan langkah penelitian yang telah dilakukan, didapatkan hasil kesimpulan bahwa ada pengaruh dengan dilakukannya pelatihan zikir untuk mengurangi afek negatif pada subjek penelitian yaitu mahasiswa, yaitu dengan kisaran angka 46,3 % dalam menurunkan tingkat afek yang negatif. Selain itu, secara spesifik didapatkan hasil bahwa pada post-tes 1 ditemukan tidak ada hasil yang signifikan antara kelompok kontrol dan eksperimen pada pelatihan zikir, dan sebaliknya saat dilakukan post-test 2 didapatkan hasil bahwa terdapat perubahan yang signifikan antara kelompok kontrol dan eksperimen. Hal ini dapat disimpulkan bahwa dengan semakin tinggi intensitas atau semakin sering dilakukannya pelatihan zikir, maka akan memberikan pengaruh yang sangat berarti terhadap perubahan emosi dari afek yang negatif menjadi afek yang positif.

E. PANDANGAN TERHADAP JURNAL

Sesuai dengan judul pada jurnal ini, yaitu tentang “Efektivitas Pelatihan Dzikir Untuk Menurunkan Afek Negatif Pada Mahasiswa”, Ratna Supradewi melakukan penelitian untuk melihat adakah pegaruh dari dilakukannya pelatihan spiritual seperti zikir terhadap perubahan perasaan, emosi, atau afek yang negatif menjadi positif pada mahasiswa yang dilakukan percobaan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa memang terdapat pengaruh dari dilakukannya pelatihan zikir bagi mahasiswa dalam pengurangi afek negatif dan mengubahnya menjadi afek atau susasana hati yang positif.

Eksperimen yag dilakukan oleh peneliti dinilai sangat bagus, dimana peneliti berusaha untuk membuktikan dengan menghubungkan pengaruh antara kegiatan keagamaan yang bernilai spiritual seperti zikir, terhadap kondisi psikologis individu dalam segi afeksi , emosi, atau perasaannya Padahal, pada awalnya aspek agama merupakan bidang kajian yang sulit untuk diukur dan dibuktikan, sedangkan bidang kajian psikologi merupakan bidang ilmu yang objektif dan sangat memerlukan pembuktian terhadap hasil keilmuannya.

F. KESIMPULAN

Berdasarkan pada percobaan yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa terdapat perubahan yang signifikan dan berarti mengenai penelitian yang dilakukan, dimana terdapat pengaruh pelatihan zikir dalam mengurangi afek negatif pada mahasiswa. Selain itu, semakin tinggi intensitas atau semakin sering dilakukannya pelatihan zikir, maka akan memberikan pengaruh yang sangat berarti terhadap perubahan emosi dari afek yang negatif menjadi afek yang positif.

DAFTAR PUSTAKA
Jurnal Psikologi, Problem-Problem Pernikahan: Perspektif Psikologi Integratif- Interkonektif. 2010. Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Sosial Dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.






1 Komentar

Unknown mengatakan…
bagaimanakah dzikir dalam perspektif psikologi??