Dalam bukunya The Third Wave (1980), Alvin Tofler menjelaskan tiga karakteristik peradaban manusia: (1) peradaban yang dibawa oleh penemuan pertanian, (2) peradaban yang diciptakan dan dikembangkan oleh revolusi industri, dan (3) peradaban baru yang tengah digerakkan oleh revolusi komunikasi dan informasi.
Sejak memasuki era revolusi industri pada abad ke-18,terjadi perubahan besar pada pola hidup yang dimiliki oleh masyarakat Eropa,yaitu munculnya industrialisasi. Efek yang diakibatkan dari Industrialisasi ini bukan saja telah membawa manfaat seperti pemenuhan kebutuhan teknis yang memudahkan manusia, tetapi juga membawa problem bagi masa depan manusia. Industrialisasi ternyata menuntut biaya material, mental, kultural dan moral. Rusaknya lingkungan alam yang diakibatkan oleh ekploitasi yang berlebihan, urbanisasi yang melahiran pengangguran, kemiskinan dan kriminalitas, sakit mental seperti stress dan kekerasan, penyalahgunaan narkoba, termasuk penjajahan,merupakan akibat-akibat yang ditimbulkan dari proses industrialisasi tersebut.
Pasca periode revolusi industri memberikan dampak yang berkelanjutan terhadap periode berikutnya. Memasuki era globalisasi di abad ke-21 yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah memberikan manfaat dalam memenuhi kebutuhan dan memberikan berbagai kemudahan yang dapat ditemukan hampir di setiap sisi kehidupan manusia.Sebagai contoh,adanya perkembangan teknologi dalam bidang informasi dan komunikasi berupa internet telah berhasil membawa perubahan besar dalam pemenuhan kebutuhan akan kecepatan mendapatkan informasi dan berkomunikasi antar manusia di seluruh dunia tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.Namun hal tersebut menjadi berbalik ketika kini,banyaknya fenomena sosial dan perubahan perilaku secara psikologis yang terjadi di masyarakat yang menandakan bahwa manusia modern yang ada saat ini tidak lagi mampu mengendalikan peradaban yang dibangunnya sendiri,yang menjadikannya sebagai budak dari teknologi. Klaim manusia modern yang disandang semakin menunjukkan bahwa banyaknya masalah yang dihadapi manusia berbanding dengan kemodernan yang dicapai saat ini.
☁☁
Adanya istilah ‘masyarakat modern’ saat ini yang dilatarbelakangi oleh era globalisasi dan teknologi,memang telah memberikan kemudahan secara nyata terhadap kebutuhan manusia.Namun,dibalik itu semua sering kita menjumpai banyak paradoks dalam kehidupan.Semakin banyaknya informasi dan kemajuan yang didapat,seharusnya hal tersebut menyebabkan semakin baiknya kemampuan dalam melakukan pengendalian.Namun yang terjadi sebaliknya,semakin majunya perkembangan teknologi yang ada saat ini,misalnya teknologi pada bidang informasi dan komunikasi,hal ini justru menimbulkan persoalan-persoalan baru yang tidak terkendali,yang berdampak negatif pada berbagai macam aspek kehidupan manusia,baik bagi kehidupan sosial,maupun individual.
Tentu kita sering menjumpai berbagai macam situs jaringan sosial seperti facebook,twitter,dan sebagainya yang merupakan bentuk dari perkembangan teknologi di bidang informasi dan komunikasi.Bentuk dari teknologi internet ini sangat digemari oleh masyarakat dunia saat ini karena seseorang dapat berkomunikasi secara mudah dan cepat dengan siapapun tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.Dengan kata lain,secara rasional kita berpikir kemajuan tersebut dapat memberikan kemudahan bagi individu dalam menjalin hubungan sosial dengan orang lain dan memperluas pertemanan.
Namun,bertolak belakang terhadap fenomena berikut yang mungkin sering kita temui.”Ann adalah anak yang memiliki kepribadian yang introvert,malu, pendiam,dan kurang berhasil dalam menjalin hubungan sosial lalu pada akhirnya dijauhi oleh teman-temannya.Ia kemudian banyak menghabiskan waktunya dan lebih menyukai untuk bereksplorasi di internet,berchatting ria dengan kenalannya di dunia maya dengan karakter yang sangat berbeda dengan karakter aslinya sebagai gadis yang malu dan tidak banyak bicara. Akibatnya, lama kelamaan ia semakin jauh dengan kenyataaan sosial yang ada, bahkan tidak bisa menerima dirinya apa adanya dan semakin tidak memahami siapa dirinya.Ia tetap tidak dapat menjalin komunikasi dengan baik dengan teman-teman di dunia nyatanya,dan lebih menyukai dan banyak bicara dengan teman yang ada di dunia maya.”
Di internet,terdapat salah satu situs yang membahas tentang ‘Pengaruh Facebook Terhadap Psikologis Seseorang’,yang dijelaskan sebagai berikut :
"...munculnya perilaku abnormal seperti menutup diri dari adanya interaksi antar sesama yang mengakibatkan psikologis seseorang kurang berperan dalam kehidupan nyatanya.Media elektronik, seperti Komputer,laptop, atau hp juga menghancurkan secara perlahan-lahan kemampuan kalangan dewasa muda untuk mempelajari kemampuan sosial dan membaca bahasa tubuh.Maksudnya adalah seseorang akan mengalami pengurangan interaksi dengan sesama mereka dalam jumlah menit per hari-nya menyebabkan jumlah orang yang tidak dapat diajak berdiskusi mengenai masalah penting, menjadi semakin meningkat setiap harinya Perilaku berkurangnya aktifitas berinteraksi langsung secara face to face terhadap orang lain juga dapat meningkatkan risiko kesehatan yang serius, seperti kanker, struk, penyakit jantung, dan dementia (kepikunan). Tingkah laku abnormal sebagai akibat dari ketergantungan dengan jejaring sosial dunia maya, karena pada dasarnya dunia maya bukanlah sebuah kehidupan “nyata”. Apa yang ada dalam dunia maya tidak semuanya ada dalam dunia nyata, bahkan apa yang ditampilkan dalam jejaring sosial tersebut, biasanya juga adalah sebuah kepalsuan. Misal saja, seseorang yang pendiam di dunia nyata, tetapi sangat rajin update status setiap saat. Ini adalah contoh bahwa aktivitas dunia nyata dan dunia maya dalam mengungkapkan sisi-sisi kepribadian sangat berbeda..”
Problem yang mendasari fenomena tersebut menurut Erich Fromm disebut dengan Gejala Alienasi,yaitu salah satu jenis penyakit kejiwaan yang ditandai oleh perasaan keterasingan terhadap sesuatu, baik sesama manusia, alam, lingkungan, Tuhan, bahkan terasing terhadap dirinya sendiri,dimana keterasingan tersebut membangun ideologi bahwa dunia dan segala sesuatu dipandang sebagai realitas kebendaan (objektivikasi) yang berbeda dan saling terpisah. Keterasingan itu pada awalnya dilatarbelakangi oleh cara pandang materialisme, konsumerisme, hedonisme, dan segala hal yang ditimbulkan oleh modernisasi global. Alienasi juga diartikan sebagai suatu kondisi dimana seseorang tidak lagi merasa dirinya sebagai miliknya sendiri, sebagai pusat dunianya sendiri, melainkan telah terenggut oleh mekanisme diluar dirinya yang tidak lagi bisa terkontrol,yang di dalam kasus ini berupa kemajuan teknologi internet yaitu dunia maya.Seseorang yang dilanda alienasi akan merasakan suatu kebingungan, keterasingan, dan kesepian karena merasa apa yang dilakukannya bukan atas kehendaknya melainkan tuntutan dari luar yang tidak dikehendaki bahkan tidak diketahuinya sama sekali atas apa yang ia kerjakan.Pada beberapa kasus, orang yang dilanda alienasi akan merasa dihantui ketakutan sehingga tidak bisa beristirahat dengan tenang, bersikap putus asa, dan menganggap hidupnya tak lagi bermakna,bahkan sampai memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri.
Seperti halnya fenomena sosial yang terjadi di Korea Selatan.Negeri ginseng tersebut dikenal sebagai negara dengan kasus bunuh diri tertinggi di dunia.Apa sebenarnya yang menyebabkan hal tersebut terjadi?
Korea Selatan,dewasa ini dikenal sebagai negara yang mengalami peningkatan dalam bidang ekonomi,teknologi,dan pendidikan di tingkat rangking dunia,namun pada kenyataannya masyarakatnya tidaklah hidup dengan bahagia.Hampir setengah warga Korea tidak memiliki agama, sehingga ketika mengalami depresi, penghargaan mereka terhadap kehidupan jadi rendah.Tekanan untuk sukses di Korea pun sangat tinggi. Bagi seorang pekerja, sukses berarti bekerja di salah satu perusahaan konglomerasi besar yang dimana,untuk mencapai karir dan reputasi yang tinggi mereka harus membuktikan diri sebagai pekerja keras. Itu berarti mereka harus bekerja dalam jam waktu yang panjang meskipun tidak diwajibkan. Mereka juga orang-orang yang rela tidak mengambil cuti atau tetap bekerja meskipun tanggal merah. Pekerja yang suskes membuktikan bahwa mereka adalah orang yang mau berkorban untuk perusahaan dan mau mengesampingkan kepentingan pribadi serta keluarga.Begitupula bagi seorang pelajar, sukses berarti mereka bisa masuk ke tiga universitas paling bergengsi dalam negeri.Persiapan untuk lulus test masuk ke 3 universitas ini bahkan dimulai ketika mereka masih berusia 4-5 tahun. Puncaknya adalah ketika mereka menduduki tingkat SMA, para pelajar keluar rumah jam 6 pagi dan kembali jam 11 atau 12 malam untuk belajar sebentar sebelum tidur.
Tidak heran jika di kalangan negara maju kebahagiaan masyarakat Korea sangat rendah sementara angka bunuh dirinya menempati rangking paling tinggi di dunia. Banyak pekerja yang bunuh diri karena buruknya perekonomian. Pelajar bunuh diri karena gagal ujian masuk perguruan tinggi. Para orang tua sepuh bunuh diri karena sakit dan kesepian,dan berbagai alasan lainnya yang itu semua merupakan bentuk dari Alienasi.
☁☁
Kesimpulan
Adanya perkembangan teknologi yang semakin pesat pada era globalisasi seperti sekarang ini,selain bermanfaat dalam memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia,juga memiliki berbagai kerugian tersendiri.Segala sesuatu akan menjadi bernilai positif ataupun negatif tergantung dari bagaimana manusia menggunakannya secara baik atau sebaliknya.Terjadinya gejala Alienasi merupakan akibat dari pemikiran dan perilaku keliru yang dilakukan oleh manusia dalam menggunakan sumber daya berupa kemajuan teknologi yang ada.Hal ini dapat diminimalisirkan dengan cara merubah pemikiran dan perilaku manusia untuk menggunakan berbagai teknologi yang ada secara bijak dan digunakan sesuai dengan kebutuhan.Selain itu,juga diperlukan keyakinan individu terhadap real self untuk menjadi dirinya yang sesungguhnya,dan tidak mengagung-agungkan ideal selfnya,serta meningkatkan spiritualitasnya terhadap Tuhan,yang merupakan sumber kekuatan dari segala sesuatu.
Sumber :

0 Komentar